Selasa, 15 Maret 2011

POPULASI DEKOMPOSER

BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Di lingkungan Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah memiliki tingkat kesuburan tanah yang berbeda .Tingkat kesuburan tanah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penyusun tanah seperti bahan mineral, bahan organik, air, udara, populasi dekomposer dan lain-lain.
Populasi dekomposer merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kesuburan tanah. Salah satu dekomposer utama yang berperan dalam menentukan kesuburan tanah adalah cacing tanah. Cacing tanah termasuk invertebrata, phylum Annelida, ordo Oligochaeta. Cacing tanah tersebut memakan sisa tanaman yang membusuk dan menghasilkan sisa pencernaan (feses) yang merupakan sumber bahan organik tanah.
Perbedaan jenis dan faktor lingkungan tanah, menyebabkan perbedaan tingkat kesuburan dan jumlah anggota populasi dekomposer yang terdapat didalam tanah khususnya cacing tanah.
Mengingat pentingnya peranan dekomposer (cacing tanah) tersebut sebagai bio indikator untuk mengetahui kualitas serta tingkat kesuburan tanah sehingga diperlukan pengamatan terhadap populasi dekomposer tersebut.
I.II. Tujuan
Menentukan kualitas tanah dengan bio indikator cacing tanah.
Membandingkan kepadatan biomassa cacing tanah pada tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.
membandingkan kualitas tanah antara tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan dengan menggunakan cacing tanah sebagai bioindikator kualitas tanah.
Membandingkan pola penyebaran cacin tanah pada tempat berveetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tanah adalah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair dan gas serta mempunyai sifat dan perilaku yang dinamik (Arsyad, 2000). Pada komponen tersebut selain terdiri dari komponen mati (abiotik) terdapat juga bagian yang hidup (biotik) berupa organisme tanah yang menjalin suatu sistem hubungan timbal balik antar berbagai komponen sebagai suatu ekosistem yang cukup kompleks. Hubungan antara beberapa sifat tanah abiotik dan fungsi ekosistem dapat dijadikan sebagai fungsi yang berhubungan langsung terhadap produksi tanaman dan erosi tanah. Oleh karenanya praktek pengelolaan tanah untuk abad 21 mendatang harus diformulasikan berdasarkan suatu pemahaman dari konsep ekosistem (Herrick,2000)
A.Kualitas tanah
Istilah kesehatan tanah atau kualitas tanah yang diaplikasikan pada
agroekosistem menunjuk kepada kemampuan tanah untuk mendukung secara terus menerus pertumbuhan tanaman pada kualitas lingkungan yang terjaga (Magdoff, 2001).

Menurut The Soil Science Society of Amerika, yang dimaksud dengan Kualitas Tanah (soil quality) adalah kapasitas dari suatu jenis tanah yang spesifik untuk berfungsi di alam atau dalam batas ekosisten terkelola, untuk mendukung produktivitasbiologi, memelihara kualitas lingkungan dan mendorong kesehatan hewan dantumbuhan (Herrick, 2000).

Jhonson et. al. (1997 dalam Doran dan Zeiss, 2000) mendefinisikan kualitas tanah sebagai suatu ukuran kondisi relatip tanah untuk kebutuhan satu atau lebih spesies biologi dan atau untuk suatu tujuan manusia. Untuk aplikasi di bidang pertanian, yang dimaksud dengan kualitas tanah adalah kemampuan tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem yang sesuai untuk produktivitas biologis, mampu memelihara kualitas lingkungan dan mendorong tanaman dan hewan menjadi sehat (Magdoff, 2001).

Secara lebih terinci, Doran dan Safley (1997) mendefinisikan kualitas tanah sebagai kecocokan sifat fisik, kimia dan biologi yang bersama-sama (1) menyediakan suatu medium untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas biologi, (2) mengatur dan memilah aliran air dan penyimpanan di lingkungan serta (3) berperan sebagai suatu penyangga lingkungan dalam pembentukan dan pengrusakan senyawa-senyawa yang meracuni lingkungan. Tanah disebut berkualitas tinggi bila memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) cukup tapi tidak berlebih dalam mensuplai hara (2) memiliki struktur yang baik (3) memiliki kedalaman lapisan yang cukup untuk perakaran dan drainase (4) memiliki drainase internal yang baik (5) populasi penyakit dan parasit rendah (6) populasi
organisme yang mendorong pertumbuhan tinggi (7) Tekanan tanaman pengganggu (gulma) rendah (8) tidak mengandung senyawa kimia yang beracun untuk tanaman (9) tahan terhadap kerusakan dan (10) elastis dalam mengikuti suatu proses degradasi (Magdof, 2001).

B. Mengenal cacing tanah
Cacing tanah merupakan hewan verteberata yang hidup di tempat yang lembab dan tidak terkena matahari langsung. Kelembaban ini penting untuk mempertahankan cadangan air dalam tubuhnya. Kelembaban yang dikehendaki sekitar 60 - 90%. Selain tempat yang lembab, kondisi tanah juga mempengaruhi kehidupan cacing seperti pH tanah, temperatur, aerasi, CO2, bahan organik, jenis tanah, dan suplai makanan. Diantara ke tujuh faktor tersebut, pH dan bahan organik merupakan dua faktor yang sangat poenting. Kisaran pH yang optimal sekitar 6,5 - 8,5. Adapun suhu ideal menurut beberapa hasil penelitian berkisar antara 21-30 derajat celcius.
Cacing tanah in merupakan dekomposer utama pada ekosistem tanah. Berdasarkan tempat hidupnya, cacing tanah dibedakan menjadi: (1)Tipe Epigeik: hidup di permukaan tanah, (2) Tipe Endogeik: hidup di dalam tanah (3) Tipe Anecigeik: hidup di dalam tanah dan sekresi di permukaan tanah. Apabila dikaitkan dengan kedalaman perakaran tanaman, tipe epigeik dan anecigeik berperan pada kesuburan tanaman semusim atau berakar dangkal. Sedangkan tipe endogeik berperan pada produktifitas tanaman keras dan tanaman kehutanan yang berakar dalam.
C. Penghitungan kepadatan populasi cacing tanah
Estimasi kepadatan populasi cacing tanah memiliki banyak metode yang telah dikembangkan dalam rangka mengestimasikannya.Antara lain:
1.Cara Kimia
Dengan metoda ini semacam zat kimia dituangkan di tanah dan diharapkan cacing tanah tersebut akian keluar dan cacing itu diambil dan dihitung lalu dikoleksi.
a.Metoda cairan potassium permanganat
Pertama dilakukan oleh Evans dan Guild tahun 1947. Cairan potassium permanganate dituangkan ditanah pada luas tertentu. Cairan itu masuk kedalam tanah sehinga menyababkan cacing tanah keluar. Metoda ini tergantung pada daya penetrasi cairan itu ke dalam tanah. Dengan metoda ini akan didapat hasil yang “ Under Estimate” untuk beberapa jenis cacing tanah.



Metoda formalin
Metoda ini pertama kali ditamukan oleh Raw tahun 1959. Metoda ini kurang baik untuk jenis cacing tanah yang membuat lubang horizontal di tanah karena cairan formalin itu tidak sampai dengan sempurna pada cacing.

2.Cara pengukuran populasi hewan tanah
a. Metoda Sortir Tangan
( Hand Sorting Method) Metoda sortir tangan adalah metoda pengambilan cacing tanah yang paling baik,dan hasilnya paling baik digunakan dan dibandingkan dengan metoda lainnya. Kelemahan metoda ini hanyalah karena metoda ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga dan ketelitian yang tinggi. Efisien metoda ini dibuktikan oleh Raw, Nelson, dan Satchel pada tahun 1960 dan 1962.
Pada metoda ini tanah diambil pada kuadrat yang telah ditentukan luasnya dan kedalamannya, dan tanah itu dimasukkan kedalam suatu kantong dan selanjutnya cacing yang terdapat didalamnya langsung disortir. Cacing uyang didapat dibersihkan dan langsung dihitung dan ditimbang beratnya dan selanjutnya diawetkan dalam formalin 10%.
Kepadatan populasi berdasarkan biomassa dapat dilakukan dengan cara mengkonfersikan berat segar tanpa makanan dan berat keringnya di laboratorium.
b. Metoda pengapungan
Metoda ini dapat digunakan untuk cacing tanah yang berukuran kecil yang sulit ditemukan dengan metoda sortir tangan. Mula-mula tanah contoh dicuci, dan selanjutnya material organic yang ada didalam tanah itu lalu diapungkan dalam cairan magnesium sulfat. Butir-butir tanah akan terbenam. Dengan metoda ini cacing yang halus dan kokon tanah akan dapat terkoreksi.
c. Metoda penyaringan
Metoda ini cacing tanah dicuci engan air dengan tekanan kuat dan disaring dengan ayakan yang ukuran lubangnya bervariasi dari besar ke kecil. Penyaringan mula-mula dilakukan dengan yang berlubang besar sehingga cacing yang besar bersama material organic akan tertinggal dalam ayakan. Selanjutnya ditampung pula dibawahnya dengan ayakan yang makin lama makin kecil sehingga akhirnya semua cacing dan kokon yang ada dalam tanah akan terkumpulkan.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.I Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini di lakukan di lingkungan Pusat Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu pengamatan dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2010 pukul 09.30-11.30 WIB.
III.II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan ini diantaranya: Roll meter, Sprayer, penggali, plastik sampel, tisu dan timbangan analitik. Bahan yang digunakan pada pengamatan kali ini antara lain: larutan formalin 4% dan alkohol 70%.
III.III. Cara kerja
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyemprotan formalin dan cara sortir. Pertama tanah dibersihkan dari serasah dan diberi tanda petakan 25x25cm. Lalu semprotkan formalin 4% diatas permukaan tanah dan biarkan selama kurang lebih 15 menit. Selanjutnya tanah digali dengan kedalaman 10cm lalu sortir cacing tanah yang terdapat pada kedalaman tersebut. Penyortiran dilanjutkan pada kedalaman 20cm dan 30cm. Sampel cacing lalu dikumpulkan di plastik sampel dan lakukan analisis data cacing tanah di laboratorium.







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Hasil Pengamatan
1.1. Hasil pengamatan di lingkungan non vegetasi

Pengukuran Kelompok 2 Kelompok 4 Kelompok 6
x ̃ (gr/m2 ) 0,96 1,76 7,92
Kelembaban (%) 2,95 5,75 6,00
pH 5,90 5,50 6,00
Suhu (℃) 25,5 28,5 29
Kadar air (%) 79 62 48
Kandungan organik (%) 47,6 10,52 16,3
Kandungan anorganik (%) 52,38 89,47 83,6


x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,55
S2 29,23
S2/X 7,55
Bulk Density 1,04
Porositas (%) 60,5
Suhu rata-rata (℃) 27,67
Kadar air rata-rata (%) 63
Kandungan organik rata-rata ( %) 45,47
Kandungan organik rata-rata (%) 75,15
Kualitas tanah Baik
Pola penyebaran Mengelompok

1.2. Hasil pengamatan di lingkungan vegetasi

Pengukuran Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5
x ̃ (gr/m2) 1,28 6,72 1,12
Kelembaban (%) 6,5 2 3
pH 6 6,7 6
Suhu (℃) 29 30 29
Kadar air (%) 52 25 28
Kandungan organik (%) 12,5 5,3 13,8
Kandungan anorganik (%) 87,5 94,6 86,2


x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,04
S2 22,94
S2/X 8,23
Bulk Density 1,16
Porositas (%) 55,92
Suhu rata-rata (℃) 29,3
Kadar air rata-rata (%) 35
Kandungan organik rata-rata (%) 10,53
Kandungan anorganik rata-rata (%) 89,3
Kulitas tanah Cukup baik
Pola penyebaran Mengelompok

2. Pembahasan
Pengamatan ini dilakukan dengan metoda penyemprotan formalin dan metoda sortir tangan. Dari hasil yang didapatkan, metode sortir dengan tangan lebih efektif karena jumlah cacing tanah sangat sedikit dan ukuran cacing tanah relatif kecil, oleh karena diperlukan pencarian sebih teliti yaitu langsung disortir dengan tangan. Cacing tanah yang ditemukan umumnya pada kedalaman 10 cm pertama. Hal ini diakibatkan karena struktur tanah yang keras dan berbatu sehingga tempat tersebut menjadi lingkungan yang kurang baik bagi cacing tanah.
Cacing tanah yang ditemukan, hanya berada pada kedalaman 10 cm pertama. Pada kedalaman selanjutnya yaitu kedalaman 20 cm dan 30 cm tidak lagi ditemukan adaya cacing tanah. Hal ini dikarenakan pada kedalaman 20 cm dan 30 cm, tekstur tanahnya liat dan lebih keras, serta terdapat batu beton, porositasnya kecil sehingga menyebabkan tempat ini merupakan tempat yang buruk bagi cacing tanah. Pada kedalaman 10 cm pertama kondisi tanah masih gembur, kandungan bahan organik dan anorganiknya cukup baik sehingga memungkinkan cacing untuk hidup. Berdasarkan kedalaman ditemukannya, maka cacing yang ditemukan termasuk tipe epigeik, yaitu kelompok cacing tanah yang hidup pada permukaan tanah.
Pada pengamatan di lingkungan non vegetasi, di dapatkan kerapatan biomassa rata-rata dekomposer tiap meter hanya 3,55 gr/m^2. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah tersebut telah tercemar atau kurang subur. Hal ini dikarenakan jumlah dekomposer yang dalam hal ini adalah cacing tanah populasinya sangat sedikit. Minimnya jumlah cacing tanah ini mungkin dikarenakan oleh struktur tanah yang keras dan minim unsur bahan organik, selain itu suhu dan pH tanah ditempat itu tidak sesuai untuk kerapatan biomassa populasi cacing tanah.
Hasil yang tidak jauh berbeda juga didapatkan pada perhitungan kerapatan biomassa dekomposer di lingkungan vegetasi didapatkan kerapatan biomasa hanya 3,04 gr/m2 . dari hasil ini juga menunjukkan kualitas tanah di tempat ini kurang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kerapatan biomassa cacing tanahdi tempat ini juga tidak jauh berbeda dengan lingkungan non vegetasi, antara lain kandunagn bahan organik pada tanah dan tekstur tanah.
Salah satu Ciri-ciri tanah yang sehat adalah populasi organismenya beragam dan aktif serta memiliki dalam jumlah tinggi residu yang relatif segar sebagai sumber makanan organisme (Magdoff, 2001).
Dari hasil pengamatan dan perhitungan, didapatkan nilai dari faktor-faktor fisik pada tanah yang diamati baik di lingkungan vegetasi maupun di lingkungan non vegetasi. Banyak peneliti telah mengembangkan indikator kesehatan tanah dengan mengukur berbagai sifat tanah dan menghubungkannya dengan praktek pengelolaan yang berbeda, produktivitas, kualitas lingkungan atau tingkat serangan penyakit tanaman. Doran et. al. (1996 ) menyajikan daftar sifat-sifat tanah yang dapat mempengaruhi kualitas dan fungsi ekologi tanah. Misalnya kerapatan ruang (bulk dencity), infiltrasi dan kapasitas memegang air, C organic dan N total, daya hantar listrik, pH, hara tersedia, dan pengukuran aktivitas dan biomassa mikrobia. (van Bruggen dan Semenov, 2000).
Untuk nilai kelembaban tanah di lingkungan vegetasi terdapat sedikit perbedaan dengan kelembaban tanah di lingkungan non vegetasi namun nilai selisihnya tidak terlalusignifikan. Pada lingkungan non vegetasi kelembaban tanahnya sedikit lebih tinggi dari tanah di lingkungan vegetasi. Hal ini dapat diakibatkan perbedaan tekstur tanah sehingga kemampuan tanah untuk mengikat air di kedua tempat ini juga berbeda.
Derajat keasaman atau pH tanah di lingkungan vegetasi dan non vegetasi menunjukkan perbedaan meski nilainya juga tidak jauh berbeda. Pada lingkungan non vegetasi pH tanahnya sedikit lebih asam. Perbedaan pH ini dapat diakibatkan oleh perbedaan kandungan organik tanah.
Faktor fisik lain yang diamati adalah kandungan organik dan anorganik tanah. Dari hasil perhitungan, kandungan organik tanah jauh lebih sedikit dibandingkan kandungan anorganik tanah. Hal ini sangat wajar, karena sebagian besar tanah di susun oleh lapisan pasir dan bebatuan. Selain itu, minimnya jumlah populasi cacing tanah telah menunjukkan bahwa ketersediaan bahan organik di tanah tersebut memang kecil jumlahnya. Hal ini menguatkan pernyataan bahwa tanah yang sehat adalah tanah yang memiliki dalam jumlah tinggi bahan organik yang terhumifikasi untuk mengikat air dan muatan negatif untuk pertukaran kation (Magdoff, 2001).
Selain itu kadar air tanah di kedua tempat (vegetasi dan non vegetasi) tersebut juga terdapat perbedaan meskipun hal tersebut tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan dekomposer. Di lingkungan non vegetasi kandungan air pada tanahnya lebih tinggi daripada tanah di lingkungan vegetasi.
Suhu tanah rata-rata di kedua lingkungan tersebut terdapat perbedaan. Suhu tanah di lingkungan vegetasi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan suhu di lingkungan non vegetasi. Pengaruh suhu seharusnya tidak menjadi masalah bagi pertumbuhan cacing tanah, karena suhu di kedua tempat tersebut masih termasuk ke dalam suhu ideal pertumbuhan cacing tanah yaitu berkisar antara 20-30 derajat celsius.
Untuk tekstur tanah yang diamati, seluruhnya bertipe tanah liat dan tanah liat berpasir. Hal ini juga merupakan salah satu penghambat pertumbuhan dekomposer khususnya cacing tanah. Tanah liat bertekstur keras dan sangat padat sehingga sulit untuk ditempati sebagai tempat tinggal bagi cacing tanah.
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan terdapat perbedaan kualitas tanah di kedua vegetasi ini. Kualitas tanah pada kawasan non vegetasi dikatakan baik karena kepadatan biomassa cacing tanah pada kawasan ini lebih tinggi daripada kawasan bervegetasi. Dengan ditemukannya biomassa cacing tanah yang banyak, berarti tanah tersebut memiliki faktor-faktor pembatas yang diperlukan cacing untuk hidup. Faktor-pembatas ini merupakan faktor-faktor yang dibutuhkan suatu makhluk hidup untuk dapat hidup dan beradaptasi di suatu daerah. Cacing tanah rentan sekali terhadap perubahan lingkungan, artinya ia tidak dapat hidup di lingkungan yang buruk yaitu lingkungan yang berbatu dan memiliki sedikit kandungan organik.
Pada kedua vegetasi ini, pola penyebaran individunya tidak terdapat perbedaan. Berdasarkan hasil analisis data, pola penyebaran individu pada kedua kawasan tersebut hasilnya lebih dari 1 yang berarti pola penyebaran individu tersebut adalah mengelompok. Penyebaran individu secara mengelompok merupakan hal yang umum terjadi di alam. Individu-individu menunjukkan derajat pengelompokkan karena adanya kebutuhan yang bersamaan akan faktor lingkungannya (Setiadi,1989).
Keberadaan populasi cacing tanah kini juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Keberadaan cacing tanah sebagai dekomposer sangat penting terutama dalam meningkatkan kesuburan tanah. Pembangunan yang dilakukan manusia telah banyak merusak lingkungan dan habitat cacing tanah. Singkatnya, sistem biologi dengan menggunakan cacing tanah sebagai bio indikator sangat sensitif terhadap degradasi yang baru terjadi sekalipun, sehingga perubahan status biologi dari sistem tersebut dapat menjadi peringatan dini atas kemunduran lingkungan dan mendorong kita untuk bereaksi sebelum kerusakan yang tidak dapat dipulihkan terjadi (Pankhurst dan Doube, 1997).

BAB V
KESIMPULAN
Tanah di lingkungan vegetasi di sekitar Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki kualitas kurang baik.

Cacing tanah dapat digunakan sebagai bio indikator kualitas tanah
Faktor fisik tanah mempengaruhi populasi dekomposer

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. (2000). Konservasi tanah dan air. IPB Press.
Herrick, J. E. (2000). Soil Quality: an indicator of sustainable land management ?. Applied Soil Ecology. (15) 75-83.
Magdoff, F. (2002). Concept, componen and strategies of soil health in agroecosystems. Journal of Nematology 33 (4); 169-172.
Ali Hanifah,K, Iswandi Anas, Napoleon dan Ghofar.2005. Biologi Tanah. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Pankhurst, C. E., B. M. Doube and V.V. S. R. Gupta. (1997). Biological indicators of soil health: Synthesis. dalam C. Pankhurst, B.M. Doube and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological Indikators of Soil Health. UK. 419-435. CAB International.
Setiadi, D. dan P.D. Tjondronegoro. 1989. Dasar-dasar Ekologi. Bogor : IPB Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar