Amfibi terdiri dari tiga bangsa. Bangsa Caudata atau salamander merupakan satu-satunya bangsa yang tidak terdapat di seluruh Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bangsa ke dua yang paling kecil, tapi sangat jarang ditemui adalah Sesilia atau Gymnophonia, bentuknya seperti cacing dengan kepala dan mata yang tampak jelas dan mudah dikelirukan dengan cacing. Sebagian besar amfibi Indonesia termasuk bangsa ke tiga, yaitu Anura atau Katak. Katak yang paling primitif terdapat di Kalimantan, dan termasuk Bombinatoridae. Kelompok katak lain yang dianggap primitif termasuk suku kedua, yaitu Megophryidae dan dua jenis introduksi dari suku Pipidae. Katak lain yang tidak termasuk dalam kedua golongan tersebut dan mewakili semua katak dianggap sebagai katak yang telah maju.
Katak mudah dikenali dari tubuhnya yang seperti berjongkok dengan empat kaki untuk melompat, leher yang tidak jelas dan tanpa ekor. Kaki belakang yang berfingsi untuk melompat lebih panjag dari kaki depan yang lebih pendek dan ramping. Matanya sangat besar,dengan pupil mata horisontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak, pupilnya berbentuk berlian atau segi empat, yang khas bagi masing-masing kelompok. Ujung jarinya mungkin tidak berbentuk, hanya slindris atau berbentuk piringan yang pipih, dan kadang-kadang mempunyai lipatan kulit lateral yang lebar. Pada kelompok lainnya, ujung jari tersebut berbentuk gada. Kaki depan mempunyai empat jari,tetapi kaki belakang berjari lima. Selaput kulit tumbuh di antara jari-jari. Selaput ini bervariasi di tiap jenis. Beberapa jenis hampir tidak berselaput, tetapi pada jenis lain selaputnya meluas sampai menutupi jari atau pelebaran ujung jari. Kulitnya bervariasi dari halus pada beberapa katak sampai kasar,tertutup oleh tonjolan-tonjolan berduri pada kodok. Pada sisi tubuh beberapa jenis katak terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal paha, yang disebut lipatan dorsolateral. Gigi mungkin terdapatpada rahang atas tetapi selalu tidak terdapat pada rahang bawah. Pada kebanyakan jenis, binatang betina lebih besar dari binatang jantan, tetapi sebaliknya terapat pada beberapa marga lainnya. Ukuran katak Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10 mm, dengan berat hanya satu atau dua gram sampai jenis yang mencapai 280 mm dengan berat lebih dari 1500 gram.
Seperti arti umumnya, amfibi selalu berasosiasi dengan air. Nama amfibi berarti hidup dalam dua alam berbeda : air dan darat. Namun demikian, amfibi menghuni habitat yang sangat bervariasi, dari tergenang di bawah permukaan air sampai yang hidup di puncak pohon yang tinggi. Kebanyakan jenis hidup di hutan karena membutuhkan kelembaban yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan. Beberapa jenis hidup di pinggir sungai dan lainnya tidak pernah meninggalkan air. Jenis yang hidup di luarair biasanya datang mengunjungi air untuk beberapa periode,paling sedikit dalam musim berbiak dan selama perkembangbiakan.
Semua amfibi adalah karnivora. Makanannya terutama terdiri dari artropoda, cacing dan larva serangga, terutama untuk jenis kecil. Jenis yang lebih besar dapat memekan binatang yang lebih kecil, seperti ikan kecil, udang, katak kecilatau katak muda, dan bahkan kadal kecil dan ular kecil. Namun kebanyakan berudu katak adalah herbivor.
Amfibi tidak semua memiliki alat fisik untuk mempertahankan diri. Sebagian besar katak mengandalkan kaki belakangnya untuk melompat dan menghindar dari bahaya. Jenis-jenis dari suku Megophryidae dan Rhacoporidae memiliki kaki yang relatif pendek sehingga mereka tidak dapat melompat jauh untuk menghindari bahaya. Untuk menghindari pemangsanya, suku Megophryidae dan Rhacoporidae umumnya menyarukan diri sesuai habitatnya. Alat lain yang terbukti efektif adalah kulit yang beracun. Banyak Bufonidae dan Rnidae yang dikenal karena kelenjar racun kulitnya. Ada semacam kepercayaan bahwa kebanyakan katak itu beracun. Hal ini jelas tidak selalu benar, walaupun semua jenis Bufonidae dan beberapa jenis lain memang beracun. Racun ini hanya efektif pada binatang kecil, namun racun ini tidak cukup kuat untuk mematikan manusia. Sejumlah orang takut pada katak pohon, karena percaya bahwa air kencingnya dapat membutakan mata. Penelitian cermatdibutuhkan untuk membuktikan hal ini. Tidak ada kodok Indonesia yang memiliki racun keras bagi manusia. Kodok beracun dapat dengan mudah dikenalidari daunya yang menyengat, juga diketahui bahwa kodok beracun umumnya juga lebih mudah dikenali karena berwarna terang, yang biasanya disebut pewarnaan aposematik.
