BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Di lingkungan Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki potensi keanekaragaman makro fauna tanah yang variatif, karena memiliki lingkungan yang ditumbuhi oleh pepohonan ( lingkungan bervegetasi pohon ) dan lingkungan yang ditumbuhi oleh rerumputan (lingkungan bervegetasi rumput).
Keanekaragaman jenis makrofauna tanah ini sangat penting bagi ekosistem di kedua vegetasi tersebut, karena keanekaragaman makrofauna tanah yang terdapat pada kedua vegetasi tersebut menentukan kualitas tanah di lahan tersebut.
Mengingat pentingnya peran fauna tanah dalam menjaga keseimbangan ekosistem tanah dan masih relatif terbatasnya informasi mengenai keberadaan fauna tanah, perlu dieksplorasi potensi fauna tanah sebagai bioindikator kualitas tanah. Fauna tanah, termasuk di dalamnya serangga tanah, memiliki keanekaragaman yang tinggi dan masing-masing mempunyai peran dalam ekosistem. Diharapkan informasi yang didapatkan bisa digunakan sebagai data pendukung dalam pengelolaan lahan di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
I.II. Tujuan
Mengamati keanekaragaman makrofauna tanah di daerah bervegetasi pohon dan daerah bervegetasi rumput.
Mengetahui nilai indeks kekeanekaragaman dan indeks kesamaan makrofauna tanah di kedua vegetasi tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah merupakan suatu bagian dari ekosistem terrestrial yang di dalamnya dihuni oleh banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah. Biodiversitas tanah merupakan diversitas alpha yang sangat berperan dalam mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang kehidupan di dalam dan di atasnya. Pemahaman tentang biodiversitas tanah masih sangat terbatas, baik dari segi taksonomi maupun fungsi ekologinya (Baker, 1998).
Makrofauna tanah merupakan kelompok fauna bagian dari biodiversitas tanah yang berukuran 2 mm sampai 20 mm (Gorny dan Leszek, 1993). Makrofauna tanah merupakan bagian dari biodiversitas tanah yang berperan penting dalam perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi. Dalam dekomposisi bahan organik, makrofauna tanah lebih banyak berperan dalam proses fragmentasi (comminusi) serta memberikan fasilitas lingkungan (mikrohabitat) yang lebih baik bagi proses dekomposisi lebih lanjut yang dilakukan oleh kelompok mesofauna dan mikrofauna tanah serta berbagai jenis bakteri dan fungi. Peran makrofauna tanah lainnya adalah dalam perombakan materi tumbuhan dan hewan yang mati, pengangkutan materi organik dari permukaan ke dalam tanah, perbaikan struktur tanah, dan proses pembentukan tanah. Dengan demikian makrofauna tanah berperan aktif untuk menjaga kesuburan tanah atau kesehatan tanah (Hakim, 1986 ; Adianto, 1993 ; Foth, 1994).
Organisme sebagai bioindikator kualitas tanah bersifat sensitif terhadap perubahan, mempunyai respon spesifik dan ditemukan melimpah di dalam tanah (Primack, 1998). Salah satu organisme tanah adalah fauna yang termasuk dalam kelompok makrofauna tanah (ukuran > 2 mm) terdiri dari milipida, isopoda, insekta, moluska dan cacing tanah (Wood, 1989). Makrofauna tanah sangat besar peranannya dalam proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah (Anderson, 1994). Biomasa cacing tanah telah diketahui merupakan bioindikator yang baik untuk mendeteksi perubahan pH, keberadaan molekul organik, kelembaban tanah dan kualitas humus. Rayap berperan dalam pembentukan struktur tanah dan dekomposisi bahan organik (Anderson, 1994).
Penentuan bioindikator kualitas tanah diperlukan untuk mengetahui perubahan dalam sistem tanah akibat pengelolaan yang berbeda. Perbedaan penggunaan lahan akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah (Lavelle, 1994). Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman secara monokultur pada sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan terjadinya penurunan secara nyata biodiversitas makrofauna tanah (Crossley et al., 1992; Paoletti et al., 1992; Pankhurst, 1994).
Menurut Baker (1998), populasi, biomasa dan diversitas makrofauna tanah dipengaruhi oleh praktek penggelolaan lahan dan penggunaannya. Sebaliknya, pada lahan terlantar karena kualitas lahannya tergolong masih rendah menyebabkan hanya makrofauna tanah tertentu yang mampu bertahan hidup, sehingga diversitas makrofauna tanah baik yang aktif di permukaan tanah maupun di dalam tanah juga sangat rendah.
Fauna tanah memerlukan persyaratan tertentu untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Struktur dan komposisi makrofauna tanah sangat tergantung pada kondisi lingkungannya. Makrofauna tanah lebih menyukai keadaan lembab dan masam lemah sampai netral (Notohadiprawiro, 1998). Hakim dkk (1986) dan Makalew (2001), menjelaskan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi aktivitas organisme tanah yaitu, iklim (curah hujan, suhu), tanah (kemasaman, kelembaban, suhu tanah, hara), dan vegetasi (hutan, padang rumput) serta cahaya matahari.
Cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat-sifat tumbuhan dan hewan (Soetjipta, 1992). Tumbuhan dan hewan yang berbeda memiliki kebutuhan akan cahaya, air, suhu, dan kelembapan yang berbeda (Reinjtjes et al.,1999). Jumar (2000) menyebutkan berdasarkan responnya terhadap cahaya, makrofauna tanah ada yang aktif pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Sugiyarto (2000) menjelaskan bahwa kebanyakan makrofauna permukaaan tanah aktif di malam hari. Selain terkait dengan penyesuaian proses metabolismenya, respon makrofauna tanah terhadap intensitas cahaya matahari lebih disebabkan oleh akitivitas menghindari pemangsaan dari predator. Dengan pergerakaannya yang umumnya lambat, maka kebanyakan jenis makrofauna tanah aktif atau muncul ke permukaan tanah pada malam hari.
Bahan organik tanaman merupakan sumber energi utama bagi kehidupan biota tanah, khususnya makrofauna tanah (Suin, 1997), sehingga jenis dan komposisi bahan organik tanaman menentukan kepadatannya (Hakim dkk, 1986). Makrofauna tanah umumnya merupakan konsumen sekunder yang tidak dapat memanfaatkan bahan organik kasar/seresah secara langsung, melainkan yang sudah dihancurkan oleh jasad renik tanah (Soepardi, 1983).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.I Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini di lakukan di lingkungan Pusat Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu pengamatan dilaksanakan pada tanggal 1 April 2010 pukul 09.30-11.30 WIB.
III.II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini antara lain: botol air mineral ukuran 1,5 liter, fiber glass, botol koleksi, tali rafia, alat gali, soil tester, termometer dan luxmeter. Baha yang diguakan dalam praktikum kali ini antara lain: air, detergent dan formalin 4%.
III.III. Cara kerja
Metode yang digunakan pada ptaktikum kali ini menggunakan metode Pit Fall Trap. metode ini dilakukan dengan cara membuat 5 buah lubang pada tanah sedalam 10 cm yang membentuk lingkaran yang masing-masing berjarak 1 m. Kemudian kedalamnya dimasukan botol gelas perangkap yang telah diisi oleh formalini 4% dan larutan detergen sebanyak 50 ml. bagian atas gelas perangkap ditutup oleh fiberglass setinggi 10 cm dan dibuat agak miring untuk meghindari masuknya air hujan kedalam lubang perangkap. Perangkap tersebut dipasang selama 7 hari dan dilakukan prngumpulan sample selama dua hari sekali. Fauna tanah yang terperangkap kemudian dimasukan kedalam plasti sampel dan dibawa ke Laboratorium untuk keperluan analisis data.
