2.1.
Pengertian Laut Dalam
Laut dalam
merupakan semua zona yang terletak di bawah zona eufotik (zona bercahaya)
mencakup zona batipelagis, abilsal dan hadal (Nontji,2002). Bagian dari lingkungan bahari yang
terletak di bawah kedalaman yang dapat diterangi sinar matahari di laut terbuka
dan lebih dalam dari paparan benua (>200m)
Allah
berfirman di dalam Al Qur'an yang artinya:
Atau seperti gelap gulita di lautan yang
dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya
(lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan
tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi
cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (Al
Qur'an, An-Nuur, 24:40)
Ayat ini menyebutkan kegelapan
yang dapat ditemukan di laut dalam, di mana jika seseorang menjulurkan tangan
ia tak akan bisa melihatnya. Kegelapan di dalam lautan dan samudera ditemukan
sekitar kedalaman 200 meter ke bawah. Pada kedalaman ini, hampir-hampir tidak
ada cahaya lagi. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak ada cahaya sama sekali.
Laut dalam adalah lapisan terbawah dari lautan, berada dibawah lapisan thermocline pada kedalaman lebih dari 1828 m. Sangat sedikit atau bahkan tidak ada cahaya yang dapat masuk ke area ini, dan sebagian besar organisme bergantung pada
material organik yang jatuh dari zona fotik. Karena alasan inilah para saintis mengira bahwa kehidupan di tempat ini
akan sangat sedikit, namun dengan adanya peralatan yang dapat menyelam ke
kedalaman, ditemukan bahwa ditemukan cukup banyak kehidupan di arena ini.
Di tahun 1960, Bathyscaphe
Trieste menuju ke dasar dari Palung
Mariana dekat Guam, pada kedalaman 35.798 kaki (10.911 m), titik terdalam di bumi. Jika Gunung
Everest ditenggelamkan, maka
puncaknya akan berada lebih dari satu mil dari permukaan. Pada kedalaman ini, ikan kecil mirip flounder terlihat. Kapal selam
penelitian Jepang, Kaiko, adalah satu-satunya yang dapat menjangkau kedalaman ini, dan lalu hilang
di tahun 2003.
Hingga tahun 1970, hanya sedikit yang diketahui
tentang kemungkinan adanya kehidupan pada laut dalam. Namun penemuan koloni udang dan organisme lainnya di sekitar hydrothermal
vents mengubah pandangan itu.
Organisme-organisme tersebut hidup dalam keadaan anaerobik dan tanpa cahaya pada keadaan kadar garam yang tinggi dan temperatur 149 oC. Mereka menggantungkan hidup
mereka pada hidrogen sulfida, yang sangat beracun pada kehidupan di daratan. Penemuan revolusioner
tentang kehidupan tanpa cahaya dan oksigen ini meningkatkan kemungkinan akan adanya kehidupan di tempat lain di alam
semesta ini.
Ekosistem
air laut luasnya lebih dari 2/3 permukaan bumi ( ±70 % ), karena luasnya dan
potensinya sangat besar, ekosistem laut menjadi perhatian orang banyak,
khususnya yang berkaitan dengan Revolusi Biru. Ekosistem laut dalam merupakan
ekosistem laut yang tidak terjangkau oleh sinar matahari. Oleh sebab itu, pada
ekosistem ini tidak mungkin hidup produsen yang fotoautotraf. Komunitas
yang ada pada ekosistem laut dalam kemungkinan adalah hewan-hewan saprovora,
karnivora, dan detritivora. Karena terbatasnya sumber materi dan energi, maka
keanekaragaman jenis makhluk hidup pada ekosistem laut dalam paling rendah
dibandingkan ekosistem laut lainnya.
2.2. Kondisi
Fisik Lingkungan Laut dalam
Ekosistem laut dalam memiliki perbedaan yang sangat
besar dibandingkan ekosistem laut dangkal. Keadaan tersebut juga mempengaruhi
individu-individu biota laut dalam tersebut. Cahaya
matahari hampirdikatakan tidak menembus laut dalam sehingga kondisi laut dalam
tersebut gelap gulita dan dipastikan hampir tidak ada proses
fotosintesis. Organisme yang hidup di perairan
ini merupakan organism yang
sangat hebat, karena dapat
bertahan hidup dengan kadar oksigen yang
sangat minim.
2.2.1.
Tekanan Hidrostatis
Tekanan
hidrostatik adalah berat kolom air yang biasa diukur dalam atmosfir (atm).
Tekanan hidrostatik dapat digambarkan sebagai berikut:
P = r . g . z
dimana:
P = tekanan
hidrostatik (tekanan/unit area)
r = densitas
air (g/cm3)
g =
percepatan gravitasi (980 cm/sec2)
z =
kedalaman dibawah permukaan air (cm)
Tekanan
hidrostatis di lingkungan laut dalam (>300m) sangat tinggi karena tekanan
hidrostatik bertambah secara konstan seiring dengan bertambahnya kedalaman air. Setiap kedalaman 10 m tekanan hidrostatik bertambah sebesar 1
atm yang setara dengan 1,03 kg/cm2 atau 14,7 lbs/in2. Dengan demikian pada kedalaman 100 m ikan akan mengalami
tekanan sebesar 10 atm atau setara dengan 10,03 kg pada setiap luasan 1 cm2
dari tubuhnya yang berlaku secara proporsional, artinya
tekanan hidrostatik yang dialami ikan tersebut sama pada seluruh bagian
tubuhnya.
Besar
tekanan hidrostatik pada permukaan air laut cenderung berubah-ubah setiapwaktu yang disebabkan oleh adanya ombak, sedangkan pada bagian yang lebih dalam tekanan secara konstan bertambah sesuai dengan bertambahnya kedalaman. Tekanan hidrostatik berhubungan erat dengan mekanisme pengaturan daya apung pada ikan. Ikan-ikan yang melakukan migrasi vertikal atau hidup dekat permukaan harus
mampu mengatur daya apungnya untuk mengimbangi perubahan
tekanan hidrostatik yang
drastis.
2.2.2.
Kadar Oksigen
Sumber oksigen utama di perairan laut dalam berasal
dari air permukaan laut di Antartika dan Arktik yang kaya
Oksigen. Kadar oksigen dalam air laut akan
bertambah dengan
semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada
lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi
antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya
kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses
fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk
pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap
oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya.
Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relatif lebih sedikit apabila
dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan
tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan
yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut (Wardoyo, 1978).
2.2.3. Suhu
Keadaan
suhu air laut dipengaruhi oleh penetrasi cahaya yang mampu menembus kedalaman
laut. Semakin dalam laut maka suhu semakin rendah karena ketidak mampuan
penetrasi cahaya matahari hingga ke laut dalam. Di laut yang sangat dalam, suhu umumnya seragam dengan kisaran 1–30C
(kecuali wilayah hydrothermal vents
(>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1oC)).
2.2.4. Salinitas
Secara
sederhana, salinitas diartikan sebagai jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram
pada setiap kilogram air laut. Secara
praktik, sangat sukar untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan
meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Di laut dalam,
salinitas umumnya
seragam (35 ppm) pada daerah cold hydrocarbonseeps (hipersain = 40
permil).
Salinitas di daerah subpolar (yaitu
daerah di atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah secara
konstan terhadap kedalaman. Di daerah subtropis
(atau semi tropis, yaitu daerah antara 23,50 – 400 LU
atau 23,5 - 40oLS), salinitas di permukaan lebih besar daripada di kedalaman
akibat tingginya aktifitas evaporasi (penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga
salinitasnya rendah dan kembali bertambah secara tetap terhadap kedalaman. Sementara
itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibat
tingginya presipitasi (curah hujan).
2.2.5. Sirkulasi Air
Sirkulasi air di laut dalam Sangat lamban (< 5 cm/detik),
tergantung pada bentuk dan topografi dasar laut. Sikulasi air dan ventilasi
dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam.
2.3. Suplai Pakan
Pakan yang terdapat di laut dalam
jumlahnya sangat sedikit, tergantung pada Pakan yang diproduksi di
tempat lain dan terangkut oleh proses
hidrodinamis ke arah laut dalam. pakan pada ekosistem
laut dalam berasal dari sisa – sisa makanan dari ekosistem laut dangkal. Selain
itu pakan bagi organisme – organisme ialah organisme yang telah mati. Selain
itupakan juga dapat berasal dari jatuhan
bangkai hewan besar (ikan) atau tumbuhan, beberapa jenis bakteri yang mudah
dicerna dan berbagai bahan organik terlarut.
2.4. Adaptasi
Organisme Organisme Laut Dalam
Salah
satu pembatas kehidupan organisme laut adalah kedalaman. Kedalaman berkaitan
dengan faktor-faktor lingkungan yang lain seperti makanan, cahaya, tekanan,
suhu dan lain-lain, semuanya berpengaruh terhadap kondisi ekologi laut dalam
terutama terhadap kehidupan organisme (ikan).
Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk
bertahan hidup. Dengan keadaan tanpa adanya cahaya matahari, tekanan tinggi,
salinitas tinggi dan faktor – faktor yang terdapat di dalam ekosistem laut
dalam ini membuat biota laut dalam tersebut melakukan adaptasi, yakni :
1) Adapasi morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang
disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Pada biota laut dalam, adaptasi
morfologi dapat dilihat dari bentuk tubuh biota laut dalam yang kecil dan pada
umumnya bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Secara
morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak dan dimensi mulut
mengalami perubahan pada organisme laut dalam. Ciri umum mereka adalah mulut
yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Mereka harus seoptimal
mungkin mencari mangsa yang jarang di laut dalam. Praktek kanibalisme juga
sering terjadi di beberapa spesies.
Bentuk spesies non ikan seperti moluska
dan sebangsanya akan adaptif untuk memakan mikroorganisme yang ada. Mereka
sulit bersaing dengan ikan yang ganas. Untuk senjata mempertahankan diri,
mereka biasanya mampu berkamuflase dengan kondisi sekitar.Satu persamaan dari
mereka adalah, evolusi morfologis mengubah bentuk mereka menjadi kecil. Jarang
ada organisme yang berdimensi panjang lebih dari 25 cm. Contoh dari hewan-hewan laut yang mampu hidup
pada zona ini adalah Phronima, Cumi-cumi, Amoeba, Comb Jelly, Cope pod, dan
ikan Hatchet.
a. Warna
Umumnya biota laut dalam bertubuh transparan karena tubuhnya tidak
mengandung pigmen. Ikan-ikan mesopelagik khusunya cenderung berwarna abu-abu
keperakan atau hitam kelam. Tidak terdapat kontras warna seperti pada ikan-ikan
epipelagik.
b. Mata
Ikan
laut dalam biasanya memiliki mata yang sangat kecil atau bahkan tidak bermata
karena untuk hidup di lingkungan yang gelap gulita mata tidak diperlukan. Namun
pada beberapa ikan memiliki mata yang sangat besar.
Seekor Fangtooth – meskipun
wajahnya menakutkan, fangtooth adalah ikan
sangat kecil. Yang terbesar hanya tumbuh panjang sekitar 6 inci . Mereka adalah
ikan yang hidup di laut terdalam, karena telah terlihat di kedalaman 16.000
kaki. Fangtooths dewasa memiliki adaptasi yang menarik untuk hidup dengan giant
fangs, mereka memiliki mata yang besar,
kemungkinan untuk mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin karena di laut
dalam terdapat cahaya sedikit atau tidak
ada sama sekali selain mata yang besar ikan ini memiliki lubang, atau sinus,
pada rahang atas mereka dan tengkorak bahwa gigi bawah mereka sesuai dengan
ketika mulut mereka ditutup. Mereka menggunakan taring yang ganas untuk berburu
ikan lain dan cumi, yang bisa sangat cepat untuk menangkap. Mereka tidak
memiliki lampu khusus atau umpan seperti ikan viper, sehingga mereka
bergerak ‘membabi buta’ dalam kegelapan laut dalam, pada dasarnya apapun
yang menyambar ke mereka akan lari ke dalam kegelapan – bahkan jika itu lebih besar
dari mereka! Fangooth memegang rekor dunia untuk gigi terbesar di laut (relatif
terhadap ukuran tubuh).
