Senin, 01 April 2013

EKOSISTEM LAUT DALAM


2.1. Pengertian Laut Dalam
Laut dalam merupakan semua zona yang terletak di bawah zona eufotik (zona bercahaya) mencakup zona batipelagis, abilsal dan hadal (Nontji,2002). Bagian dari lingkungan bahari yang terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka dan lebih dalam dari paparan benua (>200m)
Allah berfirman di dalam Al Qur'an yang artinya:
Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (Al Qur'an, An-Nuur, 24:40)
Ayat ini menyebutkan kegelapan yang dapat ditemukan di laut dalam, di mana jika seseorang menjulurkan tangan ia tak akan bisa melihatnya. Kegelapan di dalam lautan dan samudera ditemukan sekitar kedalaman 200 meter ke bawah. Pada kedalaman ini, hampir-hampir tidak ada cahaya lagi. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak ada cahaya sama sekali.
Laut dalam adalah lapisan terbawah dari lautan, berada dibawah lapisan thermocline pada kedalaman lebih dari 1828 m. Sangat sedikit atau bahkan tidak ada cahaya yang dapat masuk ke area ini, dan sebagian besar organisme bergantung pada material organik yang jatuh dari zona fotik. Karena alasan inilah para saintis mengira bahwa kehidupan di tempat ini akan sangat sedikit, namun dengan adanya peralatan yang dapat menyelam ke kedalaman, ditemukan bahwa ditemukan cukup banyak kehidupan di arena ini.
Di tahun 1960, Bathyscaphe Trieste menuju ke dasar dari Palung Mariana dekat Guam, pada kedalaman 35.798 kaki (10.911 m), titik terdalam di bumi. Jika Gunung Everest ditenggelamkan, maka puncaknya akan berada lebih dari satu mil dari permukaan. Pada kedalaman ini, ikan kecil mirip flounder terlihat. Kapal selam penelitian Jepang, Kaiko, adalah satu-satunya yang dapat menjangkau kedalaman ini, dan lalu hilang di tahun 2003.
Hingga tahun 1970, hanya sedikit yang diketahui tentang kemungkinan adanya kehidupan pada laut dalam. Namun penemuan koloni udang dan organisme lainnya di sekitar hydrothermal vents mengubah pandangan itu. Organisme-organisme tersebut hidup dalam keadaan anaerobik dan tanpa cahaya pada keadaan kadar garam yang tinggi dan temperatur 149 oC. Mereka menggantungkan hidup mereka pada hidrogen sulfida, yang sangat beracun pada kehidupan di daratan. Penemuan revolusioner tentang kehidupan tanpa cahaya dan oksigen ini meningkatkan kemungkinan akan adanya kehidupan di tempat lain di alam semesta ini.
Ekosistem air laut luasnya lebih dari 2/3 permukaan bumi ( ±70 % ), karena luasnya dan potensinya sangat besar, ekosistem laut menjadi perhatian orang banyak, khususnya yang berkaitan dengan Revolusi Biru. Ekosistem laut dalam merupakan ekosistem laut yang tidak terjangkau oleh sinar matahari. Oleh sebab itu, pada ekosistem ini tidak mungkin hidup produsen yang fotoautotraf. Komunitas yang ada pada ekosistem laut dalam kemungkinan adalah hewan-hewan saprovora, karnivora, dan detritivora. Karena terbatasnya sumber materi dan energi, maka keanekaragaman jenis makhluk hidup pada ekosistem laut dalam paling rendah dibandingkan ekosistem laut lainnya.