Pada masing masing lubang juga dilakukan pengukuran beberapa faktor variabel lingkungan seperti intensitas cahaya, kelembaban udara, kelembaban tanah, pH tanah, dan suhu tanah, baik pada lingkungan bervegetasi pohon maupun pada lingkungan bervegetasi rumput.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kompilasi data makro fauna tanah yang ditemukan di vegetasi rumput
No Taksa Σindividu KR(%) Pi ln Pi Pi.lnPi
1 Hymenoptera 1 151 36.47 0,365 -1,007 -0,367
2 Hymenoptera 2 81 19,56 0,147 -1,917 -0,281
3 Hymenoptera 3 23 5,55 0,055 -2,900 -0,159
4 Hymenoptera 4 28 6,76 0,067 -2,703 -0,181
5 Hymenoptera 5 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
6 Diptera 115 27,7 0,002 -6,214 -0,012
7 Kadal 2 0,48 0,277 -1,283 -0,355
8 Arachnida 1 1 0,24 0,005 -5,298 -0,026
9 Arachnida 2 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
10 Gastropoda 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
11 Homoptera 3 0,72 0,007 -4,960 -0,035
12 Chilopoda 2 0,48 0,005 -5,298 -0,026
13 Scorpionida 1 0,24 0,002 -6,214 -0,012
14 Hirudinea 4 0,96 0,009 -4,710 -0,042
TOTAL 414 100 -1,532
H’= 1,532 e = 0,109
Kompilasi data makro fauna tanah yang ditemukan di vegetasi pohon
No Taksa Σindividu KR(%) Pi ln Pi Pi.lnPi
1 Coleoptera 1 1 0,62 0.006 -5,115 -0,030
2 Coleoptera 2 2 1,23 0,012 -4,422 -0,053
3 Hymenoptera 1 23 14,19 0,142 -1,951 -0,277
4 Hymenoptera 2 22 13,58 0,136 -1,995 -0,271
5 Hymenoptera 3 6 3,70 0,037 -3,296 -0,121
6 Hymenoptera 4 28 17,28 0,172 -1,760 -0,302
7 Oligochaeta 3 1,85 0,018 -4,017 -0,072
8 Lepidoptera1 1 0,62 0,006 -5,115 -0,030
9 Lepidoptera 2 2 1,23 0,012 -2,095 -0,053
10 Diptera 1 1 0,62 0,006 -5,115 -0,030
11 Kadal 1 0,62 0,006 -5,115 -0,030
12 Orthoptera 1 0,62 0,074 -5,115 -0,030
13 Acarina 12 7,4 0,074 -2,603 -0,192
14 Diptera 2 56 36,4 0,364 -1,010 -0,367
15 Diplopoda 1 0,62 0.006 -5,115 -0,030
16 Chilopoda 2 1,23 0,012 -4,422 -0,053
TOTAL 162 100 -2,011
H’=2,011 e= 1,125
No Faktor fisik Vegetasi pohon Vegetasi rumput
1 Suhu udara awal (℃) 28,83 30,17
2 Suhu udara akhir (℃) 32,00 27,50
3 Kelembaban awal (%) 62,67 31,67
4 Kelembaban akhir (%) 42,67 65, 00
5 Intensitas cahaya awal (klux) 1,75 85,73
6 Intensitas cahaya akhir (klux) 3,26 37,63
7 pH tanah 6,37 6,63
8 Suhu tanah (℃) 27,5 28,67
Pembahasan
Pengamatan kali ini dilakukan dengan menggunakan metode pit fall trap, yaitu dengan membuat perangkap berupa lubang dari botol mineral sedalam 10 cm yang didalamnya diisi dengan larutan formalin 4% dan larutan detergen sebanyak 50 ml. Laruta formalin berfungsi sebagai pengawet dari bagi makrofauna yang terjebak di dalam lubang. Larutan detergen berfungsi sebagai cairan yang dapat meurunkan tegangan permukaan air, karena terdapat beberapa jenis serangga dapat berdiri diatas air karena tingginya tegangan permukaan air.
Diversitas makro fauna tanah
Tinggi rendahnya jumlah makrofauna tanah pada pengamatan yang dilakukan ditentukan oleh banyak faktor diantaranya sumber makanan yang cukup dan kondisi lingkungan yang sesuai. Jumlah individu makrofauna tanah dari tiga kali pengambilan terdapat perbedaan jenis makrofauna tanah. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagi faktor seperti faktor makanan yang melimpah, suhu, pH, dan lingkungan (habitat) yang tidak sesuai dengan pola kehidupan makrofauna tanah. Menurut Baker (1998), populasi, biomasa dan diversitas makrofauna tanah dipengaruhi oleh praktek penggelolaan lahan dan penggunaannya. Pada lahan terlantar karena kualitas lahannya tergolong masih rendah menyebabkan hanya makrofauna tanah tertentu yang mampu bertahan hidup, sehingga diversitas makrofauna tanah baik yang aktif di permukaan tanah maupun di dalam tanah juga sangat rendah.
Dari hasil penyortiran semua jebakan di vegetasi rumput, terdapat 414 individu yang dapat digolongkan dalam sembilan ordo dan spesies terbanyak terdapat pada ordo hymenoptera. Pada vegetasi pohon terdapat 162 individu yang tercatat dan terbagi dalam sepuluh ordo. Pada vegetasi pohon ini spesies terbanyak juga berasal dari ordo hymenoptera.
Diversitas makrofauna tanah yang didapat dari beberapa kali penagamatan diperoleh beberapa spesies dari beberapa ordo. Pada lingkungan bervegetasi rumput terdapat dua ordo yang termasuk predominan yaitu ordo hymenoptera dan ordo diptera dengan jumlah spesies tebesar didapat dari ordo hymenoptera. Pada lingkungan bervegetasi pohon ditemukan tiga ordo yang termasuk predominan yaitu ordo hymenoptera, diptera dan acarina dengan jumlah spesies tertinggi dari kelompok diptera degan 56 individu.
Pada kedua vegetasi ini total jumlah individu tertinggi adalah jenis semut (ordo hymenoptera). Hal ini dikarenakan pada kedua vegetasi ini menyadiakan makanan yang berlimpah untuk jenis semut tersebut. Selain itu, vegetasi seperti ini merupakan habitat yag ideal bagi semut yaitu pepohonan dan rerumputan. Selain sebagai sumber makanan, bahan organik tanaman juga digunakan sebagai tempat untuk berlindung dari tekanan lingkungan (Sugiyarto, 2000). Semakin banyak bahan organik yang tersedia maka jumlah individu makrofauna tanah akan semakin bertambah, karena mampu melindungi dari tekanan lingkungan baik tingginya suhu lingkungan maupun kemungkinan adanya predator.
Selain jenis semut, spesies yang total individunya tinggi di kedua vegetasi ini adalah spesies dari ordo Diptera yaitu nyamuk. Dengan adanya saluran air sebagai tempat bertelur dan rendahnya intensitas cahaya merupakan lingkungan yang sesuai bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Dari hasil perhitungan didapatkan nilai indeks keanekaragaman pada vegetasi pohon lebih tinggi daripada indeks keanekaragaman pada vegetasi rumput. Untuk nilai indeks kesamaan, pada vegetasi pohon juga lebih tinggi daripada vegetasi rumput. hal ini menunjukkan bahwa pada vegetasi pohon makrofauna tanahnya lebih variatif bila dibandingkan dengan makrofauna di vegetasi rumput. Hal ini dapat dikarenakan pada vegetasi pohon merupakan habitat yang sesuai untuk berbagai makrofauna tanah. Pada vegetasi pohon menyediakan sumber makanan yang lebih bagi berbagai jenis serangga dan pepohonan dapat memberi perlindungan lebih daripada di daerah rerumputan bagi sebagian jenis makrofauna.
Faktor fisik lingkugan
Pada vegetasi pohon dan vegetasi rumput suhu udara awal rata-rata keduanya tidak berbeda jauh yaitu 28,83℃ pada vegetasi pohon dan 30,17℃ pada vegetasi rumput. Hal ini dikarenakan jarak kedua tempat pengamatan tidak jauh terlalu jauh. Hal yang sama juga terlihat pada hasil pengukuran untuk suhu akhir, hasilnya juga tidak jauh berbeda.
Suhu tanah rata-rata pada vegetasi rumput dan vegetasi pohon relatif sama, yaitu 28,67℃ pada vegetasi rumput dan 27,50℃ pada vegetasi pohon. Suhu tanah yang relatif lebih rendah terdapat di kawasan vegetasi pohon. Hal tersebut dikarenakan pada lahan tersebut hampir seluruhnya tertutupi oleh pepohonan. Penutupan tersebut akan mengurangi evaporasi dan menjaga suhu tanah.
Dari hasil pengukuran pH atau derajat keasaman tanah, di vegetasi pepohonan dan vegetasi rumput juga meunjukkan hasil yang relatif sama. pH di kedua vegetasi ini cenderung sedikit asam. Pada pH dalam rentanagan ini banyak makrofauna yang dapat hidup diantaranya cacing tanah. pH ideal untuk cacing tanah adalah 6–7,2 (Rukmana, 1999). Untuk jenis semut juga hidup pada kisaran pH tersebut, meskipun jenis semut dapat hidup pada retang pH lebih tinggi daripada cacing tanah.
Kelembaban udara awal dan akhir di kedua vegetasi menunjukkan perbedaan. Pada kelembaban udara awal, vegetasi rumput memiliki nilai yang lebih rendah dari vegetasi pohon. Namun pada pengukuran kelembaban udara akhir, vegetasi rumput memiliki nilai kelembaban udara yang lebih tinggi daripada vegetasi pohon.
Untuk nilai intensitas cahaya, di vegetasi rerumputan relatif lebih tinggi daripada intensitas cahaya di vegetasi pohon. Hal ini dikarenakan pada vegetasi rumput cahaya langsung sampai pada lahan tersebut tanpa ada penghalang. Pada vegetasi pohon cayaya sebagian terhalang oleh pepohonan sehingga intensitas cahayanya relatif lebih rendah. Umumnya jumlah makrofauna lebih rendah pada intensitas cahaya yang tinggi, namun pada kedua vegetasi ini makrofauna tanah terlihat lebih toleran terhadap perbedaan intensitas cahaya.
BAB V
KESIMPULAN
Ordo diptera merupakan makrofauna yang jumlah individunya paling bayak ditemukan di vegetasi pohon dan di vegetasi rumput
Ordo hymenoptera, diptera dan acarina merupakan ordo predomonan di kedua vegetasi
Nilai indeks keanakaragaman di vegetasi pohon lebih tinggi dari vegetasi rumput
Nilai indeks kesamaan di vegetasi pohon lebih tinggi dari vegetasi rumput
Daftar Isi
Anderson JM. 1994. Functional Attributes of Biodiversity in Landuse System: In D.J. Greenland and I. Szabolcs (eds). Soil Resiliense and Sustainable Land Use. CAB International. Oxon
Baker GH. 1998. Recognising and responding to the influences of agriculture and other land use practices on soil fauna in Australia. App.Soil Ecol. 9,303-310.
Crossley Jr. DA, Mueller BR & Perdue JC. 1992. Biodiversity of microarthopds in agricultural soil: relations to processes. Agric. Ecosyst. Environ. 40,37-46
Doran JW & Parkin. 1994. Definning and assessing soil quality, IN J.W. Doran D.C. Coleman D.F. Bezdick and B.A Stewart (eds). Defining Soil Quality for Sustainable Enironment. SSSA Special Publication 35. SSSA. Madison pp 3 -21
Hakim, N., M. Y. Nyakpa, A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Dika, Go Ban
Hong, H. H. Bailley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung : Penerbit
Universitas Lampung.
Makalew, A. D. N. 2001. “Keanekaragaman Biota Tanah Pada Agroekosistem Tanpa Olah Tanah (TOT)”. Makalah Falsafah sains program pasca sarjana /S3. Bogor:IPB.
Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Primack BR, Supriatna J, Indrawan M. & Kramadibrata P. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Rukmana R. 1999. Budidaya Cacing Tanah. Kanisius. Yogyakarta
Suin, N. M. 1997. Ekologi Hewan tanah. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara.
Wood M. 1989. Soil Biology. Chapman and Hall. New York.
Selasa, 15 Maret 2011
POPULASI DEKOMPOSER
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Di lingkungan Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah memiliki tingkat kesuburan tanah yang berbeda .Tingkat kesuburan tanah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penyusun tanah seperti bahan mineral, bahan organik, air, udara, populasi dekomposer dan lain-lain.
Populasi dekomposer merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kesuburan tanah. Salah satu dekomposer utama yang berperan dalam menentukan kesuburan tanah adalah cacing tanah. Cacing tanah termasuk invertebrata, phylum Annelida, ordo Oligochaeta. Cacing tanah tersebut memakan sisa tanaman yang membusuk dan menghasilkan sisa pencernaan (feses) yang merupakan sumber bahan organik tanah.
Perbedaan jenis dan faktor lingkungan tanah, menyebabkan perbedaan tingkat kesuburan dan jumlah anggota populasi dekomposer yang terdapat didalam tanah khususnya cacing tanah.
Mengingat pentingnya peranan dekomposer (cacing tanah) tersebut sebagai bio indikator untuk mengetahui kualitas serta tingkat kesuburan tanah sehingga diperlukan pengamatan terhadap populasi dekomposer tersebut.
I.II. Tujuan
Menentukan kualitas tanah dengan bio indikator cacing tanah.
Membandingkan kepadatan biomassa cacing tanah pada tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.
membandingkan kualitas tanah antara tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan dengan menggunakan cacing tanah sebagai bioindikator kualitas tanah.
Membandingkan pola penyebaran cacin tanah pada tempat berveetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah adalah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair dan gas serta mempunyai sifat dan perilaku yang dinamik (Arsyad, 2000). Pada komponen tersebut selain terdiri dari komponen mati (abiotik) terdapat juga bagian yang hidup (biotik) berupa organisme tanah yang menjalin suatu sistem hubungan timbal balik antar berbagai komponen sebagai suatu ekosistem yang cukup kompleks. Hubungan antara beberapa sifat tanah abiotik dan fungsi ekosistem dapat dijadikan sebagai fungsi yang berhubungan langsung terhadap produksi tanaman dan erosi tanah. Oleh karenanya praktek pengelolaan tanah untuk abad 21 mendatang harus diformulasikan berdasarkan suatu pemahaman dari konsep ekosistem (Herrick,2000)
A.Kualitas tanah
Istilah kesehatan tanah atau kualitas tanah yang diaplikasikan pada
agroekosistem menunjuk kepada kemampuan tanah untuk mendukung secara terus menerus pertumbuhan tanaman pada kualitas lingkungan yang terjaga (Magdoff, 2001).
Menurut The Soil Science Society of Amerika, yang dimaksud dengan Kualitas Tanah (soil quality) adalah kapasitas dari suatu jenis tanah yang spesifik untuk berfungsi di alam atau dalam batas ekosisten terkelola, untuk mendukung produktivitasbiologi, memelihara kualitas lingkungan dan mendorong kesehatan hewan dantumbuhan (Herrick, 2000).
Jhonson et. al. (1997 dalam Doran dan Zeiss, 2000) mendefinisikan kualitas tanah sebagai suatu ukuran kondisi relatip tanah untuk kebutuhan satu atau lebih spesies biologi dan atau untuk suatu tujuan manusia. Untuk aplikasi di bidang pertanian, yang dimaksud dengan kualitas tanah adalah kemampuan tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem yang sesuai untuk produktivitas biologis, mampu memelihara kualitas lingkungan dan mendorong tanaman dan hewan menjadi sehat (Magdoff, 2001).
Secara lebih terinci, Doran dan Safley (1997) mendefinisikan kualitas tanah sebagai kecocokan sifat fisik, kimia dan biologi yang bersama-sama (1) menyediakan suatu medium untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas biologi, (2) mengatur dan memilah aliran air dan penyimpanan di lingkungan serta (3) berperan sebagai suatu penyangga lingkungan dalam pembentukan dan pengrusakan senyawa-senyawa yang meracuni lingkungan. Tanah disebut berkualitas tinggi bila memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) cukup tapi tidak berlebih dalam mensuplai hara (2) memiliki struktur yang baik (3) memiliki kedalaman lapisan yang cukup untuk perakaran dan drainase (4) memiliki drainase internal yang baik (5) populasi penyakit dan parasit rendah (6) populasi
organisme yang mendorong pertumbuhan tinggi (7) Tekanan tanaman pengganggu (gulma) rendah (8) tidak mengandung senyawa kimia yang beracun untuk tanaman (9) tahan terhadap kerusakan dan (10) elastis dalam mengikuti suatu proses degradasi (Magdof, 2001).
B. Mengenal cacing tanah
Cacing tanah merupakan hewan verteberata yang hidup di tempat yang lembab dan tidak terkena matahari langsung. Kelembaban ini penting untuk mempertahankan cadangan air dalam tubuhnya. Kelembaban yang dikehendaki sekitar 60 - 90%. Selain tempat yang lembab, kondisi tanah juga mempengaruhi kehidupan cacing seperti pH tanah, temperatur, aerasi, CO2, bahan organik, jenis tanah, dan suplai makanan. Diantara ke tujuh faktor tersebut, pH dan bahan organik merupakan dua faktor yang sangat poenting. Kisaran pH yang optimal sekitar 6,5 - 8,5. Adapun suhu ideal menurut beberapa hasil penelitian berkisar antara 21-30 derajat celcius.
Cacing tanah in merupakan dekomposer utama pada ekosistem tanah. Berdasarkan tempat hidupnya, cacing tanah dibedakan menjadi: (1)Tipe Epigeik: hidup di permukaan tanah, (2) Tipe Endogeik: hidup di dalam tanah (3) Tipe Anecigeik: hidup di dalam tanah dan sekresi di permukaan tanah. Apabila dikaitkan dengan kedalaman perakaran tanaman, tipe epigeik dan anecigeik berperan pada kesuburan tanaman semusim atau berakar dangkal. Sedangkan tipe endogeik berperan pada produktifitas tanaman keras dan tanaman kehutanan yang berakar dalam.
C. Penghitungan kepadatan populasi cacing tanah
Estimasi kepadatan populasi cacing tanah memiliki banyak metode yang telah dikembangkan dalam rangka mengestimasikannya.Antara lain:
1.Cara Kimia
Dengan metoda ini semacam zat kimia dituangkan di tanah dan diharapkan cacing tanah tersebut akian keluar dan cacing itu diambil dan dihitung lalu dikoleksi.
a.Metoda cairan potassium permanganat
Pertama dilakukan oleh Evans dan Guild tahun 1947. Cairan potassium permanganate dituangkan ditanah pada luas tertentu. Cairan itu masuk kedalam tanah sehinga menyababkan cacing tanah keluar. Metoda ini tergantung pada daya penetrasi cairan itu ke dalam tanah. Dengan metoda ini akan didapat hasil yang “ Under Estimate” untuk beberapa jenis cacing tanah.