Ikan laut dalam
relatif memiliki ukuran mulut besar. Dalam mulutnya terdapat gigi yang tajam
dan melengkung ke arah tenggorokan, ini menjamin bahwa apa yang tertangkap
tidak akan keluar lagi dari mulut.
ikan
Viper (Chauliodus macouni). Ikan Viper (ditemukan di 80-1600 meter – sekitar
satu mil di bawah permukaan laut) adalah beberapa ikan yang tampak paling jahat
di kedalaman. Mereka juga memiliki mata yang besar, kemungkinan untuk
mengumpulkan cahaya sebanyak mungkin karena cahaya sedikit atau tidak sama
sekali. Ahli biologi berspekulasi bahwa gigi yang tampak mengerikan dan rahang
merupakan adaptasi untuk hidup di lingkungan rendah energi dari laut dalam.
Makanan sangat langka di lingkungan yang tidak ramah, sehingga ikan yang
tinggal di sini telah mengembangkan rahang yang sangat mematikan untuk
memastikan bahwa mangsa mereka tangkap di rahang mereka tidak memiliki cara
untuk melarikan diri. (photo courtesy of Paul Yancey,
Biology Dept., Whitman College, Walla Walla Washington)
d. Bioluminescence
Di laut dalam sering terlihat cahaya yang
berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah Bioluminescence. Bioluminescence adalah
cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut, cahaya tersebut berasal
dari bakteri yang hidup secara permanen didalam sebuah perangkap.
Bioluminescence digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau
alat untuk menarik mangsa, kurang lebih bioluminescence berfungsi sebagai
umpan. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh setiap hewan laut dalam, baik
betina maupun jantan. Namun beberapa diantaranya ada yang hanya dimiliki oleh
hewan laut betina. Cahaya bioluminescence yang dihasilkan biasa berwarna biru
atau kehijauan, putih, dan merah. Walau sebagian besar bioluminescence
digunakan untuk mekanisme bertahan hidup, namun beberapa diantara hewan laut
dalam tersebut menggunakan bioluminescence untuk menarik lawan jenisnya.
2) Adaptasi fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh
lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh
untuk mempertahankan hidup dengan baik. Di ekosistem laut dalam dapat dikatakan
tidak terdapat produsen karena tidak adanya sinar matahari yang menyebabkan
tidak adanya proses fotosintesis pada ekosistem tersebut, sehingga biota laut
dalam melakukan adaptasi fisiologi. Bentuk adaptasi fisiologi biota laut dalam
adalah adalah organisme laut dalam mempunyai
kapasitas untuk mengolah energi yang jauh lebih efektif dari makhluk hidup di
darat dan zona laut atas. Mereka bisa mendaur energinya sendiri dan menentukan
seberapa banyak energi yang akan terpakai dengan stok makanan yang didapat.
DAFTAR
PUSTAKA
Blogspot. 2011. Ekosistem Laut Dalam.
http://rumengan-irman.
blogspot.com/2010/10/interaksi-organisme-laut-dalam-dengan_10.html. Diakses tanggal 2 Juni 2011.
BlogFriendster. 2011. Ekosistem Laut. http://safarila.blog.friendster.com/2009/07/ekosistem-laut/. Diakses
tanggal 2 Juni 2011
Wardoyo, S.T.H. 1978. Kriteria
Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Dalam : Prosiding
Seminar Pengendalian Pencemaran Air. (eds Dirjen Pengairan Dep. PU.),
hal 293-300.
terimakasih infonya sangat bermanfaat sekali gan
BalasHapus# Obat Infeksi Gusi
Okok.. makasi udh mampir..
BalasHapusblognya berkualitas
BalasHapusAlhamdulillah sangat betmanfaat
BalasHapusAlhamdulillah sangat betmanfaat
BalasHapus