2.2. Kondisi Fisik Lingkungan Laut dalam
Ekosistem laut dalam memiliki perbedaan yang sangat besar dibandingkan ekosistem laut dangkal. Keadaan tersebut juga mempengaruhi individu-individu biota laut dalam tersebut. Cahaya matahari hampirdikatakan tidak menembus laut dalam sehingga kondisi laut dalam tersebut gelap gulita dan dipastikan hampir tidak ada proses fotosintesis. Organisme yang hidup di perairan  ini  merupakan  organism yang  sangat hebat, karena  dapat bertahan hidup dengan kadar  oksigen yang sangat minim.
2.2.1. Tekanan Hidrostatis
Tekanan hidrostatik adalah berat kolom air yang biasa diukur dalam atmosfir (atm). Tekanan hidrostatik dapat digambarkan sebagai berikut:
P = r . g . z
dimana:
P = tekanan hidrostatik (tekanan/unit area)
r = densitas air (g/cm3)
g = percepatan gravitasi (980 cm/sec2)
z = kedalaman dibawah permukaan air (cm)
Tekanan hidrostatis di lingkungan laut dalam (>300m) sangat tinggi karena tekanan hidrostatik bertambah secara konstan seiring dengan bertambahnya kedalaman air. Setiap kedalaman 10 m tekanan hidrostatik bertambah sebesar 1 atm yang setara dengan 1,03 kg/cm2 atau 14,7 lbs/in2. Dengan demikian pada kedalaman 100 m ikan akan mengalami tekanan sebesar 10 atm atau setara dengan 10,03 kg pada setiap luasan 1 cm2 dari tubuhnya yang berlaku secara proporsional, artinya tekanan hidrostatik yang dialami ikan tersebut sama pada seluruh bagian tubuhnya.
Besar tekanan hidrostatik pada permukaan air laut cenderung berubah-ubah setiapwaktu yang  disebabkan oleh adanya ombak, sedangkan pada bagian yang lebih dalam tekanan secara konstan bertambah sesuai dengan bertambahnya kedalaman. Tekanan hidrostatik berhubungan erat dengan mekanisme pengaturan daya apung pada ikan. Ikan-ikan yang melakukan migrasi vertikal atau hidup dekat permukaan harus mampu mengatur daya apungnya untuk mengimbangi perubahan tekanan hidrostatik yang
drastis.


2.2.2. Kadar Oksigen
Sumber oksigen utama di perairan laut dalam berasal dari air permukaan laut di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen. Kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut (Wardoyo, 1978).
2.2.3. Suhu
Keadaan suhu air laut dipengaruhi oleh penetrasi cahaya yang mampu menembus kedalaman laut. Semakin dalam laut maka suhu semakin rendah karena ketidak mampuan penetrasi cahaya matahari hingga ke laut dalam. Di laut yang sangat dalam, suhu umumnya seragam dengan kisaran 1–30C (kecuali wilayah hydrothermal vents (>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1oC)).
2.2.4. Salinitas
Secara sederhana, salinitas diartikan sebagai  jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktik, sangat sukar untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Di laut dalam, salinitas umumnya seragam (35 ppm)  pada daerah cold hydrocarbonseeps (hipersain = 40 permil).
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub)  rendah di permukaan dan bertambah secara konstan terhadap kedalaman. Di daerah  subtropis (atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,50 – 400 LU atau 23,5 - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat tingginya aktifitas evaporasi (penguapan). Di  kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya rendah dan kembali bertambah  secara tetap terhadap kedalaman. Sementara itu, di daerah tropis salinitas di permukaan  lebih rendah daripada di kedalaman akibat tingginya presipitasi (curah hujan).

2.2.5. Sirkulasi Air
Sirkulasi air di laut dalam Sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografi dasar laut. Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam.
2.3. Suplai Pakan
            Pakan yang terdapat di laut dalam jumlahnya sangat sedikit, tergantung pada Pakan yang diproduksi di tempat lain dan terangkut oleh proses hidrodinamis ke arah laut dalam. pakan pada ekosistem laut dalam berasal dari sisa – sisa makanan dari ekosistem laut dangkal. Selain itu pakan bagi organisme – organisme ialah organisme yang telah mati. Selain itupakan juga dapat berasal dari  jatuhan bangkai hewan besar (ikan) atau tumbuhan, beberapa jenis bakteri yang mudah dicerna dan berbagai bahan organik terlarut.

2.4. Adaptasi Organisme Organisme Laut Dalam
Salah satu pembatas kehidupan organisme laut adalah kedalaman. Kedalaman berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan yang lain seperti makanan, cahaya, tekanan, suhu dan lain-lain, semuanya berpengaruh terhadap kondisi ekologi laut dalam terutama terhadap kehidupan organisme (ikan).
Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Dengan keadaan tanpa adanya cahaya matahari, tekanan tinggi, salinitas tinggi dan faktor – faktor yang terdapat di dalam ekosistem laut dalam ini membuat biota laut dalam tersebut melakukan adaptasi, yakni :
1)   Adapasi morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Pada biota laut dalam, adaptasi morfologi dapat dilihat dari bentuk tubuh biota laut dalam yang kecil dan pada umumnya bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Secara morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak dan dimensi mulut mengalami perubahan pada organisme laut dalam. Ciri umum mereka adalah mulut yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Mereka harus seoptimal mungkin mencari mangsa yang jarang di laut dalam. Praktek kanibalisme juga sering terjadi di beberapa spesies.
Bentuk spesies non ikan seperti moluska dan sebangsanya akan adaptif untuk memakan mikroorganisme yang ada. Mereka sulit bersaing dengan ikan yang ganas. Untuk senjata mempertahankan diri, mereka biasanya mampu berkamuflase dengan kondisi sekitar.Satu persamaan dari mereka adalah, evolusi morfologis mengubah bentuk mereka menjadi kecil. Jarang ada organisme yang berdimensi panjang lebih dari 25 cm. Contoh dari hewan-hewan laut yang mampu hidup pada zona ini adalah Phronima, Cumi-cumi, Amoeba, Comb Jelly, Cope pod, dan ikan Hatchet.

     a.       Warna
Umumnya biota laut dalam bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Ikan-ikan mesopelagik khusunya cenderung berwarna abu-abu keperakan atau hitam kelam. Tidak terdapat kontras warna seperti pada ikan-ikan epipelagik.

            b.      Mata
     Ikan laut dalam biasanya memiliki mata yang sangat kecil atau bahkan tidak bermata karena untuk hidup di      lingkungan yang gelap gulita mata tidak diperlukan. Namun pada beberapa ikan memiliki mata yang sangat besar.
Seekor Fangtooth – meskipun wajahnya menakutkan, fangtooth adalah ikan sangat kecil. Yang terbesar hanya tumbuh panjang sekitar 6 inci . Mereka adalah ikan yang hidup di laut terdalam, karena telah terlihat di kedalaman 16.000 kaki. Fangtooths dewasa memiliki adaptasi yang menarik untuk hidup dengan giant fangs, mereka memiliki  mata yang besar, kemungkinan untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin karena di laut dalam  terdapat cahaya sedikit atau tidak ada sama sekali selain mata yang besar ikan ini memiliki lubang, atau sinus, pada rahang atas mereka dan tengkorak bahwa gigi bawah mereka sesuai dengan ketika mulut mereka ditutup. Mereka menggunakan taring yang ganas untuk berburu ikan lain dan cumi, yang bisa sangat cepat untuk menangkap. Mereka tidak memiliki lampu khusus atau umpan seperti ikan viper, sehingga mereka bergerak  ‘membabi buta’ dalam kegelapan laut dalam, pada dasarnya apapun yang menyambar ke mereka akan lari ke dalam kegelapan – bahkan jika itu lebih besar dari mereka! Fangooth memegang rekor dunia untuk gigi terbesar di laut (relatif terhadap ukuran tubuh).

Ikan laut dalam relatif memiliki ukuran mulut besar. Dalam mulutnya terdapat gigi yang tajam dan melengkung ke arah tenggorokan, ini menjamin bahwa apa yang tertangkap tidak akan keluar lagi dari mulut.
ikan Viper (Chauliodus macouni). Ikan Viper (ditemukan di 80-1600 meter – sekitar satu mil di bawah permukaan laut) adalah beberapa ikan yang tampak paling jahat di kedalaman. Mereka juga memiliki mata yang besar, kemungkinan untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin karena cahaya sedikit atau tidak sama sekali. Ahli biologi berspekulasi bahwa gigi yang tampak mengerikan dan rahang merupakan adaptasi untuk hidup di lingkungan rendah energi dari laut dalam. Makanan sangat langka di lingkungan yang tidak ramah, sehingga ikan yang tinggal di sini telah mengembangkan rahang yang sangat mematikan untuk memastikan bahwa mangsa mereka tangkap di rahang mereka tidak memiliki cara untuk melarikan diri. (photo courtesy of Paul Yancey, Biology Dept., Whitman College, Walla Walla Washington)

d.      Bioluminescence
Di laut dalam sering terlihat cahaya yang berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah Bioluminescence. Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut, cahaya tersebut berasal dari bakteri yang hidup secara permanen didalam sebuah perangkap. Bioluminescence digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau alat untuk menarik mangsa, kurang lebih bioluminescence berfungsi sebagai umpan. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh setiap hewan laut dalam, baik betina maupun jantan. Namun beberapa diantaranya ada yang hanya dimiliki oleh hewan laut betina. Cahaya bioluminescence yang dihasilkan biasa berwarna biru atau kehijauan, putih, dan merah. Walau sebagian besar bioluminescence digunakan untuk mekanisme bertahan hidup, namun beberapa diantara hewan laut dalam tersebut menggunakan bioluminescence untuk menarik lawan jenisnya.
2)   Adaptasi fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Di ekosistem laut dalam dapat dikatakan tidak terdapat produsen karena tidak adanya sinar matahari yang menyebabkan tidak adanya proses fotosintesis pada ekosistem tersebut, sehingga biota laut dalam melakukan adaptasi fisiologi. Bentuk adaptasi fisiologi biota laut dalam adalah adalah organisme laut dalam mempunyai kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk hidup di darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri dan menentukan seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok makanan yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA

Blogspot. 2011. Ekosistem Laut Dalam. http://rumengan-irman. blogspot.com/2010/10/interaksi-organisme-laut-dalam-dengan_10.html. Diakses tanggal 2 Juni 2011.
BlogFriendster. 2011. Ekosistem Laut. http://safarila.blog.friendster.com/2009/07/ekosistem-laut/. Diakses tanggal 2 Juni 2011
Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Dalam : Prosiding Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan Dep. PU.), hal 293-300.

Selasa, 22 Januari 2013

Dunia Amfibi


Amfibi  terdiri dari tiga bangsa. Bangsa Caudata atau salamander merupakan satu-satunya bangsa yang tidak terdapat di seluruh Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bangsa ke dua yang paling kecil, tapi sangat jarang ditemui adalah Sesilia atau Gymnophonia, bentuknya seperti cacing dengan kepala dan mata yang tampak jelas dan mudah dikelirukan dengan cacing. Sebagian besar amfibi Indonesia termasuk bangsa ke tiga, yaitu Anura atau Katak. Katak yang paling primitif terdapat di Kalimantan, dan termasuk Bombinatoridae. Kelompok katak lain yang dianggap primitif termasuk suku kedua, yaitu Megophryidae dan dua jenis introduksi dari suku Pipidae. Katak lain yang tidak termasuk dalam kedua golongan tersebut dan mewakili semua katak dianggap sebagai katak yang telah maju.
Katak mudah dikenali dari tubuhnya yang seperti  berjongkok dengan empat kaki untuk melompat, leher yang tidak jelas dan tanpa ekor. Kaki belakang yang berfingsi untuk melompat lebih panjag dari kaki depan yang lebih pendek dan ramping. Matanya sangat besar,dengan pupil mata horisontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak, pupilnya berbentuk berlian atau segi empat, yang khas bagi masing-masing kelompok. Ujung jarinya mungkin tidak berbentuk, hanya slindris atau berbentuk piringan yang pipih, dan kadang-kadang mempunyai lipatan kulit lateral yang lebar. Pada kelompok lainnya, ujung  jari tersebut berbentuk gada. Kaki depan mempunyai empat jari,tetapi kaki belakang berjari lima. Selaput kulit tumbuh di antara jari-jari. Selaput ini bervariasi di tiap jenis. Beberapa jenis hampir tidak berselaput, tetapi pada jenis lain selaputnya meluas sampai menutupi jari atau pelebaran ujung jari. Kulitnya bervariasi dari halus pada beberapa katak sampai kasar,tertutup oleh tonjolan-tonjolan berduri pada kodok. Pada sisi tubuh beberapa jenis katak terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal paha, yang disebut lipatan dorsolateral. Gigi mungkin terdapatpada rahang atas tetapi selalu tidak terdapat pada rahang bawah. Pada kebanyakan jenis, binatang betina lebih besar dari binatang jantan, tetapi sebaliknya terapat pada beberapa marga lainnya. Ukuran katak Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10 mm, dengan berat hanya satu atau dua gram sampai jenis yang mencapai 280 mm dengan berat lebih dari 1500 gram.
Seperti arti umumnya, amfibi selalu berasosiasi dengan air. Nama amfibi berarti hidup dalam dua alam berbeda : air dan darat. Namun demikian, amfibi menghuni habitat yang sangat bervariasi, dari tergenang di bawah permukaan air sampai yang hidup di puncak pohon yang tinggi. Kebanyakan jenis hidup di hutan karena membutuhkan kelembaban yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan. Beberapa jenis hidup di pinggir sungai dan lainnya tidak pernah meninggalkan air. Jenis yang hidup di luarair biasanya datang mengunjungi air untuk beberapa periode,paling sedikit dalam musim berbiak dan selama perkembangbiakan.
Semua amfibi adalah karnivora. Makanannya terutama terdiri dari artropoda, cacing dan larva serangga, terutama untuk jenis kecil. Jenis yang lebih besar dapat memekan binatang yang lebih kecil, seperti ikan kecil, udang, katak kecilatau katak muda, dan bahkan kadal kecil dan ular kecil. Namun kebanyakan berudu katak adalah herbivor.
Amfibi tidak semua memiliki alat fisik untuk mempertahankan diri. Sebagian besar katak mengandalkan kaki belakangnya untuk melompat dan menghindar dari bahaya. Jenis-jenis dari suku Megophryidae dan Rhacoporidae memiliki kaki yang relatif pendek sehingga mereka tidak dapat melompat jauh untuk menghindari bahaya. Untuk menghindari pemangsanya, suku Megophryidae dan Rhacoporidae umumnya menyarukan diri sesuai habitatnya. Alat lain yang terbukti efektif adalah kulit yang beracun. Banyak Bufonidae dan Rnidae yang dikenal karena kelenjar racun kulitnya. Ada semacam kepercayaan bahwa kebanyakan katak itu beracun. Hal ini jelas tidak selalu benar, walaupun semua jenis Bufonidae dan beberapa jenis lain memang beracun. Racun ini hanya efektif pada binatang kecil, namun racun ini tidak cukup kuat untuk mematikan manusia. Sejumlah orang takut pada katak pohon, karena percaya bahwa air kencingnya dapat membutakan mata. Penelitian cermatdibutuhkan untuk membuktikan hal ini. Tidak ada kodok Indonesia yang memiliki racun keras bagi manusia. Kodok beracun dapat dengan mudah dikenalidari daunya yang menyengat, juga diketahui bahwa kodok beracun umumnya juga lebih mudah dikenali karena berwarna terang, yang biasanya disebut pewarnaan aposematik.

Bangsa Anura: Katak dan Kodok
Bangsa anura ini merupakan bangsa amfibi yang terbesar dansangat beragam, terdiri lebih dari 4.100 jenis katak dan kodok. Jumlah taksa baru terus bertambah, terutama dari daerah-daerah tropis yang sampai sekarang belum diteliti. Sekitar 450 jenis telah dicatat dari Indonesia, yang merupakan kumpulan taksa individu di luar Amerika Selatan, mewakili sekitar 11% dari seluruh  Anura di dunia. Dari 24 sampai 30 suku Anura yang telah dikenal, sepulu terdapat di Indonesia, enam diantaranya terdapat di Jawa. Suku Anura yang terdapat di Indonesia adalah : Bombinatoridae, Megophryidae, Bufonidae, Lymnodynastidae, Myobatrachidae, Microhylidae, Pelodryadidae, Ranidae, Rhacophoridaedan Pipidae.
Suku Megophryidae, Katak Serasah
Suku ini akhir-akhir ini sebagian dipisahkan dari Pelobatidae, berdasarkan filogenetik yang didukung oleh penyebarannya yang terbatas di Asia Tenggara, dari India keIndonesia dan ke arah utar sampai ke Cina selatan. Biasanya tertutup oleh serasah dedaunan, katak ini kebanyakan tersaru di daerah-daerah yang banyak pohonnya, dari permukaan laut sampai hampir 1500 m di atas permukaan laut. Kakinya relatif pendek, membuat katak-katak ini sangat lambat bergerak. Katak ini melompat dari satu tempat ke tempat lain dan bergantung terutam pada kemampuan menyaru untuk bertahan hidup. Di Indonesia, suku ini diwakili oleh empat marga, salah satunya adalah Megophrys. Marga ini mempunyai penyebaran yang luas di daerah subtropis di Asia Selatan. Kepala dan tubuhnya kekar ,moncong meruncing dan mata dengan perpanjangan dermal yang jelas menyerupai tanduk. Contohnya adalah Megophrys montana.
Suku Bufonidae, Kodok Sejati
Suku ini sangat umum dan tersebar hampir di seluruhdunia,kecualidi daerah Australo-Papua di belahan bumi selatan, dan di Indonesia suku ini diwakili oleh enam marga. Semua anggota suku ini kasar dan kekar penampilannya, dan pada beberapa jenis tubuhnya tertutupi oleh bintil-bintil, panjangnya bervariasi dari yang terkecil sekitar 25 mm sampai terbesar sekitar 25 cm. Kodok Indonesia terbesar di Kalimantan dan Sumatera.
Bufo, yang paling umum dan tersebar diantarasemua Bufonidae, diwakili oleh lima jenis, dan kecuali satu jenis, semuanya mempunyai tubuh besar. Marga ini meliputi lebih dari 200 jenis kodok. Biasanya bertubuh gemuk, terkstur kulitnya sangat kasar tertutup oleh bintil-bintil. Ukurannya bervariasi dari relatif kecil sampai sangat besar. Kakinya tidak sesuai untuk meloncat. Kodok ini melompat-lompat kecil dari suatu tempat ke tempat lain, meskipun beberapa jenis hampir seluruhnya akuatik. Kebanyakan jenis menggunakan sebagian besar waktunya di darat atau di lubang-lubang. Telur-telurnya biasanya diletakkan seperti untaian dalam satu atau beberapa deretan. Contoh spesies dari marga ini adalah Bufo melanostictus.
Suku Ranidae, Katak Sejati
Suku katak yang luas penyebarannya ini di Indonesia diwakili oleh sepuluh margadan lebih kurang seratus jenis. Lima marga dan15 jenis dikenal dari Jawa. Dengan satu pengecualian, semua jenis yang tercatat dari Jawa tergolong dalam marga Rana yang tersebar sangat luas. Dua anak suku dipisahkan antara lain berdasarkan morfologi jari dan adanya lipatan dorsolateral sebagai ciri utama yang dikenal di sini.
Anak suku Raninae mencakup katak-katak yang lebih kurang ramping, dengan sepasang lipatan dorsolateral yang jelas. Ujung jari tangan berakhir dengan ujung yang melebar dan rata. Di Jawa terdiri dari tiga marga. Marga Huia, atau dikenal juga dengan Amolops, ada empat jenis. Merupakan suatu jenis marga katak ramping dari yang berukuran kecil sampai sedang, dengan kaki yang sangat panjang dan saku suara pada sisi mulut. Katak ini memiliki berudu yang aneh, dapat hidup di air jeram dan berbatu. Sebelumnya dianggap termasuk marga Amolops. Marga Amolops sekarang dipecah menjadi tiga anak marga yang berbeda: Amolops, Huia  dan Meristogenys. Marga Rana, di Indonesia diwakili oleh anak marga yang tersebar di dunia (Hylarana). Semua jenis tampak ramping, kaki panjang, jari-jari bersealput renag yang jelas, ujung jari dengan sirkum marginal dan sepasang lipatan  dorsolateral yang memisahkan sisi punggung dan sisi lateral. Anak marga ini dipastikan mempunyai asal yang polifiletik dan sebenarnya terbagi dalam beberapa anak marga dan marga, tapi belum dapat diterima oleh kebanyakan pakar sistematika. Marga Fejerfarya, bertubuh kekar berukuran relatif kecil sampai sedang. Tekstur kulit relatif halus, tetapi tertutup oleh kelenjar kulit memanjang dan berbentuk lipatan-lipatan. Ujung jari tangan dan kaki tanpa bentuk dan tanpa piring pembesaran. Sebenarnya marga ini dimasukkan dalam anak marga Limnonectes. Baru-baru ini dketahui bahwa penempetan anggota anak marga ini dalam Limnonectes  tidak didukung oleh analisis morfologi dan molekuler (Emerson & Berrigan, 1993). Oleh karena itu, anak marga ini akhirnya ditingkatkan menjadi marga yang berdiri sendiri.