Metoda formalin
Metoda ini pertama kali ditamukan oleh Raw tahun 1959. Metoda ini kurang baik untuk jenis cacing tanah yang membuat lubang horizontal di tanah karena cairan formalin itu tidak sampai dengan sempurna pada cacing.
2.Cara pengukuran populasi hewan tanah
a. Metoda Sortir Tangan
( Hand Sorting Method) Metoda sortir tangan adalah metoda pengambilan cacing tanah yang paling baik,dan hasilnya paling baik digunakan dan dibandingkan dengan metoda lainnya. Kelemahan metoda ini hanyalah karena metoda ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga dan ketelitian yang tinggi. Efisien metoda ini dibuktikan oleh Raw, Nelson, dan Satchel pada tahun 1960 dan 1962.
Pada metoda ini tanah diambil pada kuadrat yang telah ditentukan luasnya dan kedalamannya, dan tanah itu dimasukkan kedalam suatu kantong dan selanjutnya cacing yang terdapat didalamnya langsung disortir. Cacing uyang didapat dibersihkan dan langsung dihitung dan ditimbang beratnya dan selanjutnya diawetkan dalam formalin 10%.
Kepadatan populasi berdasarkan biomassa dapat dilakukan dengan cara mengkonfersikan berat segar tanpa makanan dan berat keringnya di laboratorium.
b. Metoda pengapungan
Metoda ini dapat digunakan untuk cacing tanah yang berukuran kecil yang sulit ditemukan dengan metoda sortir tangan. Mula-mula tanah contoh dicuci, dan selanjutnya material organic yang ada didalam tanah itu lalu diapungkan dalam cairan magnesium sulfat. Butir-butir tanah akan terbenam. Dengan metoda ini cacing yang halus dan kokon tanah akan dapat terkoreksi.
c. Metoda penyaringan
Metoda ini cacing tanah dicuci engan air dengan tekanan kuat dan disaring dengan ayakan yang ukuran lubangnya bervariasi dari besar ke kecil. Penyaringan mula-mula dilakukan dengan yang berlubang besar sehingga cacing yang besar bersama material organic akan tertinggal dalam ayakan. Selanjutnya ditampung pula dibawahnya dengan ayakan yang makin lama makin kecil sehingga akhirnya semua cacing dan kokon yang ada dalam tanah akan terkumpulkan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.I Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini di lakukan di lingkungan Pusat Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu pengamatan dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2010 pukul 09.30-11.30 WIB.
III.II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan ini diantaranya: Roll meter, Sprayer, penggali, plastik sampel, tisu dan timbangan analitik. Bahan yang digunakan pada pengamatan kali ini antara lain: larutan formalin 4% dan alkohol 70%.
III.III. Cara kerja
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyemprotan formalin dan cara sortir. Pertama tanah dibersihkan dari serasah dan diberi tanda petakan 25x25cm. Lalu semprotkan formalin 4% diatas permukaan tanah dan biarkan selama kurang lebih 15 menit. Selanjutnya tanah digali dengan kedalaman 10cm lalu sortir cacing tanah yang terdapat pada kedalaman tersebut. Penyortiran dilanjutkan pada kedalaman 20cm dan 30cm. Sampel cacing lalu dikumpulkan di plastik sampel dan lakukan analisis data cacing tanah di laboratorium.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Hasil Pengamatan
1.1. Hasil pengamatan di lingkungan non vegetasi
Pengukuran Kelompok 2 Kelompok 4 Kelompok 6
x ̃ (gr/m2 ) 0,96 1,76 7,92
Kelembaban (%) 2,95 5,75 6,00
pH 5,90 5,50 6,00
Suhu (℃) 25,5 28,5 29
Kadar air (%) 79 62 48
Kandungan organik (%) 47,6 10,52 16,3
Kandungan anorganik (%) 52,38 89,47 83,6
x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,55
S2 29,23
S2/X 7,55
Bulk Density 1,04
Porositas (%) 60,5
Suhu rata-rata (℃) 27,67
Kadar air rata-rata (%) 63
Kandungan organik rata-rata ( %) 45,47
Kandungan organik rata-rata (%) 75,15
Kualitas tanah Baik
Pola penyebaran Mengelompok
1.2. Hasil pengamatan di lingkungan vegetasi
Pengukuran Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5
x ̃ (gr/m2) 1,28 6,72 1,12
Kelembaban (%) 6,5 2 3
pH 6 6,7 6
Suhu (℃) 29 30 29
Kadar air (%) 52 25 28
Kandungan organik (%) 12,5 5,3 13,8
Kandungan anorganik (%) 87,5 94,6 86,2
x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,04
S2 22,94
S2/X 8,23
Bulk Density 1,16
Porositas (%) 55,92
Suhu rata-rata (℃) 29,3
Kadar air rata-rata (%) 35
Kandungan organik rata-rata (%) 10,53
Kandungan anorganik rata-rata (%) 89,3
Kulitas tanah Cukup baik
Pola penyebaran Mengelompok
2. Pembahasan
Pengamatan ini dilakukan dengan metoda penyemprotan formalin dan metoda sortir tangan. Dari hasil yang didapatkan, metode sortir dengan tangan lebih efektif karena jumlah cacing tanah sangat sedikit dan ukuran cacing tanah relatif kecil, oleh karena diperlukan pencarian sebih teliti yaitu langsung disortir dengan tangan. Cacing tanah yang ditemukan umumnya pada kedalaman 10 cm pertama. Hal ini diakibatkan karena struktur tanah yang keras dan berbatu sehingga tempat tersebut menjadi lingkungan yang kurang baik bagi cacing tanah.
Cacing tanah yang ditemukan, hanya berada pada kedalaman 10 cm pertama. Pada kedalaman selanjutnya yaitu kedalaman 20 cm dan 30 cm tidak lagi ditemukan adaya cacing tanah. Hal ini dikarenakan pada kedalaman 20 cm dan 30 cm, tekstur tanahnya liat dan lebih keras, serta terdapat batu beton, porositasnya kecil sehingga menyebabkan tempat ini merupakan tempat yang buruk bagi cacing tanah. Pada kedalaman 10 cm pertama kondisi tanah masih gembur, kandungan bahan organik dan anorganiknya cukup baik sehingga memungkinkan cacing untuk hidup. Berdasarkan kedalaman ditemukannya, maka cacing yang ditemukan termasuk tipe epigeik, yaitu kelompok cacing tanah yang hidup pada permukaan tanah.
Pada pengamatan di lingkungan non vegetasi, di dapatkan kerapatan biomassa rata-rata dekomposer tiap meter hanya 3,55 gr/m^2. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah tersebut telah tercemar atau kurang subur. Hal ini dikarenakan jumlah dekomposer yang dalam hal ini adalah cacing tanah populasinya sangat sedikit. Minimnya jumlah cacing tanah ini mungkin dikarenakan oleh struktur tanah yang keras dan minim unsur bahan organik, selain itu suhu dan pH tanah ditempat itu tidak sesuai untuk kerapatan biomassa populasi cacing tanah.
Hasil yang tidak jauh berbeda juga didapatkan pada perhitungan kerapatan biomassa dekomposer di lingkungan vegetasi didapatkan kerapatan biomasa hanya 3,04 gr/m2 . dari hasil ini juga menunjukkan kualitas tanah di tempat ini kurang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kerapatan biomassa cacing tanahdi tempat ini juga tidak jauh berbeda dengan lingkungan non vegetasi, antara lain kandunagn bahan organik pada tanah dan tekstur tanah.
Salah satu Ciri-ciri tanah yang sehat adalah populasi organismenya beragam dan aktif serta memiliki dalam jumlah tinggi residu yang relatif segar sebagai sumber makanan organisme (Magdoff, 2001).
Dari hasil pengamatan dan perhitungan, didapatkan nilai dari faktor-faktor fisik pada tanah yang diamati baik di lingkungan vegetasi maupun di lingkungan non vegetasi. Banyak peneliti telah mengembangkan indikator kesehatan tanah dengan mengukur berbagai sifat tanah dan menghubungkannya dengan praktek pengelolaan yang berbeda, produktivitas, kualitas lingkungan atau tingkat serangan penyakit tanaman. Doran et. al. (1996 ) menyajikan daftar sifat-sifat tanah yang dapat mempengaruhi kualitas dan fungsi ekologi tanah. Misalnya kerapatan ruang (bulk dencity), infiltrasi dan kapasitas memegang air, C organic dan N total, daya hantar listrik, pH, hara tersedia, dan pengukuran aktivitas dan biomassa mikrobia. (van Bruggen dan Semenov, 2000).