Bangsa Anura: Katak dan Kodok
Bangsa anura ini merupakan bangsa amfibi yang terbesar dansangat beragam, terdiri lebih dari 4.100 jenis katak dan kodok. Jumlah taksa baru terus bertambah, terutama dari daerah-daerah tropis yang sampai sekarang belum diteliti. Sekitar 450 jenis telah dicatat dari Indonesia, yang merupakan kumpulan taksa individu di luar Amerika Selatan, mewakili sekitar 11% dari seluruh Anura di dunia. Dari 24 sampai 30 suku Anura yang telah dikenal, sepulu terdapat di Indonesia, enam diantaranya terdapat di Jawa. Suku Anura yang terdapat di Indonesia adalah : Bombinatoridae, Megophryidae, Bufonidae, Lymnodynastidae, Myobatrachidae, Microhylidae, Pelodryadidae, Ranidae, Rhacophoridaedan Pipidae.
Suku Megophryidae, Katak Serasah
Suku ini akhir-akhir ini sebagian dipisahkan dari Pelobatidae, berdasarkan filogenetik yang didukung oleh penyebarannya yang terbatas di Asia Tenggara, dari India keIndonesia dan ke arah utar sampai ke Cina selatan. Biasanya tertutup oleh serasah dedaunan, katak ini kebanyakan tersaru di daerah-daerah yang banyak pohonnya, dari permukaan laut sampai hampir 1500 m di atas permukaan laut. Kakinya relatif pendek, membuat katak-katak ini sangat lambat bergerak. Katak ini melompat dari satu tempat ke tempat lain dan bergantung terutam pada kemampuan menyaru untuk bertahan hidup. Di Indonesia, suku ini diwakili oleh empat marga, salah satunya adalah Megophrys. Marga ini mempunyai penyebaran yang luas di daerah subtropis di Asia Selatan. Kepala dan tubuhnya kekar ,moncong meruncing dan mata dengan perpanjangan dermal yang jelas menyerupai tanduk. Contohnya adalah Megophrys montana.
Suku Bufonidae, Kodok Sejati
Suku ini sangat umum dan tersebar hampir di seluruhdunia,kecualidi daerah Australo-Papua di belahan bumi selatan, dan di Indonesia suku ini diwakili oleh enam marga. Semua anggota suku ini kasar dan kekar penampilannya, dan pada beberapa jenis tubuhnya tertutupi oleh bintil-bintil, panjangnya bervariasi dari yang terkecil sekitar 25 mm sampai terbesar sekitar 25 cm. Kodok Indonesia terbesar di Kalimantan dan Sumatera.
Bufo, yang paling umum dan tersebar diantarasemua Bufonidae, diwakili oleh lima jenis, dan kecuali satu jenis, semuanya mempunyai tubuh besar. Marga ini meliputi lebih dari 200 jenis kodok. Biasanya bertubuh gemuk, terkstur kulitnya sangat kasar tertutup oleh bintil-bintil. Ukurannya bervariasi dari relatif kecil sampai sangat besar. Kakinya tidak sesuai untuk meloncat. Kodok ini melompat-lompat kecil dari suatu tempat ke tempat lain, meskipun beberapa jenis hampir seluruhnya akuatik. Kebanyakan jenis menggunakan sebagian besar waktunya di darat atau di lubang-lubang. Telur-telurnya biasanya diletakkan seperti untaian dalam satu atau beberapa deretan. Contoh spesies dari marga ini adalah Bufo melanostictus.
Suku Ranidae, Katak Sejati
Suku katak yang luas penyebarannya ini di Indonesia diwakili oleh sepuluh margadan lebih kurang seratus jenis. Lima marga dan15 jenis dikenal dari Jawa. Dengan satu pengecualian, semua jenis yang tercatat dari Jawa tergolong dalam marga Rana yang tersebar sangat luas. Dua anak suku dipisahkan antara lain berdasarkan morfologi jari dan adanya lipatan dorsolateral sebagai ciri utama yang dikenal di sini.
Anak suku Raninae mencakup katak-katak yang lebih kurang ramping, dengan sepasang lipatan dorsolateral yang jelas. Ujung jari tangan berakhir dengan ujung yang melebar dan rata. Di Jawa terdiri dari tiga marga. Marga Huia, atau dikenal juga dengan Amolops, ada empat jenis. Merupakan suatu jenis marga katak ramping dari yang berukuran kecil sampai sedang, dengan kaki yang sangat panjang dan saku suara pada sisi mulut. Katak ini memiliki berudu yang aneh, dapat hidup di air jeram dan berbatu. Sebelumnya dianggap termasuk marga Amolops. Marga Amolops sekarang dipecah menjadi tiga anak marga yang berbeda: Amolops, Huia dan Meristogenys. Marga Rana, di Indonesia diwakili oleh anak marga yang tersebar di dunia (Hylarana). Semua jenis tampak ramping, kaki panjang, jari-jari bersealput renag yang jelas, ujung jari dengan sirkum marginal dan sepasang lipatan dorsolateral yang memisahkan sisi punggung dan sisi lateral. Anak marga ini dipastikan mempunyai asal yang polifiletik dan sebenarnya terbagi dalam beberapa anak marga dan marga, tapi belum dapat diterima oleh kebanyakan pakar sistematika. Marga Fejerfarya, bertubuh kekar berukuran relatif kecil sampai sedang. Tekstur kulit relatif halus, tetapi tertutup oleh kelenjar kulit memanjang dan berbentuk lipatan-lipatan. Ujung jari tangan dan kaki tanpa bentuk dan tanpa piring pembesaran. Sebenarnya marga ini dimasukkan dalam anak marga Limnonectes. Baru-baru ini dketahui bahwa penempetan anggota anak marga ini dalam Limnonectes tidak didukung oleh analisis morfologi dan molekuler (Emerson & Berrigan, 1993). Oleh karena itu, anak marga ini akhirnya ditingkatkan menjadi marga yang berdiri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar