Sabtu, 05 November 2011

Dunia Amfibi

Amfibi terdiri dari tiga bangsa. Bangsa Caudata atau salamander merupakan satu-satunya bangsa yang tidak terdapat di seluruh Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bangsa ke dua yang paling kecil, tapi sangat jarang ditemui adalah Sesilia atau Gymnophonia, bentuknya seperti cacing dengan kepala dan mata yang tampak jelas dan mudah dikelirukan dengan cacing. Sebagian besar amfibi Indonesia termasuk bangsa ke tiga, yaitu Anura atau Katak. Katak yang paling primitif terdapat di Kalimantan, dan termasuk Bombinatoridae. Kelompok katak lain yang dianggap primitif termasuk suku kedua, yaitu Megophryidae dan dua jenis introduksi dari suku Pipidae. Katak lain yang tidak termasuk dalam kedua golongan tersebut dan mewakili semua katak dianggap sebagai katak yang telah maju.
Katak mudah dikenali dari tubuhnya yang seperti berjongkok dengan empat kaki untuk melompat, leher yang tidak jelas dan tanpa ekor. Kaki belakang yang berfingsi untuk melompat lebih panjag dari kaki depan yang lebih pendek dan ramping. Matanya sangat besar,dengan pupil mata horisontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak, pupilnya berbentuk berlian atau segi empat, yang khas bagi masing-masing kelompok. Ujung jarinya mungkin tidak berbentuk, hanya slindris atau berbentuk piringan yang pipih, dan kadang-kadang mempunyai lipatan kulit lateral yang lebar. Pada kelompok lainnya, ujung jari tersebut berbentuk gada. Kaki depan mempunyai empat jari,tetapi kaki belakang berjari lima. Selaput kulit tumbuh di antara jari-jari. Selaput ini bervariasi di tiap jenis. Beberapa jenis hampir tidak berselaput, tetapi pada jenis lain selaputnya meluas sampai menutupi jari atau pelebaran ujung jari. Kulitnya bervariasi dari halus pada beberapa katak sampai kasar,tertutup oleh tonjolan-tonjolan berduri pada kodok. Pada sisi tubuh beberapa jenis katak terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal paha, yang disebut lipatan dorsolateral. Gigi mungkin terdapatpada rahang atas tetapi selalu tidak terdapat pada rahang bawah. Pada kebanyakan jenis, binatang betina lebih besar dari binatang jantan, tetapi sebaliknya terapat pada beberapa marga lainnya. Ukuran katak Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10 mm, dengan berat hanya satu atau dua gram sampai jenis yang mencapai 280 mm dengan berat lebih dari 1500 gram.
Seperti arti umumnya, amfibi selalu berasosiasi dengan air. Nama amfibi berarti hidup dalam dua alam berbeda : air dan darat. Namun demikian, amfibi menghuni habitat yang sangat bervariasi, dari tergenang di bawah permukaan air sampai yang hidup di puncak pohon yang tinggi. Kebanyakan jenis hidup di hutan karena membutuhkan kelembaban yang cukup untuk melindungi tubuh dari kekeringan. Beberapa jenis hidup di pinggir sungai dan lainnya tidak pernah meninggalkan air. Jenis yang hidup di luarair biasanya datang mengunjungi air untuk beberapa periode,paling sedikit dalam musim berbiak dan selama perkembangbiakan.
Semua amfibi adalah karnivora. Makanannya terutama terdiri dari artropoda, cacing dan larva serangga, terutama untuk jenis kecil. Jenis yang lebih besar dapat memekan binatang yang lebih kecil, seperti ikan kecil, udang, katak kecilatau katak muda, dan bahkan kadal kecil dan ular kecil. Namun kebanyakan berudu katak adalah herbivor.
Amfibi tidak semua memiliki alat fisik untuk mempertahankan diri. Sebagian besar katak mengandalkan kaki belakangnya untuk melompat dan menghindar dari bahaya. Jenis-jenis dari suku Megophryidae dan Rhacoporidae memiliki kaki yang relatif pendek sehingga mereka tidak dapat melompat jauh untuk menghindari bahaya. Untuk menghindari pemangsanya, suku Megophryidae dan Rhacoporidae umumnya menyarukan diri sesuai habitatnya. Alat lain yang terbukti efektif adalah kulit yang beracun. Banyak Bufonidae dan Rnidae yang dikenal karena kelenjar racun kulitnya. Ada semacam kepercayaan bahwa kebanyakan katak itu beracun. Hal ini jelas tidak selalu benar, walaupun semua jenis Bufonidae dan beberapa jenis lain memang beracun. Racun ini hanya efektif pada binatang kecil, namun racun ini tidak cukup kuat untuk mematikan manusia. Sejumlah orang takut pada katak pohon, karena percaya bahwa air kencingnya dapat membutakan mata. Penelitian cermatdibutuhkan untuk membuktikan hal ini. Tidak ada kodok Indonesia yang memiliki racun keras bagi manusia. Kodok beracun dapat dengan mudah dikenalidari daunya yang menyengat, juga diketahui bahwa kodok beracun umumnya juga lebih mudah dikenali karena berwarna terang, yang biasanya disebut pewarnaan aposematik.
Bangsa Anura: Katak dan Kodok
Bangsa anura ini merupakan bangsa amfibi yang terbesar dansangat beragam, terdiri lebih dari 4.100 jenis katak dan kodok. Jumlah taksa baru terus bertambah, terutama dari daerah-daerah tropis yang sampai sekarang belum diteliti. Sekitar 450 jenis telah dicatat dari Indonesia, yang merupakan kumpulan taksa individu di luar Amerika Selatan, mewakili sekitar 11% dari seluruh Anura di dunia. Dari 24 sampai 30 suku Anura yang telah dikenal, sepulu terdapat di Indonesia, enam diantaranya terdapat di Jawa. Suku Anura yang terdapat di Indonesia adalah : Bombinatoridae, Megophryidae, Bufonidae, Lymnodynastidae, Myobatrachidae, Microhylidae, Pelodryadidae, Ranidae, Rhacophoridaedan Pipidae.
Suku Megophryidae, Katak Serasah
Suku ini akhir-akhir ini sebagian dipisahkan dari Pelobatidae, berdasarkan filogenetik yang didukung oleh penyebarannya yang terbatas di Asia Tenggara, dari India keIndonesia dan ke arah utar sampai ke Cina selatan. Biasanya tertutup oleh serasah dedaunan, katak ini kebanyakan tersaru di daerah-daerah yang banyak pohonnya, dari permukaan laut sampai hampir 1500 m di atas permukaan laut. Kakinya relatif pendek, membuat katak-katak ini sangat lambat bergerak. Katak ini melompat dari satu tempat ke tempat lain dan bergantung terutam pada kemampuan menyaru untuk bertahan hidup. Di Indonesia, suku ini diwakili oleh empat marga, salah satunya adalah Megophrys. Marga ini mempunyai penyebaran yang luas di daerah subtropis di Asia Selatan. Kepala dan tubuhnya kekar ,moncong meruncing dan mata dengan perpanjangan dermal yang jelas menyerupai tanduk. Contohnya adalah Megophrys montana.
Suku Bufonidae, Kodok Sejati
Suku ini sangat umum dan tersebar hampir di seluruhdunia,kecualidi daerah Australo-Papua di belahan bumi selatan, dan di Indonesia suku ini diwakili oleh enam marga. Semua anggota suku ini kasar dan kekar penampilannya, dan pada beberapa jenis tubuhnya tertutupi oleh bintil-bintil, panjangnya bervariasi dari yang terkecil sekitar 25 mm sampai terbesar sekitar 25 cm. Kodok Indonesia terbesar di Kalimantan dan Sumatera.
Bufo, yang paling umum dan tersebar diantarasemua Bufonidae, diwakili oleh lima jenis, dan kecuali satu jenis, semuanya mempunyai tubuh besar. Marga ini meliputi lebih dari 200 jenis kodok. Biasanya bertubuh gemuk, terkstur kulitnya sangat kasar tertutup oleh bintil-bintil. Ukurannya bervariasi dari relatif kecil sampai sangat besar. Kakinya tidak sesuai untuk meloncat. Kodok ini melompat-lompat kecil dari suatu tempat ke tempat lain, meskipun beberapa jenis hampir seluruhnya akuatik. Kebanyakan jenis menggunakan sebagian besar waktunya di darat atau di lubang-lubang. Telur-telurnya biasanya diletakkan seperti untaian dalam satu atau beberapa deretan. Contoh spesies dari marga ini adalah Bufo melanostictus.
Suku Ranidae, Katak Sejati
Suku katak yang luas penyebarannya ini di Indonesia diwakili oleh sepuluh margadan lebih kurang seratus jenis. Lima marga dan15 jenis dikenal dari Jawa. Dengan satu pengecualian, semua jenis yang tercatat dari Jawa tergolong dalam marga Rana yang tersebar sangat luas. Dua anak suku dipisahkan antara lain berdasarkan morfologi jari dan adanya lipatan dorsolateral sebagai ciri utama yang dikenal di sini.
Anak suku Raninae mencakup katak-katak yang lebih kurang ramping, dengan sepasang lipatan dorsolateral yang jelas. Ujung jari tangan berakhir dengan ujung yang melebar dan rata. Di Jawa terdiri dari tiga marga. Marga Huia, atau dikenal juga dengan Amolops, ada empat jenis. Merupakan suatu jenis marga katak ramping dari yang berukuran kecil sampai sedang, dengan kaki yang sangat panjang dan saku suara pada sisi mulut. Katak ini memiliki berudu yang aneh, dapat hidup di air jeram dan berbatu. Sebelumnya dianggap termasuk marga Amolops. Marga Amolops sekarang dipecah menjadi tiga anak marga yang berbeda: Amolops, Huia dan Meristogenys. Marga Rana, di Indonesia diwakili oleh anak marga yang tersebar di dunia (Hylarana). Semua jenis tampak ramping, kaki panjang, jari-jari bersealput renag yang jelas, ujung jari dengan sirkum marginal dan sepasang lipatan dorsolateral yang memisahkan sisi punggung dan sisi lateral. Anak marga ini dipastikan mempunyai asal yang polifiletik dan sebenarnya terbagi dalam beberapa anak marga dan marga, tapi belum dapat diterima oleh kebanyakan pakar sistematika. Marga Fejerfarya, bertubuh kekar berukuran relatif kecil sampai sedang. Tekstur kulit relatif halus, tetapi tertutup oleh kelenjar kulit memanjang dan berbentuk lipatan-lipatan. Ujung jari tangan dan kaki tanpa bentuk dan tanpa piring pembesaran. Sebenarnya marga ini dimasukkan dalam anak marga Limnonectes. Baru-baru ini dketahui bahwa penempetan anggota anak marga ini dalam Limnonectes tidak didukung oleh analisis morfologi dan molekuler (Emerson & Berrigan, 1993). Oleh karena itu, anak marga ini akhirnya ditingkatkan menjadi marga yang berdiri sendiri.

Rabu, 22 Juni 2011

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN

PENGUKURAN KUALITAS AIR

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup termasuk manusia, hewan, serta tumbuh-tumbuhan. Manfaat air macam-macam misalnya untuk diminum, untuk zat makanan pada tumbuhan, zat pelarut, pembersih dan sebagainya.Oleh karena itu penyediaan air merupakan salah satu kebutuhan utama bagi manusia untuk kelangsungan hidupnya dan menjadi faktor penentu dalam kesehatan dan kesejahteraan manusia. Air yang bersih mutlak diperlukan, kerena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan penyakit, terutama penyakit-penyakit perut. Dari penelitian-penelitian yang dilakukan, bahwasanya penduduk yang menggunakan air bersih mempunyai kecenderungan lebih kecil untuk menderita sakit dibandingkan dengan penduduk yang menggunakan air yang tidak bersih.
Dewasa ini air menjadi masalah yang sangat penting, karena keberadaan air bersih manjadi barang mahal. Air yang dahulu melimpah akan kandungan mineral dan oksigen, kini telah banyak terjadi kasus pencemaran air. Pencemaran air ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan lingkungan. Diantara ulah manusia itu adalah kebiasaan manusia membuang sampah ke sungai, mengalirkan limbah MCK, pembuangan limbah pabrik dan pembuangan limbah rumah tangga. Selain itu sisa-sisa pupuk atau pestisida dari derah pertanian, limbah kotoran ternak, hasil kebakaran hutan dan endapan sisa-sisa gunung berapi meletus juga mengakibatkan terjadinya pencemaran air. Pencemaran air ini dapat mengakibatkan menurunkan kualitas air yang telah ditentukan, sehingga tidak dapat untuk memenuhi kebutuhan.
Kawasan Situ Gintung merupakan daerah yang memiliki peran penting bagi lingkungan sekitar. Selain sebagai daerah resapan air, Situ Gintung juga dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk melakukan aktifitas seperti memancing, berternak ikan dan sebagai tempat wisata. Oleh karena hal itu diperlukan percobaan untuk mengetahui kualitas air di Situ Gintung.

1.2 Tujuan Penelitian
• Dapat melakukan pengambilan sampel air untuk pengujian kualitas air
• Dapat mengerti dan dapat melakukan uji fisik kualitas air
• Dapat mengoperasikan instrumen-instrumen yang akan digunakan
• Dapat mengetahui dan menentukan konsentrasi fosfat dalam sampel air
• Melakukan uji amonia dalam sampel air dengan metode phenat
• Menentukan kadar logam besi (Fe) dan Mangan (Mn) pada sampel air


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Uji Fosfat Dengan Metode Asam Askorbat
Fosfat yang berasal dari limbah alami biasanya berbentuk sebagai senyawa fosfat saja. Senyawa fosfat dapat diklasifikasikan sebagai orthofosfat, fosfat yang terkondensasi dan senyawa fosfat yang terikat secara oganik.
Senyawa-senyawa fosfat yang biasanya dideteksi dengan cara colorimetri tanpa hidrolisis atau oksidasi dengan pemanasan sampel disebut sebagai “fosfor reaktif” atau orthofosfat. Hidrolisis asam pada titik didih air mengubah fosfat terlarut atau fosfat partikulat yang terkondensasi menjaadi orthofosfat terlarut. Istilah ”fosfat yang terhidrolisis asam” lebih disukai daripada “fosfat terkondensasi”. Fraksi-fraksi senyawa fosfat yang terkonversi menjadi orthofosfat hanya oleh proses oksidasi yang destruktif dari zat-zat organik disebut sebagai “fosfat organik”. Total fosfat seperti juga fraksi fosfat yang terlarut atau tersuspensi dapat dibagi secara analitik menjadi tiga bagian seperti disebut di atas.
Metode ini menggunakan teknik oksidasi persulfat untuk membebaskan fosfat organik. Metode colorimetri yang dipergunakan adalah adalah metode asam askorbat. Ammonium molibdat dan potassium antimonil tartat dalam media asam dengan orthofosfat untuk membentuk asam heteropoli-asam fosfomolibdat yang tereduksi menjadi molibdenum yang berwarna biru oleh asam askorbat.
Metode Asam Askorbat dapat digunakan untuk penetapan bentuk-bentuk fosfat tertentu di dalam air minum, air permukaan, air payau, air limbah rumah tangga dan limbah industri. Cara uji ini digunakan untuk penentuan kadar fosfat yang terdapat dalam air limbah antara 0,01-0,1 mg/L PO4- dengan menggunakan metode asam askorbat dengan alat spektrofotometer pada panjang gelombang 880nm.
Kehadiran fosfat dalam air menimbulkan permasalahan terhadap kualitas air, misalnya terjadinya eutrofikasi. Untuk memecahkan masalah tersebut dengan mengurangi masukan fosfat ke dalam badan air, misalnya dengan mengurangi pemakaian bahan yang menghasilkan limbah fosfat dan melakukan pengolahan limbah fosfat. Salah satu metoda yang tengah dikembangkan adalah memanfaatkan kemampuan fosfat untuk membentuk kristal dengan penambahan reaktan. Fosfat membentuk kristal hydroxyapatite dengan penambahan Ca dan kristal struvite dengan penambahan Mg (Munch dan Barr, 2001). Fosfat adalah unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan kandungan fosfor ekonomis. Biasanya, kandungan fosfor dinyatakan sebagai bone phosphate of lime (BPL) atau triphosphate of lime (TPL), atau berdasarkan kandungan P2O5. Fosfat apatit termasuk fosfat primer karena gugusan oksida fosfatnya terdapat dalam mineral apatit (Ca10(PO4)6.F2) yang terbentuk selama proses pembekuan magma. Kadang kadang, endapan fosfat berasosiasi dengan batuan beku alkali kompleks, terutama karbonit kompleks dan sienit.

2.2. Besi dan Mangan Dalam Air
2.2.1. Besi (Fe) dalam air
Besi (Fe) adalah logam berwarna putih keperakan, liat dan dapat dibentuk. Fe di dalam susunan unsur berkala termasuk logam golongan VIII, dengan berat atom 55,85g.mol-1, nomor atom 26, berat jenis 7.86g.cm-3 dan umumnya mempunyai valensi 2 dan 3 (selain 1, 4, 6). Besi (Fe) adalah logam yang dihasilkan dari bijih besi, dan jarang dijumpai dalam keadaan bebas, untuk mendapatkan unsur besi, campuran lain harus dipisahkan melalui penguraian kimia. Besi digunakan dalam proses produksi besi baja, yang bukan hanya unsur besi saja tetapi dalam bentuk alloy (campuran beberapa logam dan bukan logam, terutama karbon). (Eaton Et.al, 2005; Rumapea, 2009 dan Parulian, 2009).
Kandungan Fe di bumi sekitar 6.22 %, di tanah sekitar 0.5 – 4.3%, di sungai sekitar 0.7 mg/l, di air tanah sekitar 0.1 – 10 mg/l, air laut sekitar 1 – 3 ppb, pada air minum tidak lebih dari 200 ppb. Pada air permukaan biasanya kandungan zat besi relatif rendah yakni jarang melebihi 1 mg/L sedangkan konsentrasi besi pada air tanah bervariasi mulai dan 0,01 mg/l sampai dengan + 25 mg/l. Di alam biasanya banyak terdapat di dalam bijih besi hematite, magnetite, taconite, limonite, goethite, siderite dan pyrite (FeS), sedangkan di dalam air umumnya dalam bentuk terlarut sebagai senyawa garam ferri (Fe3+) atau garam ferro (Fe2+); tersuspensi sebagai butir koloidal (diameter < 1 mm) atau lebih besar seperti, Fe(OH)3; dan tergabung dengan zat organik atau zat padat yang anorganik (seperti tanah liat dan partikel halus terdispersi). Senyawa ferro dalam air yang sering dijumpai adalah FeO, FeSO4, FeSO4.7 H2O, FeCO3, Fe(OH)2, FeCl2 sedangkan senyawa ferri yang sering dijumpai yaitu FePO4, Fe2O3, FeCl3, Fe(OH)3. (Eaton Et.al, 2005)
Pada air yang tidak mengandung oksigen O2, seperti seringkali air tanah, besi berada sebagai Fe2+ yang cukup dapat terlarut, sedangkan pada air sungai yang mengalir dan terjadi aerasi, Fe2+ teroksidasi menjadi Fe3+ yang sulit larut pada pH 6 sampai 8 (kelarutan hanya di bawah beberapa m g/l), bahkan dapat menjadi ferihidroksida Fe(OH)3, atau salah satu jenis oksida yang merupakan zat padat dan bisa mengendap. (Alaerts,1987)
Konsentrasi besi dalam air minum dibatasi maksimum 0.3 mg/l (sesuai Kepmenkes RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002), hal ini berdasarkan alasan masalah warna, rasa serta timbulnya kerak yang menempel pada sistem perpipaan. Manusia dan mahluk hidup lainnya dalam kadar tertentu memerlukan zat besi sebagai nutrient tetapi untuk kadar yang berlebihan perlu dihindari. Garam ferro misalnya (FeSO4) dengan konsentrasi 0.1 – 0.2 mg/L dapat menimbulkan rasa yang tidak enak pada air minum. Dengan dasar ini standar air minum WHO untuk Eropa menetapkan kadar besi dalam air minum maksium 0.1 mg/l sedangkan USEPA menetapkan kadar maksimum dalam air yaitu 0.3 mg/l. (Arifin, 2007; Eaton Et.al, 2005 dan Said, 2003).
Besi (Fe) dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan haemoglobin sehingga jika kekurangan besi (Fe) akan mempengaruhi pembentukan haemoglobin tersebut. Besi (Fe) juga terdapat dalam serum protein yang disebut dengan “transferin” berperan untuk mentransfer besi (Fe) dari jaringan yang satu ke jaringan lain. Besi (Fe) juga berperan dalam aktifitas beberapa enzim seperti sitokrom dan flavo protein. Apabila tubuh tidak mampu mengekskresikan besi (Fe) akan menjadi akumulasi besi (Fe) karenanya warna kulit menjadi hitam. Debu besi (Fe) juga dapat diakumulasi di dalam alveori menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru. Kekurangan besi (Fe) dalam diet akan mengakibatkan defisiensi yaitu kehilangan darah yang berat yang sering terjadi pada penderita tumor saluran pencernaan, lambung dan pada menstruasi. Defisiensi besi (Fe) menimbulkan gejala anemia seperti kelemahan, fatigue, sulit bernafas waktu berolahraga, kepala pusing, diare, penurunan nafsu makan, kulit pucat, kuku berkerut, kasar dan cekung serta terasa dingin pada tangan dan kaki. (Rumapea, 2009 dan Siregar, 2009).
2.2.2. Mangan (Mn) Dalam Air
Mangan (Mn) adalah logam berwarna abu – abu keperakan yang merupakan unsur pertama logam golongan VIIB, dengan berat atom 54.94 g.mol-1, nomor atom 25, berat jenis 7.43g.cm-3, dan mempunyai valensi 2, 4, dan 7 (selain 1, 3, 5, dan 6). Mangan digunakan dalam campuran baja, industri pigmen, las, pupuk, pestisida, keramik, elektronik, dan alloy (campuran beberapa logam dan bukan logam, terutama karbon), industri baterai, cat, dan zat tambahan pada makanan. Di alam jarang sekali berada dalam keadaan unsur. Umumnya berada dalam keadaan senyawa dengan berbagai macam valensi. Di dalam hubungannya dengan kualitas air yang sering dijumpai adalah senyawa mangan dengan valensi 2, valensi 4, valensi 6. Di dalam sistem air alami dan juga di dalam sistem pengolahan air, senyawa mangan dan besi berubah-ubah tergantung derajat keasaman (pH) air. Perubahan senyawa besi dan mangan di alam berdasarkan kondisi pH secara garis besar dapat ditunjukan sesuai gambar 1 yang memperlihatkan bahwa di dalam sistem air alami pada kondisi reduksi, mangan dan juga besi pada umumnya mempunyai valensi dua yang larut dalam air. Oleh karena itu di dalam sistem pengolahan air, senyawa mangan dan besi valensi dua tersebut dengan berbagai cara dioksidasi menjadi senyawa yang memiliki valensi yang lebih tinggi yang tidak larut dalam air sehingga dapat dengan mudah dipisahkan secara fisik. Mangan di dalam senyawa MnCO3, Mn(OH)2 mempunyai valensi dua, zat tersebut relatif sulit larut dalam air, tetapi untuk senyawa Mn seperti garam MnCl2, MnSO4, Mn(NO3)2 mempunyai kelarutan yang besar di dalam air. (Eaton Et.al, 2005; Janelle, 2004 dan Said, 2003).

Kandungan Mn di bumi sekitar 1060 ppm, di tanah sekitar 61 – 1010 ppm, di sungai sekitar 7 mg/l, di laut sekitar 10 ppm, di air tanah sekitar <0 data-blogger-escaped-.1="" data-blogger-escaped-2002="" data-blogger-escaped-2003="" data-blogger-escaped-2005="" data-blogger-escaped-a="" data-blogger-escaped-air="" data-blogger-escaped-aton="" data-blogger-escaped-banyak="" data-blogger-escaped-bentuk="" data-blogger-escaped-berupa="" data-blogger-escaped-bervalensi="" data-blogger-escaped-bikarbonat="" data-blogger-escaped-br="" data-blogger-escaped-braunite="" data-blogger-escaped-dalam="" data-blogger-escaped-dan="" data-blogger-escaped-dengan="" data-blogger-escaped-empat="" data-blogger-escaped-et.al="" data-blogger-escaped-io12="" data-blogger-escaped-ion="" data-blogger-escaped-kompleks.="" data-blogger-escaped-kompleks="" data-blogger-escaped-l.="" data-blogger-escaped-mangan="" data-blogger-escaped-mg="" data-blogger-escaped-mineral="" data-blogger-escaped-n2="" data-blogger-escaped-n3="" data-blogger-escaped-n5o10="" data-blogger-escaped-nco3="" data-blogger-escaped-no2="" data-blogger-escaped-organik.="" data-blogger-escaped-organik="" data-blogger-escaped-pada="" data-blogger-escaped-permukaan="" data-blogger-escaped-perpamsi="" data-blogger-escaped-psilomelane="" data-blogger-escaped-pyrolusite="" data-blogger-escaped-rhodochrosite="" data-blogger-escaped-said="" data-blogger-escaped-terdapat="" data-blogger-escaped-unsur=""> Mangan termasuk logam esensial yang dibutuhkan oleh tubuh sebagaimana zat besi. Tubuh manusia mengandung Mn sekitar 10 mg dan banyak ditemukan di liver, tulang, dan ginjal. Mn dapat membantu kinerja liver dalam memproduksi urea, superoxide dismutase, karboksilase piruvat, dan enzim glikoneogenesis serta membantu kinerja otak bersama enzim glutamine sintetase. Kelebihan Mn dapat menimbulkan racun yang lebih kuat dibanding besi. Toksisitas Mn hampir sama dengan nikel dan tembaga. Mangan bervalensi 2 terutama dalam bentuk permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat mengganggu membran mucous, menyebabkan gangguan kerongkongan, timbulnya penyakit “manganism” yaitu sejenis penyakit parkinson, gangguan tulang, osteoporosis, penyakit Perthe’s, gangguan kardiovaskuler, hati, reproduksi dan perkembangan mental, hipertensi, hepatitis, posthepatic cirrhosis, perubahan warna rambut, kegemukan, masalah kulit, kolesterol, neurological symptoms dan menyebabkan epilepsi. (Janelle, 2004)


2.3. Amonia
Ammonia adalah bahan kimia dengan formula kimia NH3. Yang mempunyai bentuk segi tiga. Titik leburnya ialah -75 °C dan titik didihnya ialah -33.7 °C. Pada suhu dan tekanan yang tinggi, ammonia adalah gas yang tidak mempunyai warna dan lebih ringan daripada udara. 10% larutan ammonia dalam air mempunyai pH 12. Ammonia cair terkenal dengan sifat mudah larut. Ia dapat melarutkan logam alkali dengan mudah untuk membentuk larutan yang berwarna dan dapat mengalirkan elektrik dengan baik. Ammonia dapat larut dalam air. Larutan ammonia dengan air mengandung sedikit ammonium hidroksida (NH4OH). Ammonia tidak menyebabkan kebakaran, dan tidak akan terbakar kecuali dicampur dengan oksigen. Nyala ammonia apabila terbakar adalah hijau kekuningan. Dan meletup apabila dicampur dengan udara.
Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75), namun dapat juga bertindak sebagai asam yang amat lemah (pKa=9.25). Lingkungan akan menjadi tidak seimbang, apabila perairan terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun industri pertambangan serta penggunaan pakan yang berlebihan pada usaha budidaya di tambak. Salah satu senyawa toksin dalam perairan adalah amonia (NH3-N). Kadar amonia dalam air laut sangat bervariasi dan dapat berubah secara cepat. Amonia dapat bersifat toksik bagi biota jika kadarnya melebihi ambang batas maksimum. Meningkatnya kadar amonia di laut berkaitan erat dengan masuknya bahan organik yang mudah terurai (baik yang mengandung unsur nitrogen maupun tidak). Penguraian bahan organik yang mengandung unsur nitrogen akan menghasilkan senyawa nitrat (NO3), nitrit (NO2) dan selanjutnya menjadi amonia (NH3) (Effendi, 2003).




BAB III
METODOOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum kali ini dilakukan di Laboratorium Lingkungan, Pusat Laboratorium Terpadu Universitas Isalam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 38 maret 2011. Pengambilan sampel air dilakukan di Situ gintung, Tangerang pada tanggal 31 maret 2011.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini antara lain, Vertikal water sampler, Termometer air, Tali, pH meter, Water Quality Checker, DO Meter, Botol sampel air, Pipet, UV Vis, Spektrofotometer, Timbangan Analitik, Labu Erlenmeyer 125ml, Gelas Piala 1000ml dan AAS.
Bahan yang digunakan antara lain: Akuadest, Sampel Air, Asam Sulfat 5 N, Larutan kalium, Antimonil tartat, Larutan Amonium Molibdat, Larutan Asam askorbat, Larutan Fenol
Natrium Nitroprusida, Larutan Alkalin Sitrat, Natrium Hipoklorit, Larutan Pengoksida, Larutan Amonia 1000, 100, 10 ppm; Larutan Induk Fe dan Mn 1000 ppm dan Larutan Asam Nitrat
3.3. Cara Kerja
3.3.1 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan pada tiga titik sampling di kawasan Situ Gintung yaitu pada daerah masuknya suplai air ke danau (inlet), bagian tengah danau (midlet) dan titik keluarnya air dari danau (outlet).


3.3.2. Penentuan pH dan Suhu
Sampel air yang sebelumnya di simpan dalam kulkas dikeluarkan dan diamkan beberapa saat hingga suhunya sama dengan suhu kamar, kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala lalu diukur pH dan suhu sampel tersebut dengan menggunakan pH meter, di hitung suhunya dengan termometer.
3.3.3. Uji Fosfat Dengan Metode asam Askorbat
25 ml sampel uji di pipet secara duplo dan dimasukan masing-masing kedalam erlenmeyer dan ditambahkan 1 tetes indikator fenolftalin. Jika terbentuk warna merah muda, ditambahkan tetes demi tetes H2SO4 5N sampai hilang. Ditambhakan 4ml larutan campuran dan dihomogenkan. Dimasukan kedalam kuvet pada alat spektrofotometer dan dicatat serapan maknya pada panjang gelombang 880nm dalam kisaran antara 10-30menit
3.3.4. Uji Ammonia Dengan Metode Phenat
25 sampel dipipet dan dimasukan ke dalam msing-masing erlenmeyer 25ml, kemudian ditambahkan 1ml larutan fenol dan dihomogenkan. Setelah itu ditambhakan 1 ml larutan natrium niroprusida dan dihomogenkan. Lalu ditambahkan 2,5ml larutan pengoksidasi dan dihomogenkan. Kemudian erlenmeyer ditutup dengan parafilm dan dibiarkan selama 1jam untuk pembentukan kompleks warna. Seteleh itu dikakukan pengukuran pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 640nm.
3.3.5. Uji kadar Logam Besi dan Mangan dalam Sampel air
Diambil 100ml sampel dan ditambahkan HNO3 1ml Apabila sampel keruh, dilakukan penyaringan dengan filter/sentrifuge. Kemudian dibuat larutan standar Fe dan Mn. Setelah itu dilakukan pengukuran konsentrasi larutan standar masing-masing logam dengan AAS. Apabila tidak ada pengenceran atau pemekatan pada sampel, maka konsentrasi sampel pada AAS merupakan konsentrasi yang sebenarnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian terhadap kualitas sampel air. Air yang diuji berupa sampel air yang diambil dari lokasi untuk mendapatkan bagian yang mewakili parameter dalam air yang diambil sampelnya. Dari pengujian yang dilakukan diharapkan mendapatkan data tentang kualitas air yang diujikan. Pengujian yang dilakukan antara lain uji fisik, menentukan kadar fosfat, menentukan kadar ammonium dan mengetahui kandungan besi dan mangan dalam air.
Dari hasil uji fisik sampel air didapat data sebagai berikut:
No Parameter Inlet Midlet Outlet
1 pH 6,91 6,99 7,34
2 Temperatur (0C) 26,5 26,5 27,5
Tabel 1. Hasil uji fisik sampel air
Berdasarkan tabel di atas, terdapat dua parameter yang diukur untuk menguji fisik sampel air yaitu derajat keasaman (pH) dan temperatur. Sampel air diambil dari Situ Gintung pada tiga titik sampling yaitu titik masuknya air (Inlet), tengah (Midlet) dan titik keluarnya air (Outlet). pH air pada inlet adalah sebesar 6,91; pada midlet pH air sebesar 6,99 dan pada outlet adalah sebesar 7,34. 

Diagram 1. Derajat keasaman air
pH paling rendah didapat pada daerah inlet yaitu sebesar 6,91. Nilai pH ini lebih rendah dari pH normal air yaitu 7. Hal ini di daerah inlet pH airnya bersifat sedikit lebih asam. Hal ini mungkin dapat terjadi karena pada daerah inlet dari Situ Gintung memiliki akses langsung dengan aktivitas manusia. Pada daerah ini terdapat pemukiman yang padat dan limbah cair rumah tangga semuanya di buang pada saluran air yang bermuara pada inlet dari Situ Gintung. Limbah cair yang dibuang masyarakat ke saluran air banyak mengandung bahan kimia seperti deterjen. Hal inilah yang mungkin menyebabkan pH air menjadi lebih asam. Untuk nilai pH paling tinggi diperoleh pada titik outlet yaitu sebesar 7,34. Hal ini dapat terjadi karena tingginya nilai alkalinitas air akibat adanya akumulasi logam dan mineral alkali pada bagian pintu air tanggul Situ Gintung sehingga kadar pH pada daerah tersebut meningkat. Pada daerah midlet pH air danau mendekati netral, artinya belum terjadi pencemaran yang begitu tinggi dan belum terjadi akumulasi logam alkali pada daerah tersebut. Namun demikian, pH air di Situ Gintung masih berada pada kisaran normal yaitu 6,5-7,5.
Fluktuasi nilai pH pada air danau dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain: (1) Bahan organik atau limbah organik. (2) Meningkatnya kemasaman dipenga-ruhi oleh bahan organik yang membebaskan CO2 jika mengalami proses penguraian, bahan anorganik atau limbah anorganik. (3)Air limbah industri bahan anorganik umumnya mengandung asam mineral dalam jumlah tinggi sehingga kemasamannya juga tinggi. Basa dan garam basa dalam air seperti NaOH2 dan Ca(OH)2 dan sebagainya. (4)Hujan asam akibat emisi gas.
Berdasarkan data pada tabel di atas, tempeatur air di ketiga titik sampel tidak memiliki perbedaan yang signifikan yaitu berada pada kisaran 26,5-27,5oC. Temperatur air ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kecepatan angin, intensitas cahaya dan salinitas. 

Diagram 2. Temperatur air
Selanjutnya, kualitas air diukur dengan menentukan kadar fosfat di dalam air. Fosfat yang terkandung dalam air dapat di lihat dari tabel di bawah ini:
No Sampel Fosfat (mg/L)
1 Inlet 0,1771
2 Midlet -0,0148
3 Outlet 0.0589
Tabel 2. Kadar fosfat dam air
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat hasil analisis kadar fosfat per liter air di tiga titik sampling yang dilakukan. Pada titik sampel di inlet kadar fosfatnya sebesar 0,1771 mg/L, pada midlet terdapat kandungan fosfat di bawah 0.01 mg/L dan pada outlet sebesar 0,0589 mg/L. Kandungan fosfat paling tinggi terdapat pada sampel inlet yaitu sebesar 0,1771 mg/L dan yang paling rendah ada titik sampling inlet yaitu di bawah nilai 0.01mg/L.
Menurut Sudja (1985) bahwa, sebagian senyawa fosfat yang terlarut dalam air tanah terbawa aliran air sungai menuju laut atau danau, kemudian mengendap pada dasar laut atau danau. Penambahan senyawa fosfat tulang-tulang ikan yang mati, dan dari proses pemupukan yang mengandung fosfat.
Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organisme dalam air. Dalam air limbah senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian. Di daerah pertanian ortofosfat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Fosfat organis terdapat dalam air buangan penduduk (tinja) dan sisa makanan. 
Bila kandungan fosfat terlarut dihubungkan dengan kesuburan perairan, maka perairan dapat digolongkan menjadi 5 kategori yang dapat dilihat pada Tabel 4.5

Tabel 3. Kriteria kesuburan perairan berdasarkan kandungan fosfat 
PO4 (ppm) Kesuburan Perairan
0,000 - 0,020 
0,021 - 0,05
0,051 – 0,10
0,11 – 0,20
0,21 Rendah
Cukup
Baik
Sangat baik
Sangat baik sekali

Untuk kandungan amoniak dalam sampel air Situ Gintung dapat disajikan pada tabel di bawah ini:
No Sampel Ammoniak (mg/L)
1 Midlet 0,1451
2 Inlet 0,4016
3 Outlet 0,0095
Tabel 4. Kadar ammonia dalam sampel air
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat hasil analisis pengukuran kadar amoniak yang ter tinggi di peroleh dari titik sampling inlet yaitu sebesar 0,4016 mg/L dan kadar amoniak paling rendah didapat dari titik sampling outlet yaitu sebesar 0,0095 mg/L.
Amonia dapat bersifat toksik bagi biota jika kadarnya melebihi ambang batas maksimum. Meningkatnya kadar amonia di air berkaitan erat dengan masuknya bahan organik yang mudah terurai (baik yang mengandung unsur nitrogen maupun tidak). Penguraian bahan organik yang mengandung unsur nitrogen akan menghasilkan senyawa nitrat (NO3), nitrit (NO2) dan selanjutnya menjadi amonia (NH3) (Effendi, 2003) Ammonia adalah bahan kimia dengan formula kimia NH3 yang mempunyai bentuk segi tiga. Titik leburnya ialah -75 °C dan titik didihnya ialah -33.7 °C. Pada suhu dan tekanan yang tinggi, ammonia adalah gas yang tidak mempunyai warna dan lebih ringan daripada udara. 10% larutan ammonia dalam air mempunyai pH 12.
Ammonia cair terkenal dengan sifat mudah larut. Ia dapat melarutkan logam alkali dengan mudah untuk membentuk larutan yang berwarna dan dapat mengalirkan elektrik dengan baik. Ammonia dapat larut dalam air. Larutan ammonia dengan air mengandung sedikit ammonium hidroksida (NH4OH). Ammonia tidak menyebabkan kebakaran, dan tidak akan terbakar kecuali dicampur dengan oksigen. Nyala ammonia apabila terbakar adalah hijau kekuningan. Dan meletup apabila dicampur dengan udara.
Untuk hasil analisis kadar besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam air Situ Gintung disajikan dalam tabel di bawah ini:
No Sampel Kadar Fe (mg/L) Kadar Mn (mg/L)
1 Inlet 0,869 0,411
2 Midlet 0,953 1,431
3 Outlet 0,770 1,367
Tabel 5. Kadar Fe dan Mn dalam sampel air
Dari data hsil analisis kadar besi dan mangan di atas, dapat terlihat bahwa kadar besi yang terkandung dalam air Situ Gintung bervariasi. Kadar besi paling tinggi diperoleh dari hasil sampling di bagian midlet yaitu sebesar 0,953 mg/L dan kadar besi paling rendah diperoleh dari titik sampling di bagian outlet yaitu sebesar 0,770 mg/L. Pada bagian inlet, kadar besi yang tekandung sebesar 0,869. Nilai ini diperoleh dari hasil analisis kadar logam dengan menggunakan instrumen Atomic Absobtion Spectrofotometer (AAS).
Kadar logam dalam air menentukan kualitas air di suatu lokasi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-syarat Air Bersih, dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat dan pengawasan Kualitas Air Minum, maka kadar maksimum yang diperbolehkan untuk Fe adalah 0,3 mg/L. Dari hasil analisis kadar besi menunjukkan bahwa kadar besi pada ketiga titik sampling di Situ Gintung menunjukkan nilai yang melebihi kadar besi standar air brsih, sehingga dapat dinyatakan bahwa air di Situ Gintung tidak memenuhi standar untuk parameter besi (Fe).
Untuk hasil analisis kadar mangan, nilai kadar logam tertinggi juga diperoleh dari titik sampel midlet yaitu sebesar 1,431 mg/L dan kadar mangan paling rendah terdapat pada inlet yaitu sebesar 0,411 mg/L. Nilai ini juga menunjukkan bahwa kadar mangan di perairan Situ gintung tidak memenuhi standar air bersih, karena menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-syarat Air Bersih, dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat dan pengawasan Kualitas Air Minum, maka kadar maksimum yang diperbolehkan untuk mangan adalah sebesar 0,1 mg/L.


BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
• pH air di kawasan Situ Gintung berada dalam kisaran normal
• Kadar fosfat paling tinggi di dapat pada titik sampling inlet
• Kandungan ammonia tertinggi diperoleh dari pengukuran sampel inlet
• Situ gintung tidak memenuhi standar air bersih untuk parameter Besi dan Mangan


DAFTAR PUSTAKA
Alaerts, G. dan Sri Santika Sumestri. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional 
Arifin. 2007. Tinjauan dan Evaluasi Proses Kimia (Koagulasi, Netralisasi, Desinfeksi) di Instalasi Pengolahan Air Minum Cikokol, Tangerang. Tangerang : PT. Tirta Kencana Cahaya Mandiri. 
Arifiani, N.F dan Hadiwidodo, M. 2007. Evaluasi Desain Instalasi Pengolahan Air PDAM Ibu Kota Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten. Semarang : FT-TL Universitas Diponegoro.
Eaton, Andrew. Et.al. 2005. Standard Methods for Examination of Water and Wastewater. 21st Edition. Marryland – USA : American Public Health Association.
Janelle Crossgrove dan Wei Zheng. 2004. Review Article : Manganese Toxicity Upon Overexposure. Indiana – USA : John Wiley & Sons, Ltd.
Rumapea, Nurmida. 2009. Penggunaan Kitosan dan Polyaluminium Chlorida (PAC) Untuk Menurunkan Kadar Logam Besi (Fe) dan Seng (Zn) Dalam Air Gambut. Medan : Pascasarjana – USU.
Said, Nusa Idaman. 2003. Metoda Praktis penghilangan Zat besi dan Mangan Di Dalam Air Minum. Jakarta : Kelair – BPPT

Selasa, 31 Mei 2011

Satu Aksi Untuk Pulau seribu

Satu Aksi Untuk Pulau Seribu, merupakan salah satu agenda kegiatan divisi Konservasi Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) Oryza sativa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang baru dilaksanakan kali ini dan diharapkan menjadi kegiatan rutin setiap tahun karena kegiatan ini mendapat dukungan positif dari pihak dosen, dekanat dan pemerintah setempat.
Kegiatan Satu Aksi Untuk Pulau Seribu ini dilakukan di Pulau Pari, Kelurahan Pulau Pari, Kepulauan seribu. Pulau Pari dipilih sebagai lokasi kegiatan karena Pulau Pari Memiliki pantai yang indah dan memerlukan perhatian khusus mengenai masalah konservasi di pesisir pantainya. Selain itu pulau pari merupakan tempat yang sudah tidak asing bagi mahasiswa Biologi UIN Jakarta, karena beberapa angkatan pernah melakukan kegiatan praktikum lapangan (Fieldtrip) dan beberapa alumninya pernah melakukan penelitian di pulau ini.
Kegiatan Satu Aksi Untuk Pulau Pari ini didasarkan karena adanya kesadaran mahasiswa akan pentingya melestarikan ekosisten pesisir yang rentan mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia. Beberapa kegiata yang dilakukan diantaranya adalah membersihkan sampah di pesisir pantai, membuat banner pengolahan sampah dan penanaman mangrove untuk mencegah aberasi pantai. Kegiatan yang diketuai oleh Radhit(Bio09) ini berhasil mengumpulkan sampah anorganik sebanyak ±1ton dari ratusan meter bibir pantai dan menanam ratusan batang pohon Bakau di di pantai Pulau Pari.

Biologi UIN Akan Dirikan Stasiun Penelitian di Pulau Pari

Program Studi (Prodi) Biologi UIN Jakarta berencana akan mendirikan satasiun penelitian di Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Hal itu diungkapkan oleh ketua Prodi Biologi Dr. Lily Surayya E.P, M.Env.Stud dalam sambutan pada kunjungannya ke Pulau Pari bersama mahasiswa Biologi yang melaksanakan kegiatan Satu Aksi untuk Pulau Seribu. Dalam sambutannya itu Ibu Lily juga menyatakan bahwa kunjungannya ke Pulau Pari juga sebagai penjajakan ke masyarakat dan pemerintah setempat terhadap rencana pembuatan stasiun penelitian milik Biologi UIN itu di Pulau Pari.
Stasiun penelitian yang akan dibangun ini merupakan program jangka panjang prodi Biologi untuk memudahkan mahasiswa yang memfokuskan penelitian di bidang kelautan dan upaya untuk mempromosikan prodi Biologi ke masyarakat luas serta turut membatu dalam hal pendidikan terhadap masyarakat setempat. Di Pulau Pari sendiri telah berdiri stasiun penelitian milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Oseanografi, yang terletak di ujung sebelah barat pulau pari. Sejauh ini LIPI telah memberi kontribusi ke masyarakat setempat dengan menyediakan bibit rumput laut bagi petani yang hingga saat ini menjadi mata pencaharian utama penduduk setempat.
“SDM kita siap untuk mengelola stasiun ini,” kata Ibu Lily di hadapan mahasiswa dan para dosen yang ikut dalam acara sharing akademis di Home stay Pulau Pari. Menurutnya, kalau perlu akan dibentuk klub selam Biologi untuk mendukung skil mahasiswa dalam bidang kelautan. Saat ini Ibu Lily telah berkordinasi dengan salah satu dosen biologi Dr. Joni Haryadi, M.Sc yang akan ditunjuknya sebagai instruktur selam dalam klub selam Biologi ini. Klub selam ini akan dibuka bagi semua mahasiswa biologi. Selanjutnya dalam waktu dekat Ibu Lily akan kembali ke Pulau Pari Untuk membahas areal dan perizinan pembagunan stasiun penelitian Biologi ini. Kita tunggu saja.


Sandi dan Sita peserta terbaik
Dalam acara Satu Aksi Untuk Pulau Seribu, panitia dan para dosen mengadakan penilaian terhadap para peserta yang mengikuti acara dengan disiplin dan sungguh-sungguh. Panitia menobatkan dua orang peserta terbaik yaitu Sandi Achmad sebagai peserta putera terbaik dan Sita Khotimah sebagai peserta putri terbaik. Penilaian peserta terbaik ini tidak dipublikasikan ke peserta sebelumnya karena acara ini merupakan kejutan bagi peserta. Selain peserta terbaik panitia dan dosen juga menyiapkan hadiah berupa reward yang akan diundi dan diberikan kepada peserta yang beruntung.

Antusiasme dosen

Antusiasme dosen dalam dalam acara Satu Aksi Untuk Pulau Seribu kali ini bisa dibilang luar biasa. Acara ini dahadiri oleh empat orang dosen dari prodi biologi dan tujuh orang keluarga dosen yang turut serta. Acara kali ini sekaligus dimanfaatkan oleh para dosen sebagai liburan keluarga. “Sekalian saja saya bawa keluarga biar tau di pulau kakay apa” kata Pak Joni yang membawa seluruh anggota keluarganya ke Pulau Pari. Acara ini diikuti oleh 43 orang mahasiswa aktif (panitia dan peserta) dan juga dua orang alumni undangan.

Beauty of Pari Island
Pulau Pari, merupakan salah satu pulau yang terdapat di Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pulau ini memiliki keindahan yang mempesona, sehingga dapat membuat orang yang pernah mengunjunginya ingin berkunjung kembali. Menikmati keindahan bawah laut, menikmati matahari tenggelam, bersepeda berkeliling pulau atau sekedar bermain air merupakan sebagian kecil dari kegiatan seru yang dapat kita lakukan di pulau pari. Melalui kegiatan Satu Aksi Untuk Pulau Seribu yang diadakan HIMBIO, pesertanya dapat merasakan semua keindahan Pulau Pari tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Selain melakukan kegiatan konservasi peserta bisam mendapatkan liburan yang murah meriah.

Senin, 25 April 2011

Persaingan Intra Spesifik

BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang
Beberapa waktu terakhir, berbagai upaya memaksimalkan hasil tanaman budidaya telah banyak dilakaukan oleh para petani. Upaya-upaya tersebut dapat berupa penggunaan bibit unggul atau mengatur jarak tanam. Pengaturan populasi tanaman pada hakekatnya adalah pengaturan jarak tanam yang nantinya akan berpengaruh pada persaingan dalam penyerapan zat hara, air, dan cahaya matahari. Jika hal tersebut tidak diatur dengan baik , hasil tanaman akan ikut terpengaruh. Jarak tanam rapat akan mengakibatkan terjadinya suatu kompetisi, baik inter maupun intraspesies. Beberapa penelitian tentang jarak tanam menunjukkan bahwa semakin rapat jarak tanam maka semakin tinggi tanaman tersebut dan secara nyata akan berpengaruh terhadap jumlah cabang, luas permukaan daun dan pertumbuhan tanaman.
Mengingat pentingnya mengengetahui jarak tanaman ideal untuk pertumbuhan tanaman ini, maka dilakukan penelitian tentang kompetisi yang terjadi pada tanaman yang sejenis maupun yangberbeda spesies. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya pengamatan kompetisi pada tanaman ini.

I.II. Tujuan
• Mengetahui apakah terjadi pengaruh kompetisi intraspesifik dan interspesifik terhadap pertumbuhan tanaman jagung dan kacang hijau
• Menguji hipotesis untuk mengetahui kebenarannya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Di alam persaingan dapat terjadi antara individu-individu dalam satu jenis (intraspesifik) ataupun dari jenis yang berbeda (interspesifik). Persaingan tersebut terjadi karena individu-individu mempunyai kebutuhan yang sama terhadap faktor-faktor yang tersedia dalam jumlah yang terbatas di dalam lingkungan seperti tempat hidup, cahaya, air dan sebagainya. Persaingan yang dialkukan oleh hewan sangat berbeda dengan persaingan pada tumbuhan. Pada dasarnya persaingan pada tumbuhan tidak dilakukan secara fisik tetapi akibat dari persaingan tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas keduanya.
Kompetisi
Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono, 2005).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak. Organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton, 1990).
Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacam-macam, salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secara merugikan. Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi, spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive exclusion principles ) (Ewusie,1990).
Macam-macam Kompetisi
Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a. intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama
b. Kompetisi interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama
c. Intraplant competition yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar organ vegetatif atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman
d. Interplant competition yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan spesiesnya (dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition) (Kastono , 2005)
Persaingan intraspesifik
Persaingan intraspesifik pada tumbuhan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1. Jenis tanaman
Sifat-sifat biologi tumbuhan, sistem perakaran, bentuk pertumbuhan serta fisiologis tumbuhan mempemngaruhi pertumbuhan tanaman. Misal sistem perakaran tanaman ilalang yang menyebar luas menyebabkan persaingan dalam memperebutkan unsur hara. Bentuk daun yang lebar seperti daun talas menyebabkan persaingan dalam memperebutkan air.
2. Kepadatan tumbuhan
Jarak yang sempit antar suatu tanaman pada suatu lahan menyebabkan persainagn terhadap zat-zat makanan. Hal ini karena unsur hara yang tersedia tidak mencukupi bagi pertumbuhan tanaman.
3. Penyebaran tanaman
Penyebaran tanaman dapat dilakukan melalui penyebaran biji dan melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yag penyebarannya dengan biji mempunyai kemampuan bersaing yang lebih tinggi dari tanaman yang menyebar daengan rimpang. Namun demikian, persaingan penyebaran tanaman tersebut sangat dipengaruhi faktor-faktor lingkunganlain seperti suhu, cahaya, oksigen dan air.
4. Waktu
Hal lain yang mempengaruhi adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Periode 20-30% pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang disebabkan oleh persaingan.
Persaingan Interspesifik
Adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies. Hukum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni tempat yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian dari lahan tersebut, dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu lahan mikro yang terpisah (Michael, 1994).
Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem akan bersaing untuk mendapatkan air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.I Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini dilakukan di Pusat Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu pengamatan dilaksanakan pada tanggal 18 Maret – 15 April 2010.

III.II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah penggali, pisau, penggaris, termometer, sling psichometer, lux meter, soil tester, dan timbangan elektrik. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah poly bag 17x 25 cm, bibit kacang hijau, bibit jagung, tanah dan aquades.

III.III. Cara kerja
Pada praktikum kali ini akan dibuat kecambah untuk melihat persaingan antara kedua jenis tanaman yaitu intra spesifik dan interspesifik pada bibit jagung dan kacang hijau. Setelah itu jagung dan kacang ditanam kedalam poly bag yang sudah diisikan tanah. Amati dan catat perubahan tinggi tanaman tersebut setiap 3 hari sekali selama sebulan, dan untuk setiap harinya dilakukan penyiraman sebanyak 30 mL air di semua permukaan poly bag. Pada hari pertama ditanamnya kedua tanaman tersebut dilakukan pengukuran fisik. Dan pada hari panennya dilakukan pengukuran fisik kembali. Setelah panen masing-masing tanaman dihitung biomassanya dengan menggunakan timbangan analitik.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel hasil pengamatan tanaman jagung
Berat rata-rata (gr)
J1 J2 J4 J8
Kelompok 1 0 1,10 1,12 0,71
Kelompok 2 0 1,17 0,27 0,70
Kelompok 3 0 0,20 0,50 0,65
Jumlah 0 1,48 1,90 2,06
T 5,44
Rata-rata (µ) 0 0,49 0,64 0,68
Total rata-rata 1,30
Tabel hasil pengamatan tanaman kacang hijau
Berat rata-rata (gr)
K1 K2 K4 K8
Kelompok 1 0,50 0,50 0,37 0,32
Kelompok 2 0,40 0,15 0,27 0,10
Kelompok 3 0,50 0,50 0,30 0,24
Jumlah 1,40 1,15 0,95 0,67
T 4,17
Rata-rata (µ) 0,46 0,38 0,32 0,22
Total rata-rata 0,35

Kompetisi merupakan suatu interaksi yang terjadi pada suatu komunitas untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas. Secara sederhana kompetisi terbagi atas kompetisi interspesies dan kompetisi intraspesies. Percobaan ini sendiri bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompetisi terhadap pertumbuhan tanaman dimana spesies yang digunakan adalah Zea mays (jagung) dan Phaseolus radiatus (kacang hijau).
Tabel F hitung untuk tanaman jagung
Sumber variasi Jumlah kuadrat Derajat kebebasan (V) Rataan kuadrat F hitung
Perlakuan 0,88 3 0,29

2,47
Galat 0,94 8 0,117
Total 1,82 11

Tabel F hitung untuk tanaman kacang hijau
Sumber variasi Jumlah kuadrat Derajat kebebasan (V) Rataan kuadrat F hitung
Perlakuan 0,1 3 0,03

2,14
Galat 0,11 8 0,014
Total 0,21 11
Dari hasil perhitungan kedua tanaman di atas didapatkan F hitung lebih kecil daripada F tabel untuk tingkat kesalahan 5% (α=0,05). Dari hasil ini maka hipotesis awal dapat diterima atau ho diterima yaitu µ1 = µ2 = ...... = µk.

Dari grafik diatas dapat diamati perbedaan tinggi rata-rata untuk tanaman kacang hijau. Umumnya rata-rata tinggi tanaman bertambah dan sejalan dengan bertambahnya usia tanaman. Pertambahan tinggi tanaman ini dipengaruhi oleh unsur hara yang tersedia di polybag. Dari grafik terlihat bahwa rata-rata pertumbuhan tanaman kacang dari berbagai formasi tanaman terlihat seimbang, artinya semua tanaman mengalami pertumbuhan kecuali pada pola kompetisi dengan 8 tanaman kacang dalam satu polybag (K8). Pada tanaman di K8 terdapat penambahan tanaman yang mati sehingga rata-rata pertumbuhan mengalami penurunan. Kematian tanaman ini mungkin diakibatkan tanaman tersebut tidak dapatbersaing untuk mendapatkan unsur hara. Setelah pengukuran di hari berikutnya pertumbuhan meningkat kembali.

Dari grafik rata-rata pertumbuhan tanaman jagung diatas dapat terlihat bahwa pada seiring bertambahnya usia tanaman maka tanaman mengalami pertambahan pertumbuhan. Umumnya semakin banyak tanaman dalam satu polybag maka tinggi tanaman akan semakin rendah karena terjadi persaingan memperebutkan sumberdaya yang terbatas di dalam polybag. Namun pada percobaan kali ini pada pola persaingan dengan satu tanaman dalam satu polybag tidak mengalami pertumbuhan. Hal ini mungkin disebabkan pada kurang baiknya bibit atau biji jagung yang ditanam sehingga biji tersebut tidak mengalami pertunmbuhan. Sebaliknya pada pola kompetisi dengan delapan tanaman dalam satu polybag (J8) mengalami prtumbuhan paling pesat. Hal ini mungkin saja terjadi apabila suplai unsur hara di tempat tersebut mencukupi untuk pertumbuhan tanaman di tempat tersebutselama masa pengamatan. Artinya tingkat persaingan di tempat tersebut tidak terlalu besar. Namun bukan tidak mungkin pada hari-hari berikutnya terjadi persaingan yang lebih besar.

Pada pengamatan untuk pola persaingan dengan satu, dua tiga dan empat tanaman kacang dan jagung dalam satu polybag dapat terlihat persaingan yang begitu kompleks. Tinggi rata-rata tanaman kacang umumnya lebih tinggi dari tinggi rata-rata tanaman jagung. Adapun rata-rata tanaman kacang yang tinggi rata-ratanya nilainya kecil, diakibatkan terdapat tanaman yang mati pada tempat tersebut. Nilai pertumbuhan tanaman umumnya meningkat, namun pada pola JK4 tanaman kacang mengalami penurunan rata-rata tinggi tanaman. Hal ini dikarenakan terdapat taanaman yang mati di hari pengamatan ke 21. Artinya terjadi persaingan dalam memperebutakn unsur hara.

Hasil pengukuran massa tanaman kacang tanahdapat dilihat pada tabel di atas. Dari tabel di atas dapat terlihat bahwa massa tanaman setelah dipanen tertinggi diperoleh dari relung yang di tempati hanya satu tanaman (K1) dan massa tanaman terendah pada pola kompetisi empat tanaman (K4). Hal ini dikarenakan pada tanaman K1 tanaman ini tumbuh subur dan tinggi sehingga massa tanaman ini juga lebih besar. Berbeda dengan tanaman di K4, massa tanaman ini setelah dipanen paling rendah karena tanaman ini mati sebelum di panen sehingga tanaman ini kehilangan massanya(tanaman menjadi kering). Untuk tanamadi K3 dan di K2 massa tanaman normal yaitu massa tanaman K3 lebih besar dari tanaman K2. Hal ini karena ketiga tanaman K3 tumbuh dengan tanaman baik begitu pula dengan tanaman K2.


Untuk data perhitungan massa rata-rata untuk tanaman jagung disajikan dalam tabel di atas. Dari tabel di atas terlihat bahwa massa terbesar terdapat pada tempat dengan delapan tanaman jagung (J8) dan yang paling kecil pada tanaman dengan satu jagung. Pada tanaman dengan satu jagung bahkan tidak terjadi pertumbuhan sejak awal (J1). Pada tanaman J8 jumlah tanaman paling banyak tumbuh sehingga massanya juga paling besar.

Dari grafik di atas terlihat perbedaan massa tanaman jagung dengan massa tanaman kacang hijau. Massa tanaman jagung lebih besar karena ukuran tanaman jagung dan tanaman kacang hijau sangat berbeda. Ukuran tanaman jagung lebih besar daripada ukuran tanaman kacang hijau.
Secara umum, pertumbuhan tanaman kacang hijau baik pada pola interaksi kompetisi intraspesifik maupun pola kompetisi interspesifik pertumbuhannya lebih baik dibandingkan dengan tanaman jagung. Selain dilihat dari tinggi tanaman juga dapat dilihat dari banyaknya biji yang tumbuh ataupun banayaknya biji yang tidak tumbuh. Tinggi tanaman muda kacang hijau lebih tinggi dibandingkan tinggi tanamn muda jagung. Persaingan diantara tumbuhan ini secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, sistem-sistem ini akan bersaing untuk air dan bahan makanan. Dan karena mereka tidak bergerak, maka ruang menjadi faktor penting, di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi menguasai sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembaban serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).
Menurut Odum, interaksi yang bersifat persaingan sering melibatkan ruangan, pakar atau hara, sinar, bahan-bahan buangan atau sisa, penyakit dan sebagainya, dan banyak lagi tipe interksi timbal balik atau bersama. Akibat persaingan sangat menarik dan telah banyak dipelajari sebagai salah satu mekanisme seleksi alam. Persaingan antarjenis dapat berakibat dalam penyesuaian keseimbangan dua jenis, atau dapat berakibat dalam penggantian populasi jenis satu dengan yang lainnya atau memaksanya yang satunya itu untuk menempati tempat lain atau menggunakan pakar lain, tidak perduli apapun yang menjadi dasar persaingannya itu. Sering kali teramati bahwa organisme-organisme yang dekat hubungannya mempunyai kebiasaan atau bentuk-bentuk hidup yang serupa sering kali tidak terdapat didalam tempat-tempat yang sama. Apabila mereka tinggal ditempat yang sama, mereka menggunakan pakan yang berbeda, mereka aktif yang berbeda, atau kalau tidak mereka menempati relung-relung ekologi yang berbeda.

BAB V
KESIMPULAN
•Pertumbuhan tanaman kacang hijau lebih cepat daripada tanaman jagung

•Semakin besar massa tanaman maka tingkat persaingan semaki kecil

•Tanaman jagung bersaing intraspesifik dengan sesama tanaman jagung dan bersaing interspesifik dengan tanaman kacang hijau

•Persaingan intraspesifik dan persaingan interspesifik memberi pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jagung maupun tanaman kacang hijau

DAFTAR PUSTAKA
Ewusie. 1990. Ekologi Tropika . ITB . Bandung.
Kastono. 2005. Ilmu Gulma, Jurusan Pengantar Budidaya Pertanian. UGM. Yogyakarta.
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. UI Press . Jakarta.
Naughton. 1998. Ekologi Umum, edisi kedua. UGM Press . Yogyakarta.
Odum. 1993. Dasar-dasar Ekologi. UGM Press. Yogyakarta.

Selasa, 15 Maret 2011

Makro Fauna Tanah

BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Di lingkungan Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki potensi keanekaragaman makro fauna tanah yang variatif, karena memiliki lingkungan yang ditumbuhi oleh pepohonan ( lingkungan bervegetasi pohon ) dan lingkungan yang ditumbuhi oleh rerumputan (lingkungan bervegetasi rumput).
Keanekaragaman jenis makrofauna tanah ini sangat penting bagi ekosistem di kedua vegetasi tersebut, karena keanekaragaman makrofauna tanah yang terdapat pada kedua vegetasi tersebut menentukan kualitas tanah di lahan tersebut.
Mengingat pentingnya peran fauna tanah dalam menjaga keseimbangan ekosistem tanah dan masih relatif terbatasnya informasi mengenai keberadaan fauna tanah, perlu dieksplorasi potensi fauna tanah sebagai bioindikator kualitas tanah. Fauna tanah, termasuk di dalamnya serangga tanah, memiliki keanekaragaman yang tinggi dan masing-masing mempunyai peran dalam ekosistem. Diharapkan informasi yang didapatkan bisa digunakan sebagai data pendukung dalam pengelolaan lahan di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
I.II. Tujuan
Mengamati keanekaragaman makrofauna tanah di daerah bervegetasi pohon dan daerah bervegetasi rumput.
Mengetahui nilai indeks kekeanekaragaman dan indeks kesamaan makrofauna tanah di kedua vegetasi tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah merupakan suatu bagian dari ekosistem terrestrial yang di dalamnya dihuni oleh banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah. Biodiversitas tanah merupakan diversitas alpha yang sangat berperan dalam mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang kehidupan di dalam dan di atasnya. Pemahaman tentang biodiversitas tanah masih sangat terbatas, baik dari segi taksonomi maupun fungsi ekologinya (Baker, 1998).
Makrofauna tanah merupakan kelompok fauna bagian dari biodiversitas tanah yang berukuran 2 mm sampai 20 mm (Gorny dan Leszek, 1993). Makrofauna tanah merupakan bagian dari biodiversitas tanah yang berperan penting dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi. Dalam dekomposisi bahan organik, makrofauna tanah lebih banyak berperan dalam proses fragmentasi (comminusi) serta memberikan fasilitas lingkungan (mikrohabitat) yang lebih baik bagi proses dekomposisi lebih lanjut yang dilakukan oleh kelompok mesofauna dan mikrofauna tanah serta berbagai jenis bakteri dan fungi. Peran makrofauna tanah lainnya adalah dalam perombakan materi tumbuhan dan hewan yang mati, pengangkutan materi organik dari permukaan ke dalam tanah, perbaikan struktur tanah, dan proses pembentukan tanah. Dengan demikian makrofauna tanah berperan aktif untuk menjaga kesuburan tanah atau kesehatan tanah (Hakim, 1986 ; Adianto, 1993 ; Foth, 1994).
Organisme sebagai bioindikator kualitas tanah bersifat sensitif terhadap perubahan, mempunyai respon spesifik dan ditemukan melimpah di dalam tanah (Primack, 1998). Salah satu organisme tanah adalah fauna yang termasuk dalam kelompok makrofauna tanah (ukuran > 2 mm) terdiri dari milipida, isopoda, insekta, moluska dan cacing tanah (Wood, 1989). Makrofauna tanah sangat besar peranannya dalam proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah (Anderson, 1994). Biomasa cacing tanah telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk mendeteksi perubahan pH, keberadaan molekul organik, kelembaban tanah dan kualitas humus. Rayap berperan dalam pembentukan struktur tanah dan dekomposisi bahan organik (Anderson, 1994).
Penentuan bioindikator kualitas tanah diperlukan untuk mengetahui perubahan dalam sistem tanah akibat pengelolaan yang berbeda. Perbedaan penggunaan lahan akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah (Lavelle, 1994). Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman secara monokultur pada sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan terjadinya penurunan secara nyata biodiversitas makrofauna tanah (Crossley et al., 1992; Paoletti et al., 1992; Pankhurst, 1994).
Menurut Baker (1998), populasi, biomasa dan diversitas makrofauna tanah dipengaruhi oleh praktek penggelolaan lahan dan penggunaannya. Sebaliknya, pada lahan terlantar karena kualitas lahannya tergolong masih rendah menyebabkan hanya makrofauna tanah tertentu yang mampu bertahan hidup, sehingga diversitas makrofauna tanah baik yang aktif di permukaan tanah maupun di dalam tanah juga sangat rendah.
Fauna tanah memerlukan persyaratan tertentu untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Struktur dan komposisi makrofauna tanah sangat tergantung pada kondisi lingkungannya. Makrofauna tanah lebih menyukai keadaan lembab dan masam lemah sampai netral (Notohadiprawiro, 1998). Hakim dkk (1986) dan Makalew (2001), menjelaskan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi aktivitas organisme tanah yaitu, iklim (curah hujan, suhu), tanah (kemasaman, kelembaban, suhu tanah, hara), dan vegetasi (hutan, padang rumput) serta cahaya matahari.
Cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat-sifat tumbuhan dan hewan (Soetjipta, 1992). Tumbuhan dan hewan yang berbeda memiliki kebutuhan akan cahaya, air, suhu, dan kelembapan yang berbeda (Reinjtjes et al.,1999). Jumar (2000) menyebutkan berdasarkan responnya terhadap cahaya, makrofauna tanah ada yang aktif pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Sugiyarto (2000) menjelaskan bahwa kebanyakan makrofauna permukaaan tanah aktif di malam hari. Selain terkait dengan penyesuaian proses metabolismenya, respon makrofauna tanah terhadap intensitas cahaya matahari lebih disebabkan oleh akitivitas menghindari pemangsaan dari predator. Dengan pergerakaannya yang umumnya lambat, maka kebanyakan jenis makrofauna tanah aktif atau muncul ke permukaan tanah pada malam hari.
Bahan organik tanaman merupakan sumber energi utama bagi kehidupan biota tanah, khususnya makrofauna tanah (Suin, 1997), sehingga jenis dan komposisi bahan organik tanaman menentukan kepadatannya (Hakim dkk, 1986). Makrofauna tanah umumnya merupakan konsumen sekunder yang tidak dapat memanfaatkan bahan organik kasar/seresah secara langsung, melainkan yang sudah dihancurkan oleh jasad renik tanah (Soepardi, 1983).


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.I Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini di lakukan di lingkungan Pusat Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu pengamatan dilaksanakan pada tanggal 1 April 2010 pukul 09.30-11.30 WIB.
III.II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain: botol air mineral ukuran 1,5 liter, fiber glass, botol koleksi, tali rafia, alat gali, soil tester, termometer dan luxmeter. Baha yang diguakan dalam praktikum kali ini antara lain: air, detergent dan formalin 4%.
III.III. Cara kerja
Metode yang digunakan pada ptaktikum kali ini menggunakan metode Pit Fall Trap. metode ini dilakukan dengan cara membuat 5 buah lubang pada tanah sedalam 10 cm yang membentuk lingkaran yang masing-masing berjarak 1 m. Kemudian kedalamnya dimasukan botol gelas perangkap yang telah diisi oleh formalini 4% dan larutan detergen sebanyak 50 ml. bagian atas gelas perangkap ditutup oleh fiberglass setinggi 10 cm dan dibuat agak miring untuk meghindari masuknya air hujan kedalam lubang perangkap. Perangkap tersebut dipasang selama 7 hari dan dilakukan prngumpulan sample selama dua hari sekali. Fauna tanah yang terperangkap kemudian dimasukan kedalam plasti sampel dan dibawa ke Laboratorium untuk keperluan analisis data.
Pada masing masing lubang juga dilakukan pengukuran beberapa faktor variabel lingkungan seperti intensitas cahaya, kelembaban udara, kelembaban tanah, pH tanah, dan suhu tanah, baik pada lingkungan bervegetasi pohon maupun pada lingkungan bervegetasi rumput.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Kompilasi data makro fauna tanah yang ditemukan di vegetasi rumput

No Taksa Σindividu KR(%) Pi ln Pi Pi.lnPi
1 Hymenoptera 1 151 36.47 0,365 -1,007 -0,367
2 Hymenoptera 2 81 19,56 0,147 -1,917 -0,281
3 Hymenoptera 3 23 5,55 0,055 -2,900 -0,159
4 Hymenoptera 4 28 6,76 0,067 -2,703 -0,181
5 Hymenoptera 5 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
6 Diptera 115 27,7 0,002 -6,214 -0,012
7 Kadal 2 0,48 0,277 -1,283 -0,355
8 Arachnida 1 1 0,24 0,005 -5,298 -0,026
9 Arachnida 2 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
10 Gastropoda 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
11 Homoptera 3 0,72 0,007 -4,960 -0,035
12 Chilopoda 2 0,48 0,005 -5,298 -0,026
13 Scorpionida 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
14 Hirudinea 4 0,96 0,009 -4,710 -0,042
TOTAL 414 100 -1,532
H’= 1,532 e = 0,109

Kompilasi data makro fauna tanah yang ditemukan di vegetasi pohon

No Taksa Σindividu KR(%) Pi ln Pi Pi.lnPi
1 Coleoptera 1 1 0,62 0.006 -5,115 -0,030
2 Coleoptera 2 2 1,23 0,012 -4,422 -0,053
3 Hymenoptera 1 23 14,19 0,142 -1,951 -0,277
4 Hymenoptera 2 22 13,58 0,136 -1,995 -0,271
5 Hymenoptera 3 6 3,70 0,037 -3,296 -0,121
6 Hymenoptera 4 28 17,28 0,172 -1,760 -0,302
7 Oligochaeta 3 1,85 0,018 -4,017 -0,072
8 Lepidoptera1 1 0,62 0,006 -5,115 -0,030
9 Lepidoptera 2 2 1,23 0,012 -2,095 -0,053
10 Diptera 1 1 0,62 0,006 -5,115 -0,030
11 Kadal 1 0,62 0,006 -5,115 -0,030
12 Orthoptera 1 0,62 0,074 -5,115 -0,030
13 Acarina 12 7,4 0,074 -2,603 -0,192
14 Diptera 2 56 36,4 0,364 -1,010 -0,367
15 Diplopoda 1 0,62 0.006 -5,115 -0,030
16 Chilopoda 2 1,23 0,012 -4,422 -0,053
TOTAL 162 100 -2,011
H’=2,011 e= 1,125


No Faktor fisik Vegetasi pohon Vegetasi rumput
1 Suhu udara awal (℃) 28,83 30,17
2 Suhu udara akhir (℃) 32,00 27,50
3 Kelembaban awal (%) 62,67 31,67
4 Kelembaban akhir (%) 42,67 65, 00
5 Intensitas cahaya awal (klux) 1,75 85,73
6 Intensitas cahaya akhir (klux) 3,26 37,63
7 pH tanah 6,37 6,63
8 Suhu tanah (℃) 27,5 28,67

Pembahasan
Pengamatan kali ini dilakukan dengan menggunakan metode pit fall trap, yaitu dengan membuat perangkap berupa lubang dari botol mineral sedalam 10 cm yang didalamnya diisi dengan larutan formalin 4% dan larutan detergen sebanyak 50 ml. Laruta formalin berfungsi sebagai pengawet dari bagi makrofauna yang terjebak di dalam lubang. Larutan detergen berfungsi sebagai cairan yang dapat meurunkan tegangan permukaan air, karena terdapat beberapa jenis serangga dapat berdiri diatas air karena tingginya tegangan permukaan air.
Diversitas makro fauna tanah
Tinggi rendahnya jumlah makrofauna tanah pada pengamatan yang dilakukan ditentukan oleh banyak faktor diantaranya sumber makanan yang cukup dan kondisi lingkungan yang sesuai. Jumlah individu makrofauna tanah dari tiga kali pengambilan terdapat perbedaan jenis makrofauna tanah. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagi faktor seperti faktor makanan yang melimpah, suhu, pH, dan lingkungan (habitat) yang tidak sesuai dengan pola kehidupan makrofauna tanah. Menurut Baker (1998), populasi, biomasa dan diversitas makrofauna tanah dipengaruhi oleh praktek penggelolaan lahan dan penggunaannya. Pada lahan terlantar karena kualitas lahannya tergolong masih rendah menyebabkan hanya makrofauna tanah tertentu yang mampu bertahan hidup, sehingga diversitas makrofauna tanah baik yang aktif di permukaan tanah maupun di dalam tanah juga sangat rendah.
Dari hasil penyortiran semua jebakan di vegetasi rumput, terdapat 414 individu yang dapat digolongkan dalam sembilan ordo dan spesies terbanyak terdapat pada ordo hymenoptera. Pada vegetasi pohon terdapat 162 individu yang tercatat dan terbagi dalam sepuluh ordo. Pada vegetasi pohon ini spesies terbanyak juga berasal dari ordo hymenoptera.
Diversitas makrofauna tanah yang didapat dari beberapa kali penagamatan diperoleh beberapa spesies dari beberapa ordo. Pada lingkungan bervegetasi rumput terdapat dua ordo yang termasuk predominan yaitu ordo hymenoptera dan ordo diptera dengan jumlah spesies tebesar didapat dari ordo hymenoptera. Pada lingkungan bervegetasi pohon ditemukan tiga ordo yang termasuk predominan yaitu ordo hymenoptera, diptera dan acarina dengan jumlah spesies tertinggi dari kelompok diptera degan 56 individu.
Pada kedua vegetasi ini total jumlah individu tertinggi adalah jenis semut (ordo hymenoptera). Hal ini dikarenakan pada kedua vegetasi ini menyadiakan makanan yang berlimpah untuk jenis semut tersebut. Selain itu, vegetasi seperti ini merupakan habitat yag ideal bagi semut yaitu pepohonan dan rerumputan. Selain sebagai sumber makanan, bahan organik tanaman juga digunakan sebagai tempat untuk berlindung dari tekanan lingkungan (Sugiyarto, 2000). Semakin banyak bahan organik yang tersedia maka jumlah individu makrofauna tanah akan semakin bertambah, karena mampu melindungi dari tekanan lingkungan baik tingginya suhu lingkungan maupun kemungkinan adanya predator.
Selain jenis semut, spesies yang total individunya tinggi di kedua vegetasi ini adalah spesies dari ordo Diptera yaitu nyamuk. Dengan adanya saluran air sebagai tempat bertelur dan rendahnya intensitas cahaya merupakan lingkungan yang sesuai bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Dari hasil perhitungan didapatkan nilai indeks keanekaragaman pada vegetasi pohon lebih tinggi daripada indeks keanekaragaman pada vegetasi rumput. Untuk nilai indeks kesamaan, pada vegetasi pohon juga lebih tinggi daripada vegetasi rumput. hal ini menunjukkan bahwa pada vegetasi pohon makrofauna tanahnya lebih variatif bila dibandingkan dengan makrofauna di vegetasi rumput. Hal ini dapat dikarenakan pada vegetasi pohon merupakan habitat yang sesuai untuk berbagai makrofauna tanah. Pada vegetasi pohon menyediakan sumber makanan yang lebih bagi berbagai jenis serangga dan pepohonan dapat memberi perlindungan lebih daripada di daerah rerumputan bagi sebagian jenis makrofauna.


Faktor fisik lingkugan
Pada vegetasi pohon dan vegetasi rumput suhu udara awal rata-rata keduanya tidak berbeda jauh yaitu 28,83℃ pada vegetasi pohon dan 30,17℃ pada vegetasi rumput. Hal ini dikarenakan jarak kedua tempat pengamatan tidak jauh terlalu jauh. Hal yang sama juga terlihat pada hasil pengukuran untuk suhu akhir, hasilnya juga tidak jauh berbeda.
Suhu tanah rata-rata pada vegetasi rumput dan vegetasi pohon relatif sama, yaitu 28,67℃ pada vegetasi rumput dan 27,50℃ pada vegetasi pohon. Suhu tanah yang relatif lebih rendah terdapat di kawasan vegetasi pohon. Hal tersebut dikarenakan pada lahan tersebut hampir seluruhnya tertutupi oleh pepohonan. Penutupan tersebut akan mengurangi evaporasi dan menjaga suhu tanah.
Dari hasil pengukuran pH atau derajat keasaman tanah, di vegetasi pepohonan dan vegetasi rumput juga meunjukkan hasil yang relatif sama. pH di kedua vegetasi ini cenderung sedikit asam. Pada pH dalam rentanagan ini banyak makrofauna yang dapat hidup diantaranya cacing tanah. pH ideal untuk cacing tanah adalah 6–7,2 (Rukmana, 1999). Untuk jenis semut juga hidup pada kisaran pH tersebut, meskipun jenis semut dapat hidup pada retang pH lebih tinggi daripada cacing tanah.
Kelembaban udara awal dan akhir di kedua vegetasi menunjukkan perbedaan. Pada kelembaban udara awal, vegetasi rumput memiliki nilai yang lebih rendah dari vegetasi pohon. Namun pada pengukuran kelembaban udara akhir, vegetasi rumput memiliki nilai kelembaban udara yang lebih tinggi daripada vegetasi pohon.
Untuk nilai intensitas cahaya, di vegetasi rerumputan relatif lebih tinggi daripada intensitas cahaya di vegetasi pohon. Hal ini dikarenakan pada vegetasi rumput cahaya langsung sampai pada lahan tersebut tanpa ada penghalang. Pada vegetasi pohon cayaya sebagian terhalang oleh pepohonan sehingga intensitas cahayanya relatif lebih rendah. Umumnya jumlah makrofauna lebih rendah pada intensitas cahaya yang tinggi, namun pada kedua vegetasi ini makrofauna tanah terlihat lebih toleran terhadap perbedaan intensitas cahaya.


BAB V
KESIMPULAN
Ordo diptera merupakan makrofauna yang jumlah individunya paling bayak ditemukan di vegetasi pohon dan di vegetasi rumput
Ordo hymenoptera, diptera dan acarina merupakan ordo predomonan di kedua vegetasi
Nilai indeks keanakaragaman di vegetasi pohon lebih tinggi dari vegetasi rumput
Nilai indeks kesamaan di vegetasi pohon lebih tinggi dari vegetasi rumput

Daftar Isi
Anderson JM. 1994. Functional Attributes of Biodiversity in Landuse System: In D.J. Greenland and I. Szabolcs (eds). Soil Resiliense and Sustainable Land Use. CAB International. Oxon
Baker GH. 1998. Recognising and responding to the influences of agriculture and other land use practices on soil fauna in Australia. App.Soil Ecol. 9,303-310.
Crossley Jr. DA, Mueller BR & Perdue JC. 1992. Biodiversity of microarthopds in agricultural soil: relations to processes. Agric. Ecosyst. Environ. 40,37-46
Doran JW & Parkin. 1994. Definning and assessing soil quality, IN J.W. Doran D.C. Coleman D.F. Bezdick and B.A Stewart (eds). Defining Soil Quality for Sustainable Enironment. SSSA Special Publication 35. SSSA. Madison pp 3 -21
Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Dika, Go Ban
Hong, H. H. Bailley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung : Penerbit
Universitas Lampung.
Makalew, A. D. N. 2001. “Keanekaragaman Biota Tanah Pada Agroekosistem Tanpa Olah Tanah (TOT)”. Makalah Falsafah sains program pasca sarjana /S3. Bogor:IPB.
Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Primack BR, Supriatna J, Indrawan M. & Kramadibrata P. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Rukmana R. 1999. Budidaya Cacing Tanah. Kanisius. Yogyakarta
Suin, N. M. 1997. Ekologi Hewan tanah. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara.
Wood M. 1989. Soil Biology. Chapman and Hall. New York.

POPULASI DEKOMPOSER

BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Di lingkungan Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah memiliki tingkat kesuburan tanah yang berbeda .Tingkat kesuburan tanah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penyusun tanah seperti bahan mineral, bahan organik, air, udara, populasi dekomposer dan lain-lain.
Populasi dekomposer merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kesuburan tanah. Salah satu dekomposer utama yang berperan dalam menentukan kesuburan tanah adalah cacing tanah. Cacing tanah termasuk invertebrata, phylum Annelida, ordo Oligochaeta. Cacing tanah tersebut memakan sisa tanaman yang membusuk dan menghasilkan sisa pencernaan (feses) yang merupakan sumber bahan organik tanah.
Perbedaan jenis dan faktor lingkungan tanah, menyebabkan perbedaan tingkat kesuburan dan jumlah anggota populasi dekomposer yang terdapat didalam tanah khususnya cacing tanah.
Mengingat pentingnya peranan dekomposer (cacing tanah) tersebut sebagai bio indikator untuk mengetahui kualitas serta tingkat kesuburan tanah sehingga diperlukan pengamatan terhadap populasi dekomposer tersebut.
I.II. Tujuan
Menentukan kualitas tanah dengan bio indikator cacing tanah.
Membandingkan kepadatan biomassa cacing tanah pada tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.
membandingkan kualitas tanah antara tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan dengan menggunakan cacing tanah sebagai bioindikator kualitas tanah.
Membandingkan pola penyebaran cacin tanah pada tempat berveetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tanah adalah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair dan gas serta mempunyai sifat dan perilaku yang dinamik (Arsyad, 2000). Pada komponen tersebut selain terdiri dari komponen mati (abiotik) terdapat juga bagian yang hidup (biotik) berupa organisme tanah yang menjalin suatu sistem hubungan timbal balik antar berbagai komponen sebagai suatu ekosistem yang cukup kompleks. Hubungan antara beberapa sifat tanah abiotik dan fungsi ekosistem dapat dijadikan sebagai fungsi yang berhubungan langsung terhadap produksi tanaman dan erosi tanah. Oleh karenanya praktek pengelolaan tanah untuk abad 21 mendatang harus diformulasikan berdasarkan suatu pemahaman dari konsep ekosistem (Herrick,2000)
A.Kualitas tanah
Istilah kesehatan tanah atau kualitas tanah yang diaplikasikan pada
agroekosistem menunjuk kepada kemampuan tanah untuk mendukung secara terus menerus pertumbuhan tanaman pada kualitas lingkungan yang terjaga (Magdoff, 2001).

Menurut The Soil Science Society of Amerika, yang dimaksud dengan Kualitas Tanah (soil quality) adalah kapasitas dari suatu jenis tanah yang spesifik untuk berfungsi di alam atau dalam batas ekosisten terkelola, untuk mendukung produktivitasbiologi, memelihara kualitas lingkungan dan mendorong kesehatan hewan dantumbuhan (Herrick, 2000).

Jhonson et. al. (1997 dalam Doran dan Zeiss, 2000) mendefinisikan kualitas tanah sebagai suatu ukuran kondisi relatip tanah untuk kebutuhan satu atau lebih spesies biologi dan atau untuk suatu tujuan manusia. Untuk aplikasi di bidang pertanian, yang dimaksud dengan kualitas tanah adalah kemampuan tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem yang sesuai untuk produktivitas biologis, mampu memelihara kualitas lingkungan dan mendorong tanaman dan hewan menjadi sehat (Magdoff, 2001).

Secara lebih terinci, Doran dan Safley (1997) mendefinisikan kualitas tanah sebagai kecocokan sifat fisik, kimia dan biologi yang bersama-sama (1) menyediakan suatu medium untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas biologi, (2) mengatur dan memilah aliran air dan penyimpanan di lingkungan serta (3) berperan sebagai suatu penyangga lingkungan dalam pembentukan dan pengrusakan senyawa-senyawa yang meracuni lingkungan. Tanah disebut berkualitas tinggi bila memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) cukup tapi tidak berlebih dalam mensuplai hara (2) memiliki struktur yang baik (3) memiliki kedalaman lapisan yang cukup untuk perakaran dan drainase (4) memiliki drainase internal yang baik (5) populasi penyakit dan parasit rendah (6) populasi
organisme yang mendorong pertumbuhan tinggi (7) Tekanan tanaman pengganggu (gulma) rendah (8) tidak mengandung senyawa kimia yang beracun untuk tanaman (9) tahan terhadap kerusakan dan (10) elastis dalam mengikuti suatu proses degradasi (Magdof, 2001).

B. Mengenal cacing tanah
Cacing tanah merupakan hewan verteberata yang hidup di tempat yang lembab dan tidak terkena matahari langsung. Kelembaban ini penting untuk mempertahankan cadangan air dalam tubuhnya. Kelembaban yang dikehendaki sekitar 60 - 90%. Selain tempat yang lembab, kondisi tanah juga mempengaruhi kehidupan cacing seperti pH tanah, temperatur, aerasi, CO2, bahan organik, jenis tanah, dan suplai makanan. Diantara ke tujuh faktor tersebut, pH dan bahan organik merupakan dua faktor yang sangat poenting. Kisaran pH yang optimal sekitar 6,5 - 8,5. Adapun suhu ideal menurut beberapa hasil penelitian berkisar antara 21-30 derajat celcius.
Cacing tanah in merupakan dekomposer utama pada ekosistem tanah. Berdasarkan tempat hidupnya, cacing tanah dibedakan menjadi: (1)Tipe Epigeik: hidup di permukaan tanah, (2) Tipe Endogeik: hidup di dalam tanah (3) Tipe Anecigeik: hidup di dalam tanah dan sekresi di permukaan tanah. Apabila dikaitkan dengan kedalaman perakaran tanaman, tipe epigeik dan anecigeik berperan pada kesuburan tanaman semusim atau berakar dangkal. Sedangkan tipe endogeik berperan pada produktifitas tanaman keras dan tanaman kehutanan yang berakar dalam.
C. Penghitungan kepadatan populasi cacing tanah
Estimasi kepadatan populasi cacing tanah memiliki banyak metode yang telah dikembangkan dalam rangka mengestimasikannya.Antara lain:
1.Cara Kimia
Dengan metoda ini semacam zat kimia dituangkan di tanah dan diharapkan cacing tanah tersebut akian keluar dan cacing itu diambil dan dihitung lalu dikoleksi.
a.Metoda cairan potassium permanganat
Pertama dilakukan oleh Evans dan Guild tahun 1947. Cairan potassium permanganate dituangkan ditanah pada luas tertentu. Cairan itu masuk kedalam tanah sehinga menyababkan cacing tanah keluar. Metoda ini tergantung pada daya penetrasi cairan itu ke dalam tanah. Dengan metoda ini akan didapat hasil yang “ Under Estimate” untuk beberapa jenis cacing tanah.



Metoda formalin
Metoda ini pertama kali ditamukan oleh Raw tahun 1959. Metoda ini kurang baik untuk jenis cacing tanah yang membuat lubang horizontal di tanah karena cairan formalin itu tidak sampai dengan sempurna pada cacing.

2.Cara pengukuran populasi hewan tanah
a. Metoda Sortir Tangan
( Hand Sorting Method) Metoda sortir tangan adalah metoda pengambilan cacing tanah yang paling baik,dan hasilnya paling baik digunakan dan dibandingkan dengan metoda lainnya. Kelemahan metoda ini hanyalah karena metoda ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga dan ketelitian yang tinggi. Efisien metoda ini dibuktikan oleh Raw, Nelson, dan Satchel pada tahun 1960 dan 1962.
Pada metoda ini tanah diambil pada kuadrat yang telah ditentukan luasnya dan kedalamannya, dan tanah itu dimasukkan kedalam suatu kantong dan selanjutnya cacing yang terdapat didalamnya langsung disortir. Cacing uyang didapat dibersihkan dan langsung dihitung dan ditimbang beratnya dan selanjutnya diawetkan dalam formalin 10%.
Kepadatan populasi berdasarkan biomassa dapat dilakukan dengan cara mengkonfersikan berat segar tanpa makanan dan berat keringnya di laboratorium.
b. Metoda pengapungan
Metoda ini dapat digunakan untuk cacing tanah yang berukuran kecil yang sulit ditemukan dengan metoda sortir tangan. Mula-mula tanah contoh dicuci, dan selanjutnya material organic yang ada didalam tanah itu lalu diapungkan dalam cairan magnesium sulfat. Butir-butir tanah akan terbenam. Dengan metoda ini cacing yang halus dan kokon tanah akan dapat terkoreksi.
c. Metoda penyaringan
Metoda ini cacing tanah dicuci engan air dengan tekanan kuat dan disaring dengan ayakan yang ukuran lubangnya bervariasi dari besar ke kecil. Penyaringan mula-mula dilakukan dengan yang berlubang besar sehingga cacing yang besar bersama material organic akan tertinggal dalam ayakan. Selanjutnya ditampung pula dibawahnya dengan ayakan yang makin lama makin kecil sehingga akhirnya semua cacing dan kokon yang ada dalam tanah akan terkumpulkan.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.I Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini di lakukan di lingkungan Pusat Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu pengamatan dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2010 pukul 09.30-11.30 WIB.
III.II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan ini diantaranya: Roll meter, Sprayer, penggali, plastik sampel, tisu dan timbangan analitik. Bahan yang digunakan pada pengamatan kali ini antara lain: larutan formalin 4% dan alkohol 70%.
III.III. Cara kerja
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyemprotan formalin dan cara sortir. Pertama tanah dibersihkan dari serasah dan diberi tanda petakan 25x25cm. Lalu semprotkan formalin 4% diatas permukaan tanah dan biarkan selama kurang lebih 15 menit. Selanjutnya tanah digali dengan kedalaman 10cm lalu sortir cacing tanah yang terdapat pada kedalaman tersebut. Penyortiran dilanjutkan pada kedalaman 20cm dan 30cm. Sampel cacing lalu dikumpulkan di plastik sampel dan lakukan analisis data cacing tanah di laboratorium.







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Hasil Pengamatan
1.1. Hasil pengamatan di lingkungan non vegetasi

Pengukuran Kelompok 2 Kelompok 4 Kelompok 6
x ̃ (gr/m2 ) 0,96 1,76 7,92
Kelembaban (%) 2,95 5,75 6,00
pH 5,90 5,50 6,00
Suhu (℃) 25,5 28,5 29
Kadar air (%) 79 62 48
Kandungan organik (%) 47,6 10,52 16,3
Kandungan anorganik (%) 52,38 89,47 83,6


x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,55
S2 29,23
S2/X 7,55
Bulk Density 1,04
Porositas (%) 60,5
Suhu rata-rata (℃) 27,67
Kadar air rata-rata (%) 63
Kandungan organik rata-rata ( %) 45,47
Kandungan organik rata-rata (%) 75,15
Kualitas tanah Baik
Pola penyebaran Mengelompok

1.2. Hasil pengamatan di lingkungan vegetasi

Pengukuran Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5
x ̃ (gr/m2) 1,28 6,72 1,12
Kelembaban (%) 6,5 2 3
pH 6 6,7 6
Suhu (℃) 29 30 29
Kadar air (%) 52 25 28
Kandungan organik (%) 12,5 5,3 13,8
Kandungan anorganik (%) 87,5 94,6 86,2


x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,04
S2 22,94
S2/X 8,23
Bulk Density 1,16
Porositas (%) 55,92
Suhu rata-rata (℃) 29,3
Kadar air rata-rata (%) 35
Kandungan organik rata-rata (%) 10,53
Kandungan anorganik rata-rata (%) 89,3
Kulitas tanah Cukup baik
Pola penyebaran Mengelompok

2. Pembahasan
Pengamatan ini dilakukan dengan metoda penyemprotan formalin dan metoda sortir tangan. Dari hasil yang didapatkan, metode sortir dengan tangan lebih efektif karena jumlah cacing tanah sangat sedikit dan ukuran cacing tanah relatif kecil, oleh karena diperlukan pencarian sebih teliti yaitu langsung disortir dengan tangan. Cacing tanah yang ditemukan umumnya pada kedalaman 10 cm pertama. Hal ini diakibatkan karena struktur tanah yang keras dan berbatu sehingga tempat tersebut menjadi lingkungan yang kurang baik bagi cacing tanah.
Cacing tanah yang ditemukan, hanya berada pada kedalaman 10 cm pertama. Pada kedalaman selanjutnya yaitu kedalaman 20 cm dan 30 cm tidak lagi ditemukan adaya cacing tanah. Hal ini dikarenakan pada kedalaman 20 cm dan 30 cm, tekstur tanahnya liat dan lebih keras, serta terdapat batu beton, porositasnya kecil sehingga menyebabkan tempat ini merupakan tempat yang buruk bagi cacing tanah. Pada kedalaman 10 cm pertama kondisi tanah masih gembur, kandungan bahan organik dan anorganiknya cukup baik sehingga memungkinkan cacing untuk hidup. Berdasarkan kedalaman ditemukannya, maka cacing yang ditemukan termasuk tipe epigeik, yaitu kelompok cacing tanah yang hidup pada permukaan tanah.
Pada pengamatan di lingkungan non vegetasi, di dapatkan kerapatan biomassa rata-rata dekomposer tiap meter hanya 3,55 gr/m^2. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah tersebut telah tercemar atau kurang subur. Hal ini dikarenakan jumlah dekomposer yang dalam hal ini adalah cacing tanah populasinya sangat sedikit. Minimnya jumlah cacing tanah ini mungkin dikarenakan oleh struktur tanah yang keras dan minim unsur bahan organik, selain itu suhu dan pH tanah ditempat itu tidak sesuai untuk kerapatan biomassa populasi cacing tanah.
Hasil yang tidak jauh berbeda juga didapatkan pada perhitungan kerapatan biomassa dekomposer di lingkungan vegetasi didapatkan kerapatan biomasa hanya 3,04 gr/m2 . dari hasil ini juga menunjukkan kualitas tanah di tempat ini kurang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kerapatan biomassa cacing tanahdi tempat ini juga tidak jauh berbeda dengan lingkungan non vegetasi, antara lain kandunagn bahan organik pada tanah dan tekstur tanah.
Salah satu Ciri-ciri tanah yang sehat adalah populasi organismenya beragam dan aktif serta memiliki dalam jumlah tinggi residu yang relatif segar sebagai sumber makanan organisme (Magdoff, 2001).
Dari hasil pengamatan dan perhitungan, didapatkan nilai dari faktor-faktor fisik pada tanah yang diamati baik di lingkungan vegetasi maupun di lingkungan non vegetasi. Banyak peneliti telah mengembangkan indikator kesehatan tanah dengan mengukur berbagai sifat tanah dan menghubungkannya dengan praktek pengelolaan yang berbeda, produktivitas, kualitas lingkungan atau tingkat serangan penyakit tanaman. Doran et. al. (1996 ) menyajikan daftar sifat-sifat tanah yang dapat mempengaruhi kualitas dan fungsi ekologi tanah. Misalnya kerapatan ruang (bulk dencity), infiltrasi dan kapasitas memegang air, C organic dan N total, daya hantar listrik, pH, hara tersedia, dan pengukuran aktivitas dan biomassa mikrobia. (van Bruggen dan Semenov, 2000).
Untuk nilai kelembaban tanah di lingkungan vegetasi terdapat sedikit perbedaan dengan kelembaban tanah di lingkungan non vegetasi namun nilai selisihnya tidak terlalusignifikan. Pada lingkungan non vegetasi kelembaban tanahnya sedikit lebih tinggi dari tanah di lingkungan vegetasi. Hal ini dapat diakibatkan perbedaan tekstur tanah sehingga kemampuan tanah untuk mengikat air di kedua tempat ini juga berbeda.
Derajat keasaman atau pH tanah di lingkungan vegetasi dan non vegetasi menunjukkan perbedaan meski nilainya juga tidak jauh berbeda. Pada lingkungan non vegetasi pH tanahnya sedikit lebih asam. Perbedaan pH ini dapat diakibatkan oleh perbedaan kandungan organik tanah.
Faktor fisik lain yang diamati adalah kandungan organik dan anorganik tanah. Dari hasil perhitungan, kandungan organik tanah jauh lebih sedikit dibandingkan kandungan anorganik tanah. Hal ini sangat wajar, karena sebagian besar tanah di susun oleh lapisan pasir dan bebatuan. Selain itu, minimnya jumlah populasi cacing tanah telah menunjukkan bahwa ketersediaan bahan organik di tanah tersebut memang kecil jumlahnya. Hal ini menguatkan pernyataan bahwa tanah yang sehat adalah tanah yang memiliki dalam jumlah tinggi bahan organik yang terhumifikasi untuk mengikat air dan muatan negatif untuk pertukaran kation (Magdoff, 2001).
Selain itu kadar air tanah di kedua tempat (vegetasi dan non vegetasi) tersebut juga terdapat perbedaan meskipun hal tersebut tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan dekomposer. Di lingkungan non vegetasi kandungan air pada tanahnya lebih tinggi daripada tanah di lingkungan vegetasi.
Suhu tanah rata-rata di kedua lingkungan tersebut terdapat perbedaan. Suhu tanah di lingkungan vegetasi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan suhu di lingkungan non vegetasi. Pengaruh suhu seharusnya tidak menjadi masalah bagi pertumbuhan cacing tanah, karena suhu di kedua tempat tersebut masih termasuk ke dalam suhu ideal pertumbuhan cacing tanah yaitu berkisar antara 20-30 derajat celsius.
Untuk tekstur tanah yang diamati, seluruhnya bertipe tanah liat dan tanah liat berpasir. Hal ini juga merupakan salah satu penghambat pertumbuhan dekomposer khususnya cacing tanah. Tanah liat bertekstur keras dan sangat padat sehingga sulit untuk ditempati sebagai tempat tinggal bagi cacing tanah.
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan terdapat perbedaan kualitas tanah di kedua vegetasi ini. Kualitas tanah pada kawasan non vegetasi dikatakan baik karena kepadatan biomassa cacing tanah pada kawasan ini lebih tinggi daripada kawasan bervegetasi. Dengan ditemukannya biomassa cacing tanah yang banyak, berarti tanah tersebut memiliki faktor-faktor pembatas yang diperlukan cacing untuk hidup. Faktor-pembatas ini merupakan faktor-faktor yang dibutuhkan suatu makhluk hidup untuk dapat hidup dan beradaptasi di suatu daerah. Cacing tanah rentan sekali terhadap perubahan lingkungan, artinya ia tidak dapat hidup di lingkungan yang buruk yaitu lingkungan yang berbatu dan memiliki sedikit kandungan organik.
Pada kedua vegetasi ini, pola penyebaran individunya tidak terdapat perbedaan. Berdasarkan hasil analisis data, pola penyebaran individu pada kedua kawasan tersebut hasilnya lebih dari 1 yang berarti pola penyebaran individu tersebut adalah mengelompok. Penyebaran individu secara mengelompok merupakan hal yang umum terjadi di alam. Individu-individu menunjukkan derajat pengelompokkan karena adanya kebutuhan yang bersamaan akan faktor lingkungannya (Setiadi,1989).
Keberadaan populasi cacing tanah kini juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Keberadaan cacing tanah sebagai dekomposer sangat penting terutama dalam meningkatkan kesuburan tanah. Pembangunan yang dilakukan manusia telah banyak merusak lingkungan dan habitat cacing tanah. Singkatnya, sistem biologi dengan menggunakan cacing tanah sebagai bio indikator sangat sensitif terhadap degradasi yang baru terjadi sekalipun, sehingga perubahan status biologi dari sistem tersebut dapat menjadi peringatan dini atas kemunduran lingkungan dan mendorong kita untuk bereaksi sebelum kerusakan yang tidak dapat dipulihkan terjadi (Pankhurst dan Doube, 1997).

BAB V
KESIMPULAN
Tanah di lingkungan vegetasi di sekitar Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki kualitas kurang baik.

Cacing tanah dapat digunakan sebagai bio indikator kualitas tanah
Faktor fisik tanah mempengaruhi populasi dekomposer

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. (2000). Konservasi tanah dan air. IPB Press.
Herrick, J. E. (2000). Soil Quality: an indicator of sustainable land management ?. Applied Soil Ecology. (15) 75-83.
Magdoff, F. (2002). Concept, componen and strategies of soil health in agroecosystems. Journal of Nematology 33 (4); 169-172.
Ali Hanifah,K, Iswandi Anas, Napoleon dan Ghofar.2005. Biologi Tanah. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Pankhurst, C. E., B. M. Doube and V.V. S. R. Gupta. (1997). Biological indicators of soil health: Synthesis. dalam C. Pankhurst, B.M. Doube and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological Indikators of Soil Health. UK. 419-435. CAB International.
Setiadi, D. dan P.D. Tjondronegoro. 1989. Dasar-dasar Ekologi. Bogor : IPB Press