Untuk nilai kelembaban tanah di lingkungan vegetasi terdapat sedikit perbedaan dengan kelembaban tanah di lingkungan non vegetasi namun nilai selisihnya tidak terlalusignifikan. Pada lingkungan non vegetasi kelembaban tanahnya sedikit lebih tinggi dari tanah di lingkungan vegetasi. Hal ini dapat diakibatkan perbedaan tekstur tanah sehingga kemampuan tanah untuk mengikat air di kedua tempat ini juga berbeda.
Derajat keasaman atau pH tanah di lingkungan vegetasi dan non vegetasi menunjukkan perbedaan meski nilainya juga tidak jauh berbeda. Pada lingkungan non vegetasi pH tanahnya sedikit lebih asam. Perbedaan pH ini dapat diakibatkan oleh perbedaan kandungan organik tanah.
Faktor fisik lain yang diamati adalah kandungan organik dan anorganik tanah. Dari hasil perhitungan, kandungan organik tanah jauh lebih sedikit dibandingkan kandungan anorganik tanah. Hal ini sangat wajar, karena sebagian besar tanah di susun oleh lapisan pasir dan bebatuan. Selain itu, minimnya jumlah populasi cacing tanah telah menunjukkan bahwa ketersediaan bahan organik di tanah tersebut memang kecil jumlahnya. Hal ini menguatkan pernyataan bahwa tanah yang sehat adalah tanah yang memiliki dalam jumlah tinggi bahan organik yang terhumifikasi untuk mengikat air dan muatan negatif untuk pertukaran kation (Magdoff, 2001).
Selain itu kadar air tanah di kedua tempat (vegetasi dan non vegetasi) tersebut juga terdapat perbedaan meskipun hal tersebut tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan dekomposer. Di lingkungan non vegetasi kandungan air pada tanahnya lebih tinggi daripada tanah di lingkungan vegetasi.
Suhu tanah rata-rata di kedua lingkungan tersebut terdapat perbedaan. Suhu tanah di lingkungan vegetasi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan suhu di lingkungan non vegetasi. Pengaruh suhu seharusnya tidak menjadi masalah bagi pertumbuhan cacing tanah, karena suhu di kedua tempat tersebut masih termasuk ke dalam suhu ideal pertumbuhan cacing tanah yaitu berkisar antara 20-30 derajat celsius.
Untuk tekstur tanah yang diamati, seluruhnya bertipe tanah liat dan tanah liat berpasir. Hal ini juga merupakan salah satu penghambat pertumbuhan dekomposer khususnya cacing tanah. Tanah liat bertekstur keras dan sangat padat sehingga sulit untuk ditempati sebagai tempat tinggal bagi cacing tanah.
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan terdapat perbedaan kualitas tanah di kedua vegetasi ini. Kualitas tanah pada kawasan non vegetasi dikatakan baik karena kepadatan biomassa cacing tanah pada kawasan ini lebih tinggi daripada kawasan bervegetasi. Dengan ditemukannya biomassa cacing tanah yang banyak, berarti tanah tersebut memiliki faktor-faktor pembatas yang diperlukan cacing untuk hidup. Faktor-pembatas ini merupakan faktor-faktor yang dibutuhkan suatu makhluk hidup untuk dapat hidup dan beradaptasi di suatu daerah. Cacing tanah rentan sekali terhadap perubahan lingkungan, artinya ia tidak dapat hidup di lingkungan yang buruk yaitu lingkungan yang berbatu dan memiliki sedikit kandungan organik.
Pada kedua vegetasi ini, pola penyebaran individunya tidak terdapat perbedaan. Berdasarkan hasil analisis data, pola penyebaran individu pada kedua kawasan tersebut hasilnya lebih dari 1 yang berarti pola penyebaran individu tersebut adalah mengelompok. Penyebaran individu secara mengelompok merupakan hal yang umum terjadi di alam. Individu-individu menunjukkan derajat pengelompokkan karena adanya kebutuhan yang bersamaan akan faktor lingkungannya (Setiadi,1989).
Keberadaan populasi cacing tanah kini juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Keberadaan cacing tanah sebagai dekomposer sangat penting terutama dalam meningkatkan kesuburan tanah. Pembangunan yang dilakukan manusia telah banyak merusak lingkungan dan habitat cacing tanah. Singkatnya, sistem biologi dengan menggunakan cacing tanah sebagai bio indikator sangat sensitif terhadap degradasi yang baru terjadi sekalipun, sehingga perubahan status biologi dari sistem tersebut dapat menjadi peringatan dini atas kemunduran lingkungan dan mendorong kita untuk bereaksi sebelum kerusakan yang tidak dapat dipulihkan terjadi (Pankhurst dan Doube, 1997).
BAB V
KESIMPULAN
Tanah di lingkungan vegetasi di sekitar Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki kualitas kurang baik.
Cacing tanah dapat digunakan sebagai bio indikator kualitas tanah
Faktor fisik tanah mempengaruhi populasi dekomposer
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. (2000). Konservasi tanah dan air. IPB Press.
Herrick, J. E. (2000). Soil Quality: an indicator of sustainable land management ?. Applied Soil Ecology. (15) 75-83.
Magdoff, F. (2002). Concept, componen and strategies of soil health in agroecosystems. Journal of Nematology 33 (4); 169-172.
Ali Hanifah,K, Iswandi Anas, Napoleon dan Ghofar.2005. Biologi Tanah. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Pankhurst, C. E., B. M. Doube and V.V. S. R. Gupta. (1997). Biological indicators of soil health: Synthesis. dalam C. Pankhurst, B.M. Doube and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological Indikators of Soil Health. UK. 419-435. CAB International.
Setiadi, D. dan P.D. Tjondronegoro. 1989. Dasar-dasar Ekologi. Bogor : IPB Press
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Di lingkungan Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah memiliki tingkat kesuburan tanah yang berbeda .Tingkat kesuburan tanah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penyusun tanah seperti bahan mineral, bahan organik, air, udara, populasi dekomposer dan lain-lain.
Populasi dekomposer merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat kesuburan tanah. Salah satu dekomposer utama yang berperan dalam menentukan kesuburan tanah adalah cacing tanah. Cacing tanah termasuk invertebrata, phylum Annelida, ordo Oligochaeta. Cacing tanah tersebut memakan sisa tanaman yang membusuk dan menghasilkan sisa pencernaan (feses) yang merupakan sumber bahan organik tanah.
Perbedaan jenis dan faktor lingkungan tanah, menyebabkan perbedaan tingkat kesuburan dan jumlah anggota populasi dekomposer yang terdapat didalam tanah khususnya cacing tanah.
Mengingat pentingnya peranan dekomposer (cacing tanah) tersebut sebagai bio indikator untuk mengetahui kualitas serta tingkat kesuburan tanah sehingga diperlukan pengamatan terhadap populasi dekomposer tersebut.
I.II. Tujuan
Menentukan kualitas tanah dengan bio indikator cacing tanah.
Membandingkan kepadatan biomassa cacing tanah pada tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.
membandingkan kualitas tanah antara tempat bervegetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan dengan menggunakan cacing tanah sebagai bioindikator kualitas tanah.
Membandingkan pola penyebaran cacin tanah pada tempat berveetasi pepohonan dan tidak bervegetasi pepohonan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah adalah benda alami heterogen yang terdiri atas komponen-komponen padat, cair dan gas serta mempunyai sifat dan perilaku yang dinamik (Arsyad, 2000). Pada komponen tersebut selain terdiri dari komponen mati (abiotik) terdapat juga bagian yang hidup (biotik) berupa organisme tanah yang menjalin suatu sistem hubungan timbal balik antar berbagai komponen sebagai suatu ekosistem yang cukup kompleks. Hubungan antara beberapa sifat tanah abiotik dan fungsi ekosistem dapat dijadikan sebagai fungsi yang berhubungan langsung terhadap produksi tanaman dan erosi tanah. Oleh karenanya praktek pengelolaan tanah untuk abad 21 mendatang harus diformulasikan berdasarkan suatu pemahaman dari konsep ekosistem (Herrick,2000)
A.Kualitas tanah
Istilah kesehatan tanah atau kualitas tanah yang diaplikasikan pada
agroekosistem menunjuk kepada kemampuan tanah untuk mendukung secara terus menerus pertumbuhan tanaman pada kualitas lingkungan yang terjaga (Magdoff, 2001).
Menurut The Soil Science Society of Amerika, yang dimaksud dengan Kualitas Tanah (soil quality) adalah kapasitas dari suatu jenis tanah yang spesifik untuk berfungsi di alam atau dalam batas ekosisten terkelola, untuk mendukung produktivitasbiologi, memelihara kualitas lingkungan dan mendorong kesehatan hewan dantumbuhan (Herrick, 2000).
Jhonson et. al. (1997 dalam Doran dan Zeiss, 2000) mendefinisikan kualitas tanah sebagai suatu ukuran kondisi relatip tanah untuk kebutuhan satu atau lebih spesies biologi dan atau untuk suatu tujuan manusia. Untuk aplikasi di bidang pertanian, yang dimaksud dengan kualitas tanah adalah kemampuan tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem yang sesuai untuk produktivitas biologis, mampu memelihara kualitas lingkungan dan mendorong tanaman dan hewan menjadi sehat (Magdoff, 2001).
Secara lebih terinci, Doran dan Safley (1997) mendefinisikan kualitas tanah sebagai kecocokan sifat fisik, kimia dan biologi yang bersama-sama (1) menyediakan suatu medium untuk pertumbuhan tanaman dan aktivitas biologi, (2) mengatur dan memilah aliran air dan penyimpanan di lingkungan serta (3) berperan sebagai suatu penyangga lingkungan dalam pembentukan dan pengrusakan senyawa-senyawa yang meracuni lingkungan. Tanah disebut berkualitas tinggi bila memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) cukup tapi tidak berlebih dalam mensuplai hara (2) memiliki struktur yang baik (3) memiliki kedalaman lapisan yang cukup untuk perakaran dan drainase (4) memiliki drainase internal yang baik (5) populasi penyakit dan parasit rendah (6) populasi
organisme yang mendorong pertumbuhan tinggi (7) Tekanan tanaman pengganggu (gulma) rendah (8) tidak mengandung senyawa kimia yang beracun untuk tanaman (9) tahan terhadap kerusakan dan (10) elastis dalam mengikuti suatu proses degradasi (Magdof, 2001).
B. Mengenal cacing tanah
Cacing tanah merupakan hewan verteberata yang hidup di tempat yang lembab dan tidak terkena matahari langsung. Kelembaban ini penting untuk mempertahankan cadangan air dalam tubuhnya. Kelembaban yang dikehendaki sekitar 60 - 90%. Selain tempat yang lembab, kondisi tanah juga mempengaruhi kehidupan cacing seperti pH tanah, temperatur, aerasi, CO2, bahan organik, jenis tanah, dan suplai makanan. Diantara ke tujuh faktor tersebut, pH dan bahan organik merupakan dua faktor yang sangat poenting. Kisaran pH yang optimal sekitar 6,5 - 8,5. Adapun suhu ideal menurut beberapa hasil penelitian berkisar antara 21-30 derajat celcius.
Cacing tanah in merupakan dekomposer utama pada ekosistem tanah. Berdasarkan tempat hidupnya, cacing tanah dibedakan menjadi: (1)Tipe Epigeik: hidup di permukaan tanah, (2) Tipe Endogeik: hidup di dalam tanah (3) Tipe Anecigeik: hidup di dalam tanah dan sekresi di permukaan tanah. Apabila dikaitkan dengan kedalaman perakaran tanaman, tipe epigeik dan anecigeik berperan pada kesuburan tanaman semusim atau berakar dangkal. Sedangkan tipe endogeik berperan pada produktifitas tanaman keras dan tanaman kehutanan yang berakar dalam.
C. Penghitungan kepadatan populasi cacing tanah
Estimasi kepadatan populasi cacing tanah memiliki banyak metode yang telah dikembangkan dalam rangka mengestimasikannya.Antara lain:
1.Cara Kimia
Dengan metoda ini semacam zat kimia dituangkan di tanah dan diharapkan cacing tanah tersebut akian keluar dan cacing itu diambil dan dihitung lalu dikoleksi.
a.Metoda cairan potassium permanganat
Pertama dilakukan oleh Evans dan Guild tahun 1947. Cairan potassium permanganate dituangkan ditanah pada luas tertentu. Cairan itu masuk kedalam tanah sehinga menyababkan cacing tanah keluar. Metoda ini tergantung pada daya penetrasi cairan itu ke dalam tanah. Dengan metoda ini akan didapat hasil yang “ Under Estimate” untuk beberapa jenis cacing tanah.
Metoda formalin
Metoda ini pertama kali ditamukan oleh Raw tahun 1959. Metoda ini kurang baik untuk jenis cacing tanah yang membuat lubang horizontal di tanah karena cairan formalin itu tidak sampai dengan sempurna pada cacing.
2.Cara pengukuran populasi hewan tanah
a. Metoda Sortir Tangan
( Hand Sorting Method) Metoda sortir tangan adalah metoda pengambilan cacing tanah yang paling baik,dan hasilnya paling baik digunakan dan dibandingkan dengan metoda lainnya. Kelemahan metoda ini hanyalah karena metoda ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga dan ketelitian yang tinggi. Efisien metoda ini dibuktikan oleh Raw, Nelson, dan Satchel pada tahun 1960 dan 1962.
Pada metoda ini tanah diambil pada kuadrat yang telah ditentukan luasnya dan kedalamannya, dan tanah itu dimasukkan kedalam suatu kantong dan selanjutnya cacing yang terdapat didalamnya langsung disortir. Cacing uyang didapat dibersihkan dan langsung dihitung dan ditimbang beratnya dan selanjutnya diawetkan dalam formalin 10%.
Kepadatan populasi berdasarkan biomassa dapat dilakukan dengan cara mengkonfersikan berat segar tanpa makanan dan berat keringnya di laboratorium.
b. Metoda pengapungan
Metoda ini dapat digunakan untuk cacing tanah yang berukuran kecil yang sulit ditemukan dengan metoda sortir tangan. Mula-mula tanah contoh dicuci, dan selanjutnya material organic yang ada didalam tanah itu lalu diapungkan dalam cairan magnesium sulfat. Butir-butir tanah akan terbenam. Dengan metoda ini cacing yang halus dan kokon tanah akan dapat terkoreksi.
c. Metoda penyaringan
Metoda ini cacing tanah dicuci engan air dengan tekanan kuat dan disaring dengan ayakan yang ukuran lubangnya bervariasi dari besar ke kecil. Penyaringan mula-mula dilakukan dengan yang berlubang besar sehingga cacing yang besar bersama material organic akan tertinggal dalam ayakan. Selanjutnya ditampung pula dibawahnya dengan ayakan yang makin lama makin kecil sehingga akhirnya semua cacing dan kokon yang ada dalam tanah akan terkumpulkan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.I Tempat dan waktu pengamatan
Pengamatan ini di lakukan di lingkungan Pusat Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Waktu pengamatan dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2010 pukul 09.30-11.30 WIB.
III.II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengamatan ini diantaranya: Roll meter, Sprayer, penggali, plastik sampel, tisu dan timbangan analitik. Bahan yang digunakan pada pengamatan kali ini antara lain: larutan formalin 4% dan alkohol 70%.
III.III. Cara kerja
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara penyemprotan formalin dan cara sortir. Pertama tanah dibersihkan dari serasah dan diberi tanda petakan 25x25cm. Lalu semprotkan formalin 4% diatas permukaan tanah dan biarkan selama kurang lebih 15 menit. Selanjutnya tanah digali dengan kedalaman 10cm lalu sortir cacing tanah yang terdapat pada kedalaman tersebut. Penyortiran dilanjutkan pada kedalaman 20cm dan 30cm. Sampel cacing lalu dikumpulkan di plastik sampel dan lakukan analisis data cacing tanah di laboratorium.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Hasil Pengamatan
1.1. Hasil pengamatan di lingkungan non vegetasi
Pengukuran Kelompok 2 Kelompok 4 Kelompok 6
x ̃ (gr/m2 ) 0,96 1,76 7,92
Kelembaban (%) 2,95 5,75 6,00
pH 5,90 5,50 6,00
Suhu (℃) 25,5 28,5 29
Kadar air (%) 79 62 48
Kandungan organik (%) 47,6 10,52 16,3
Kandungan anorganik (%) 52,38 89,47 83,6
x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,55
S2 29,23
S2/X 7,55
Bulk Density 1,04
Porositas (%) 60,5
Suhu rata-rata (℃) 27,67
Kadar air rata-rata (%) 63
Kandungan organik rata-rata ( %) 45,47
Kandungan organik rata-rata (%) 75,15
Kualitas tanah Baik
Pola penyebaran Mengelompok
1.2. Hasil pengamatan di lingkungan vegetasi
Pengukuran Kelompok 1 Kelompok 3 Kelompok 5
x ̃ (gr/m2) 1,28 6,72 1,12
Kelembaban (%) 6,5 2 3
pH 6 6,7 6
Suhu (℃) 29 30 29
Kadar air (%) 52 25 28
Kandungan organik (%) 12,5 5,3 13,8
Kandungan anorganik (%) 87,5 94,6 86,2
x ̃ seluruh plot (gr/m2) 3,04
S2 22,94
S2/X 8,23
Bulk Density 1,16
Porositas (%) 55,92
Suhu rata-rata (℃) 29,3
Kadar air rata-rata (%) 35
Kandungan organik rata-rata (%) 10,53
Kandungan anorganik rata-rata (%) 89,3
Kulitas tanah Cukup baik
Pola penyebaran Mengelompok
2. Pembahasan
Pengamatan ini dilakukan dengan metoda penyemprotan formalin dan metoda sortir tangan. Dari hasil yang didapatkan, metode sortir dengan tangan lebih efektif karena jumlah cacing tanah sangat sedikit dan ukuran cacing tanah relatif kecil, oleh karena diperlukan pencarian sebih teliti yaitu langsung disortir dengan tangan. Cacing tanah yang ditemukan umumnya pada kedalaman 10 cm pertama. Hal ini diakibatkan karena struktur tanah yang keras dan berbatu sehingga tempat tersebut menjadi lingkungan yang kurang baik bagi cacing tanah.
Cacing tanah yang ditemukan, hanya berada pada kedalaman 10 cm pertama. Pada kedalaman selanjutnya yaitu kedalaman 20 cm dan 30 cm tidak lagi ditemukan adaya cacing tanah. Hal ini dikarenakan pada kedalaman 20 cm dan 30 cm, tekstur tanahnya liat dan lebih keras, serta terdapat batu beton, porositasnya kecil sehingga menyebabkan tempat ini merupakan tempat yang buruk bagi cacing tanah. Pada kedalaman 10 cm pertama kondisi tanah masih gembur, kandungan bahan organik dan anorganiknya cukup baik sehingga memungkinkan cacing untuk hidup. Berdasarkan kedalaman ditemukannya, maka cacing yang ditemukan termasuk tipe epigeik, yaitu kelompok cacing tanah yang hidup pada permukaan tanah.
Pada pengamatan di lingkungan non vegetasi, di dapatkan kerapatan biomassa rata-rata dekomposer tiap meter hanya 3,55 gr/m^2. Hasil ini menunjukkan bahwa tanah tersebut telah tercemar atau kurang subur. Hal ini dikarenakan jumlah dekomposer yang dalam hal ini adalah cacing tanah populasinya sangat sedikit. Minimnya jumlah cacing tanah ini mungkin dikarenakan oleh struktur tanah yang keras dan minim unsur bahan organik, selain itu suhu dan pH tanah ditempat itu tidak sesuai untuk kerapatan biomassa populasi cacing tanah.
Hasil yang tidak jauh berbeda juga didapatkan pada perhitungan kerapatan biomassa dekomposer di lingkungan vegetasi didapatkan kerapatan biomasa hanya 3,04 gr/m2 . dari hasil ini juga menunjukkan kualitas tanah di tempat ini kurang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kerapatan biomassa cacing tanahdi tempat ini juga tidak jauh berbeda dengan lingkungan non vegetasi, antara lain kandunagn bahan organik pada tanah dan tekstur tanah.
Salah satu Ciri-ciri tanah yang sehat adalah populasi organismenya beragam dan aktif serta memiliki dalam jumlah tinggi residu yang relatif segar sebagai sumber makanan organisme (Magdoff, 2001).
Dari hasil pengamatan dan perhitungan, didapatkan nilai dari faktor-faktor fisik pada tanah yang diamati baik di lingkungan vegetasi maupun di lingkungan non vegetasi. Banyak peneliti telah mengembangkan indikator kesehatan tanah dengan mengukur berbagai sifat tanah dan menghubungkannya dengan praktek pengelolaan yang berbeda, produktivitas, kualitas lingkungan atau tingkat serangan penyakit tanaman. Doran et. al. (1996 ) menyajikan daftar sifat-sifat tanah yang dapat mempengaruhi kualitas dan fungsi ekologi tanah. Misalnya kerapatan ruang (bulk dencity), infiltrasi dan kapasitas memegang air, C organic dan N total, daya hantar listrik, pH, hara tersedia, dan pengukuran aktivitas dan biomassa mikrobia. (van Bruggen dan Semenov, 2000).
Untuk nilai kelembaban tanah di lingkungan vegetasi terdapat sedikit perbedaan dengan kelembaban tanah di lingkungan non vegetasi namun nilai selisihnya tidak terlalusignifikan. Pada lingkungan non vegetasi kelembaban tanahnya sedikit lebih tinggi dari tanah di lingkungan vegetasi. Hal ini dapat diakibatkan perbedaan tekstur tanah sehingga kemampuan tanah untuk mengikat air di kedua tempat ini juga berbeda.
Derajat keasaman atau pH tanah di lingkungan vegetasi dan non vegetasi menunjukkan perbedaan meski nilainya juga tidak jauh berbeda. Pada lingkungan non vegetasi pH tanahnya sedikit lebih asam. Perbedaan pH ini dapat diakibatkan oleh perbedaan kandungan organik tanah.
Faktor fisik lain yang diamati adalah kandungan organik dan anorganik tanah. Dari hasil perhitungan, kandungan organik tanah jauh lebih sedikit dibandingkan kandungan anorganik tanah. Hal ini sangat wajar, karena sebagian besar tanah di susun oleh lapisan pasir dan bebatuan. Selain itu, minimnya jumlah populasi cacing tanah telah menunjukkan bahwa ketersediaan bahan organik di tanah tersebut memang kecil jumlahnya. Hal ini menguatkan pernyataan bahwa tanah yang sehat adalah tanah yang memiliki dalam jumlah tinggi bahan organik yang terhumifikasi untuk mengikat air dan muatan negatif untuk pertukaran kation (Magdoff, 2001).
Selain itu kadar air tanah di kedua tempat (vegetasi dan non vegetasi) tersebut juga terdapat perbedaan meskipun hal tersebut tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan dekomposer. Di lingkungan non vegetasi kandungan air pada tanahnya lebih tinggi daripada tanah di lingkungan vegetasi.
Suhu tanah rata-rata di kedua lingkungan tersebut terdapat perbedaan. Suhu tanah di lingkungan vegetasi sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan suhu di lingkungan non vegetasi. Pengaruh suhu seharusnya tidak menjadi masalah bagi pertumbuhan cacing tanah, karena suhu di kedua tempat tersebut masih termasuk ke dalam suhu ideal pertumbuhan cacing tanah yaitu berkisar antara 20-30 derajat celsius.
Untuk tekstur tanah yang diamati, seluruhnya bertipe tanah liat dan tanah liat berpasir. Hal ini juga merupakan salah satu penghambat pertumbuhan dekomposer khususnya cacing tanah. Tanah liat bertekstur keras dan sangat padat sehingga sulit untuk ditempati sebagai tempat tinggal bagi cacing tanah.
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan terdapat perbedaan kualitas tanah di kedua vegetasi ini. Kualitas tanah pada kawasan non vegetasi dikatakan baik karena kepadatan biomassa cacing tanah pada kawasan ini lebih tinggi daripada kawasan bervegetasi. Dengan ditemukannya biomassa cacing tanah yang banyak, berarti tanah tersebut memiliki faktor-faktor pembatas yang diperlukan cacing untuk hidup. Faktor-pembatas ini merupakan faktor-faktor yang dibutuhkan suatu makhluk hidup untuk dapat hidup dan beradaptasi di suatu daerah. Cacing tanah rentan sekali terhadap perubahan lingkungan, artinya ia tidak dapat hidup di lingkungan yang buruk yaitu lingkungan yang berbatu dan memiliki sedikit kandungan organik.
Pada kedua vegetasi ini, pola penyebaran individunya tidak terdapat perbedaan. Berdasarkan hasil analisis data, pola penyebaran individu pada kedua kawasan tersebut hasilnya lebih dari 1 yang berarti pola penyebaran individu tersebut adalah mengelompok. Penyebaran individu secara mengelompok merupakan hal yang umum terjadi di alam. Individu-individu menunjukkan derajat pengelompokkan karena adanya kebutuhan yang bersamaan akan faktor lingkungannya (Setiadi,1989).
Keberadaan populasi cacing tanah kini juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Keberadaan cacing tanah sebagai dekomposer sangat penting terutama dalam meningkatkan kesuburan tanah. Pembangunan yang dilakukan manusia telah banyak merusak lingkungan dan habitat cacing tanah. Singkatnya, sistem biologi dengan menggunakan cacing tanah sebagai bio indikator sangat sensitif terhadap degradasi yang baru terjadi sekalipun, sehingga perubahan status biologi dari sistem tersebut dapat menjadi peringatan dini atas kemunduran lingkungan dan mendorong kita untuk bereaksi sebelum kerusakan yang tidak dapat dipulihkan terjadi (Pankhurst dan Doube, 1997).
BAB V
KESIMPULAN
Tanah di lingkungan vegetasi di sekitar Laboratorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memiliki kualitas kurang baik.
Cacing tanah dapat digunakan sebagai bio indikator kualitas tanah
Faktor fisik tanah mempengaruhi populasi dekomposer
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. (2000). Konservasi tanah dan air. IPB Press.
Herrick, J. E. (2000). Soil Quality: an indicator of sustainable land management ?. Applied Soil Ecology. (15) 75-83.
Magdoff, F. (2002). Concept, componen and strategies of soil health in agroecosystems. Journal of Nematology 33 (4); 169-172.
Ali Hanifah,K, Iswandi Anas, Napoleon dan Ghofar.2005. Biologi Tanah. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Pankhurst, C. E., B. M. Doube and V.V. S. R. Gupta. (1997). Biological indicators of soil health: Synthesis. dalam C. Pankhurst, B.M. Doube and V.V.S.R. Gupta (eds). Biological Indikators of Soil Health. UK. 419-435. CAB International.
Setiadi, D. dan P.D. Tjondronegoro. 1989. Dasar-dasar Ekologi. Bogor : IPB Press
Bird watching di Kebun Raya Bogor
Pagi itu tepatnya pukul lima pagi, aku, Heri dan Ka’Mbul telah berkumpul di depan kampus bersiap untuk berangkat menghadiri undangan dari “Burung Indonesia” dalam acara Birdwathching keanekaragaman burung di Kebun Raya Bogor. Kami berangkat empat orang, namun Yogi yang di tunggu belum juga bergabung di tengah-tengah kami. Acara di mulai pukul setengah tujuh pagi, dan waktu tempuh dari kampus ke bogor sekitar satu jam. Kalau Yogi yang ditunggu belum datang juga dalam waktu setengah jam, maka kemungkina kami bisa datang terlambat dalam acara tersebut. Akhirnya, empatpuluh lima menit kemudian Yogi hadir dan kami ber empat segera bergegas berangkat ke lokasi undangan. Jalanan menuju Bogor cukup lancar dan kami yakin bisa hadir tepat waktu sebelum pengamatan dimulai.
Kami tiba di Bogor sekitar pukul enam lebih empat puluh menit. Kami sedikit lega karena merasa paling lama telat lima belas menit. Namun karena kami berada di ruas lalan yang berseberangan dengan pintu gerbang Kebun Raya, maka kami terpaksa memutar mencari jalan masuk ke lokasi. Tanpa diduga kami terjebak di pasar yang sangat ramai dan padat sehingga perjalana kami terhenti seketika itu. Arah jalan keluar pasar tersebut menjauhi dari lokasi Kebun Raya berada, dan karena bukan orang Bogor, kami tidak tahu ke arah mana jalanmenuju pintu gerbang Kebun Raya. Akhirnya kami bertanya kepada salah satu polisi lalu lintas yang tengah bekerja ekstra pagi itu untuk menjamin kelancaran lalu lintas di kota Bogor pagi itu. Setelah itu tibalah kami di gerbang masuk pukul tujuh tepat dan di luar perkiraan, kami telat setengah jam.
Sampai di tempat pengamatan, kami teringat akan alat yang umum gunakan dalam pengamatan burung yaitu binokular dan buku panduan. Ternyata kedua alat tersebut tidak kami bawa dan kami ber empat hanya bisa tersenyum. Akhirnya kami sepakat untuk pengamatan mengandalkan mata tanpa literatur. Dengan percaya diri kami melihat jenis burung yang pertama, dan burung ini sudah umum dijumpai yaitu Tekukur. Jumlahnya tiga ekor, dan langsung saja di catat. Kami merasa tidak akan ada masalah mengenai jenis burung yang akan di jumpai, karena beranggapan jenis burung yang berada di tempat pengamatan merupakan jenis-jenis burung kota yang sering dijumpai. Dan hal itu semakin terbukti setelah empat jenis burung berikutnya dengan mudah kami identifikasi, yaitu Kowak malam, Kutilang, Burung madu sriganti dan gelatik.
Di perjalanan kami bertemu dengan kelompok pengamat burung dari IPB dan bertukar informasi mengaenai jenis burung yang mereka temui. Ternyata jenis burung yang mereka temui tidak banyak berbeda dengan yang kami temui. Anak-anak IPB membawa alat lengkap dengan kamera, dan mereka tidak menemukan lebih banyak burung dari kami. Dalam hati ku berkata “sebuah kebanggaan atau sebuah ironi, mampu bersaing dengan pengamat burung IPB”.
Dengan rasa lapar karena belum sarapan, kami lanjutkan mengamati burung mengitari Kebun Raya Bogor. Kami temukan lagi beberapa burung yang umum seperti Burung gereja, Bondol dan Perenjak. Tak terasa sudah hampir tiga jam kami berkeliling mengamati burung di Kebun Raya, dan kami memutusakn untuk kembali ke tempat pertemuan setelah pengamatan. Di sana telah menunggu orang-orang Burung Indonesia. Kami berkumpul untuk sharing dan berdiskusi. Kami tidak menetahui bahwa pengamatan kali ini merupakan perlombaan yang merupakan rangkaian acara ulang tahun Burung Indonesia. Pemenang akan diberi hadiah yang sangat menarik, dan tentu saja kami merasa agak kecewa karena pengamatan kali ini tidak kami maksimalkan. Namun demikian kami berhasil mengamati empat belas jenis burung dan satu jenis burung yang tidak teridentifikasi.
Walaupun nanti pada saat pengumuman pemenang tim UIN tidak menang, tapi kami cukup bangga. Dengan alat seadanya kami dapat bersaing dengan para ahli burung dari berbagai universitas maupun LSM.
Pemenag lomba pengamatan burung akan diumumkan dua hari kemudian dan merupakan hari puncak perayaan ulang tahun Burung Indonesia yang juga akan diselenggarakan di Kebun Raya Bogor. Semoga saja tim pengamat UIN menang, doakan ya.
Kami tiba di Bogor sekitar pukul enam lebih empat puluh menit. Kami sedikit lega karena merasa paling lama telat lima belas menit. Namun karena kami berada di ruas lalan yang berseberangan dengan pintu gerbang Kebun Raya, maka kami terpaksa memutar mencari jalan masuk ke lokasi. Tanpa diduga kami terjebak di pasar yang sangat ramai dan padat sehingga perjalana kami terhenti seketika itu. Arah jalan keluar pasar tersebut menjauhi dari lokasi Kebun Raya berada, dan karena bukan orang Bogor, kami tidak tahu ke arah mana jalanmenuju pintu gerbang Kebun Raya. Akhirnya kami bertanya kepada salah satu polisi lalu lintas yang tengah bekerja ekstra pagi itu untuk menjamin kelancaran lalu lintas di kota Bogor pagi itu. Setelah itu tibalah kami di gerbang masuk pukul tujuh tepat dan di luar perkiraan, kami telat setengah jam.
Sampai di tempat pengamatan, kami teringat akan alat yang umum gunakan dalam pengamatan burung yaitu binokular dan buku panduan. Ternyata kedua alat tersebut tidak kami bawa dan kami ber empat hanya bisa tersenyum. Akhirnya kami sepakat untuk pengamatan mengandalkan mata tanpa literatur. Dengan percaya diri kami melihat jenis burung yang pertama, dan burung ini sudah umum dijumpai yaitu Tekukur. Jumlahnya tiga ekor, dan langsung saja di catat. Kami merasa tidak akan ada masalah mengenai jenis burung yang akan di jumpai, karena beranggapan jenis burung yang berada di tempat pengamatan merupakan jenis-jenis burung kota yang sering dijumpai. Dan hal itu semakin terbukti setelah empat jenis burung berikutnya dengan mudah kami identifikasi, yaitu Kowak malam, Kutilang, Burung madu sriganti dan gelatik.
Di perjalanan kami bertemu dengan kelompok pengamat burung dari IPB dan bertukar informasi mengaenai jenis burung yang mereka temui. Ternyata jenis burung yang mereka temui tidak banyak berbeda dengan yang kami temui. Anak-anak IPB membawa alat lengkap dengan kamera, dan mereka tidak menemukan lebih banyak burung dari kami. Dalam hati ku berkata “sebuah kebanggaan atau sebuah ironi, mampu bersaing dengan pengamat burung IPB”.
Dengan rasa lapar karena belum sarapan, kami lanjutkan mengamati burung mengitari Kebun Raya Bogor. Kami temukan lagi beberapa burung yang umum seperti Burung gereja, Bondol dan Perenjak. Tak terasa sudah hampir tiga jam kami berkeliling mengamati burung di Kebun Raya, dan kami memutusakn untuk kembali ke tempat pertemuan setelah pengamatan. Di sana telah menunggu orang-orang Burung Indonesia. Kami berkumpul untuk sharing dan berdiskusi. Kami tidak menetahui bahwa pengamatan kali ini merupakan perlombaan yang merupakan rangkaian acara ulang tahun Burung Indonesia. Pemenang akan diberi hadiah yang sangat menarik, dan tentu saja kami merasa agak kecewa karena pengamatan kali ini tidak kami maksimalkan. Namun demikian kami berhasil mengamati empat belas jenis burung dan satu jenis burung yang tidak teridentifikasi.
Walaupun nanti pada saat pengumuman pemenang tim UIN tidak menang, tapi kami cukup bangga. Dengan alat seadanya kami dapat bersaing dengan para ahli burung dari berbagai universitas maupun LSM.
Pemenag lomba pengamatan burung akan diumumkan dua hari kemudian dan merupakan hari puncak perayaan ulang tahun Burung Indonesia yang juga akan diselenggarakan di Kebun Raya Bogor. Semoga saja tim pengamat UIN menang, doakan ya.
Langganan:
Komentar (Atom)